Kisah Nelayan Mundam, Berjuang di Tengah Laut Bermuara di Kolam Bioflok

Kisah Nelayan Mundam, Berjuang di Tengah Laut Bermuara di Kolam Bioflok
Budidaya ikan oleh Kelompok Nelayan Mundam didukung fasilitas PLTS ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.
A-AA+A++

Oleh: Mukhtiar
Penulis tamu untuk Glasial.id


Angin lembut dari laut Dumai perlahan membelai. Ombak menggulung tipis—seolah berlari—saling kejar-mengejar, lalu pecah di bibir pantai. Deru pawana itu berpadu dengan deburan yang menemani kesunyian.

Seperti itulah udara dingin khas laut yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka, siang itu, 14 September 2025.

Cuaca di Kota Dumai biasanya cukup menyengat. Namun siang itu tampak begitu mendung. Suasana pesisir di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, terasa begitu tenang. Damai.

Beberapa meter dari bibir pantai, berdiri sebuah bangunan dari rangka baja ringan. Di dalamnya ada tiga kolam terpal berbentuk lingkaran (bioflok). Ikan-ikan kecil menari riang di antara gelembung-gelembung air dari aerator.

Di sana tampak dua pria sedang memberi pakan. Salah satunya bernama Azwan. Dia memperkenalkan diri di sela-sela perbincangan kami. Ayah satu anak, yang berprofesi sebagai nelayan itu agak canggung di awal perbincangan.

Mungkin karena ini pertemuan pertama saya dengan Azwan. Lagi pula, “jarang ada wartawan yang meliput di tempat terpencil seperti ini,” ujarnya agak terkekeh. Namun, bagi pria 26 tahun itu, ia sangat menikmati pekerjaan ini—membudidayakan ikan sejak 2023 lalu.

Di kolam ikan itu berisi tiga jenis ikan; patin, lele serta nila jenis payau. Luas tempat pembibitan itu sekitar enam kali enam meter.

Azwan tak sendiri. Pembudidayaan ikan ini dilakukan bersama rekan-rekanya yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Mundam Jaya. Jumlah anggotanya memang terbatas, tapi semuanya warga tempatan yang berprofesi sebagai nelayan tangkap di perairan Dumai.

Azwan, salah seorang nelayan yang tergabung di Kelompok Nelayan Mundam. Ia bersama nelayan lainnya mengelola kolam budidaya ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Azwan lalu menceritakan pengalamanya dari seorang nelayan tangkap hingga bisa membudidayakan ikan seperti saat ini. Bermula pada 2019 silam, Azwan mencoba mengikuti jejak pendahulunya. Baginya profesi nelayan tangkap, dulu begitu menjanjikan dalam mendapatkan cuan.

Saat itu, Azwan masih kerja serabutan. Ia menyaksikan bagaimana hasil ikan tangkap dibawa dari kapal nelayan lalu ke pembeli. Azwan pun akhirnya ikut melaut. Pekerjaan mencari ikan bisa berhari-hari. Tergantung seberapa banyak ikan tangkap yang dihasilkan. “Tergantung banyak tangkap. Kita inikan berkelompok,” kata Azwan.

Biasanya Azwan bersama kelompoknya mencari ikan di sekitaran Pulau Payung. Secara geografis masih masuk wilayah perairan Dumai berdekatan dengan Pulau Rupat Bengkalis. Tak jarang perburuan ikan juga hingga ke perairan lebih jauh.

Pengalaman menjadi nelayan ikan tangkap sudah cukup bagi Azwan. Cuaca dan air pasang laut menjadi tantangan utamanya. Tingginya intensitas hujan di saat perubahan musim, membuat laut menjadi lebih ekstrim, sekaligus menjadi saksi perjuangan kelompok nelayan Mundam Jaya di tengah samudera.

Bagi mereka—saat langit cerah berubah gelap—itu adalah alarm. Berapa saat kemudian hujan turun begitu deras diikuti angin kencang. Jarak pandang kian terpangkas. Kondisi ini berlangsung lebih kurang 20 menit. Di tengah iklim tak menentu, cuaca tak lagi bisa ditebak. Tapi bagi Azwan hal ini biasa. Setiap pekerjaan dimanapun pasti ada resikonya.

Penghasilannya, kata Azwan, tak menentu. Jika dikalkulasikan per bulan dapat lah sekitar Rp1,5 hingga Rp2 juta. Tapi usaha kerja kerasnya itu tak jarang ia barengi kerja tambahan—menjadi kuli bangunan. Alasan ayah anak satu ini demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Hasil tangkap tak menentu. Kalau lagi banyak alhamdulillah. Kalau sudah musim hujan, apalagi kalau cuaca ekstrim, terpaksa tak melaut,” ungkap Azwan.

Kisah yang sama juga dituturkan Syafrizal, 57 tahun. Pria berambut putih yang sudah berusia setengah abad lebih ini juga bagian dari kelompok Mundam Jaya. Pekerjaannya sebagai nelayan tangkap jauh lebih awal dari Azwan. Perihal tantangan cuaca saat melaut juga diakuinya, merupakan bagian suka duka. Suka tak suka, ya harus diarungi.

Kelompok Nelayan Mundam juga membudidayakan rumput azolla untuk kebutuhan pakan ikan ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Belakangan ia gelisah kaena hasil ikan tangkap kian berkurang. Kapal bermesin 16 GT yang ditumpanginya harus lebih jauh lagi mengarungi lautan demi perburuan ikan.

Tapi kini Syafrizal sudah tak sekuat dulu. Semangat untuk mencari nafkah keluarga menjadi dorongan kuat setiap ada ajakan melaut. Sempat terbesir di benaknya, “sampai kapan saya harus pekerjaan menjadi nelayan tangkap.”

Masalah lain juga timbul ketika Menteri Perhubungan RI menetapkan perairan Dumai menjadi jalur pelayaran internasional di Indonesia. Akses jalur nelayan tangkap yang selama ini bebas di mana pun berlabuh, kini menjadi terbatas.

Melalui Keputusan nomor 818 tahun 2018 tersebut berisi regulasi mengatur alur pelayaran, sistem rute, prosedur lalu lintas, serta zona labuh kapal demi menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas maritim di kawasan tersebut.

Namun, fakta terjadi secara implementasi, nelayan setempat menghadapi keterbatasan ruang gerak yang berpengaruh pada aktivitas melaut dan penangkapan ikan.

Pada 2023, ceritanya menjadi berbeda, ketika PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (KPI RU) II Dumai menawarkan bantuan untuk nelayan tangkap di Kelurahan Mundam Kecamatan Medang Kampai Dumai.

Salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang ditawarkan perusahaan minyak nasional tersebut adalah budidaya ikan air tawar. Tawaran itu pun disambut positif nelayan yang kemudian membentuk KUB Mundam Jaya.

Mereka pun mulai diberi pemahaman cara membudidayakan ikan air tawar. Kemudian pelatihan bagaimana cara membudidayakan ikan air tawar. Mulai dari pemberian pakan, menggunakan aerator hingga pemeliharaan kolam agar tetap bersih.

“Khusus pendapatan dari budidaya ikan air tawar ini kami bisa mendapatkan tambahan rezeki hingga Rp2 juta. Artinya jika digandakan dengan penghasilan melaut menjadi dua kali lipat,” ujar Azwan.

“Bedanya, usaha bersama dari budidaya ikan ini tak lagi perlu bertaruh nyawa ke laut demi tangkapan ikan yang banyak. Kami tak perlu lagi berhari-hari melaut. Belum lagi risiko,” tambahnya yang diamini Syafrizal.

Karena melayut sudah mendarah danging, Azwan dan Syafrizal, tetap harus turun ke ujung pelabuhan, melepas tambang di tunggul, untuk beranjak ke tengah laut menangkap ikan. Tapi pekerjaannya tentu tidak se-ektrem dulu. Hanya sekedarnya saja. Sebab, mereka sudah punya kolam budidaya, sebagai gantungan ekonomi baru keluarganya.

Area Manager Communication Relation dan CSR PT KPI RU II Dumai, Agustiawan menjelaskan bantuan kolam ikan ini diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat nelayan. Pembudidayaan ikan tawar dengan memanfaatkan bahan terpal yang disebut dengan bioflok.

Selain itu, bantuan program pembudidayaan ikan tersebut dimaksudkan untuk menambah keahlian warga dalam mendatangkan cuan yang selama ini mengandalkan hasil laut.

Selama ini menurut Agustiawan, profesi nelayan tangkap sangat tergantung dengan kondisi cuaca. Apabila musim angin utara yang menyebabkan timbulnya gelombang tinggi air laut, nelayan memilih melabuhkan jangkarnya di dermaga. praktis pada saat ini nelayan tidak mendapatkan penghasilan. Sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

“Kita melihat ini harus ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan nelayan. Karena saat musim angin utara ini nelayan tak punya pilihan selain istirahat. Lalu Pertamina khususnya KPI RU II Dumai mencarikan solusi membantu pembuatan kolam untuk membudidayakan ikan air tawar. Sehingga nelayan tetap bisa beraktivitas dan menjadi sumber pendapatan baru,” kata Agustiawan.

Untuk mendukung penerangan KUB Mundam Jaya, KPI RU II Dumai juga memberikan bantuan Pembangkit Tenaga Surya (PLTS). Kapasitas panel surya 4,4 Kwp dan baterai 5 kwh. Selain penerangan, panel surya juga difungsikan untuk mengaktifkan mesin aerator dan CCTV di kawasan KUB tersebut.

“Program bantuan TJSL dari KPI RU II Dumai ini benar-benar dimanfaatkan nelayan dengan penuh semangat. Mereka juga menyusun jadwal piket petugas pembudidayaan sistem sif,” papar Agustiawan.

Ditempat terpisah, Iwed Mulyani selaku Community Development Specialist CSR Kilang Pertamina Dumai menyatakan tim dari KPI RU II Dumai juga memperkenalkan pakan tambahan berupa azolla kepada kelompok nelayan mundam.

Suasana di salah satu pelabuhan di Kota Dumai. Pelabuhan ini juga digunakan bagi nelayan untuk menambat perahu mereka ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Disebutkan azolla bisa menjadi pakan ternak alternatif. Tapi itu bukan sekedar pakan biasa. Melainkan kandungan proteinnya sangat kaya nutrisi bagi ikan. “Keuntungan lainya azolla murah, mudah didapat dan berkembang sendirinya di kolam ikan,” jelas Iwed.

Lurah Mundam Adi Afriyanto menyatakan apresiasinya atas bantuan yang telah diberikan PT KPI RU II Dumai, khususnya kepada nelayan ikan tangkap di wilayahnya. Bantuan berupa budidaya ikan air tawar dan peralatan pendukung termasuk PLTS sangat membantu usaha tambahan.

Praktis nelayan tergabung dalam KUB Mundam Jaya pun bisa menaikan taraf hidup lebih baik lagi dari sebelumnya. “Mudah-mudahan juga setelah mendapatkan pelatihan dan bantuan peralatan budidaya bisa menjadi nelayan mandiri,” ungkap Lurah Mundam.

Secara geografis, Mundam merupakan satu dari empat kelurahan Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai. Luasan wilayah mencapai 38 kilo meter persegi. Jumlah penduduk mencapai lima ribu jiwa lebih. Sebagian besar masyarakat Mundam berprofesi petani dan nelayan.