Warisan Hijau Bandar Bakau, Benteng Abrasi, Penyangga Ekonomi

Warisan Hijau Bandar Bakau, Benteng Abrasi, Penyangga Ekonomi
Pohon mangrove yang baru tumbuh || Foto: Dani Kancil.
A-AA+A++

Oleh: R. Ariyanto
Penulis tamu untuk Glasia.id


“Lihat itu, ada ular…” ujar seorang pemuda sambil menunjuk ke arah batang pohon bakau di depannya. Sekilas tak terlihat, tapi jika diperhatikan, seekor ular hitam tampak melingkar rapi, menyatu dengan warna batang mangrove.

Pemuda itu adalah Fiki Abdurahman. Ia mengenali reptil tersebut sebagai ular beludak, jenis ular berbisa yang kerap ditemukan di kawasan pesisir. Bukan cuma ular, kehidupan liar di hutan mangrove ini memang terasa begitu dekat. Di sela lumpur, seekor kepiting kecil terlihat mengendap-ngendap sebelum akhirnya menghilang ke dalam air.

Tak jauh dari situ, ikan tembakul atau gelodok juga mencuri perhatian. Ikan unik dengan mata menonjol mirip kodok itu bertengger santai di akar bakau yang mencuat dari lumpur. Pemandangan seperti ini sudah jadi hal biasa bagi Fiki sejak kecil.

“Di hutan mangrove ini kami habiskan masa kecil dengan mencari ikan dan kerang sepetang. Di sini sumber kehidupan,” kenang Fiki.

Kini, Fiki dipercaya sebagai Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Kelompok Tani Hutan (KTH) Edu-Ekowisata Bandar Bakau Dumai. Tempat yang dulu jadi ruang bermainnya, kini ia jaga dan kembangkan sebagai kawasan edukasi dan wisata alam.

Bandar Bakau Dumai sendiri terletak di Jalan Nelayan Laut, Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Riau. Kawasan mangrove seluas sekitar 24 hektare ini menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

Video: Tim Kreatif Glasial.id

Beragam jenis mangrove tumbuh subur di sini, mulai dari bakau minyak (rhizophora apiculata), pedada, hingga api-api. Keanekaragaman ini menjadikan Bandar Bakau bukan hanya tempat wisata, tapi juga pusat edukasi dan riset lingkungan.

Suasana di kawasan ini terasa begitu menenangkan. Deretan pohon mangrove menjulang tinggi, sementara suara kicau burung bersahutan di antara rimbunnya daun hijau. Angin yang berhembus pelan membuat dedaunan seolah saling bersentuhan, menciptakan harmoni alami yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota.

Bagi siapa saja yang ingin rehat sejenak dari panas dan kesibukan Kota Dumai yang dikenal sebagai Kota Minyak, Bandar Bakau bisa jadi pilihan tepat. Tempat ini menawarkan pengalaman sederhana: menikmati alam, melihat kehidupan liar dari dekat, dan merasakan kembali hubungan manusia dengan lingkungan.

Fiki tidak sendiri mengelola KUB Bandar Bakau Dumai. Ia bersama belasan pemuda lainnya mengelola usaha coffee shop bernama Titik Reda. Ada juga tempat pangkas rambut, Resto Redam Pilu, dan homestay yang letaknya di tepian Selat Rupat.

Masyarakat peduli hutan bakau menanam bibit mangrove di kawasan Hutan Bandar Bakau Dumai || Foto: Evan untuk Glasial.id.

Di homestay tersebut sudah tersedia listrik. Juga disediakan jaring di atas perairan yang Instagramable. Pengunjung bisa berfoto dengan latar kapal-kapal yang mengapung di tengah lautan.

Siapa kira semua itu ternyata sebagian besar bahan bangunan yang dibuat di Bandar Bakau berasal dari bahan daur ulang.

“Kami membuatnya dengan modal seadanya. Kami beli kayu dari perahu bekas, palka (ruang muat, red) kapal, lalu kami olah jadi seperti sekarang,” ujarnya sambil menunjukkan dinding Coffee Shop Titik Reda yang dari kapal bekas.

Sebagian bahan bangunan juga didapat dari kayu bekas yang terbawa air pasang. “Bisa dibilang 80 persen recycle (daur ulang) lah. Tidak ada merusak apalagi menebang dari bakau di sini,” ujarnya.

Dari sejumlah unit usaha ini sudah mendatangkan cuan yang lumayan. Pada hari biasa, Fiki mengatakan bisa memperoleh Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan. “Itu pendapatan bersihnya,” ujarnya.

Potensi ekonomi dari kawasan mangrove ternyata tidak datang begitu saja. Fiki Abdurahman memahami betul hal itu. Baginya, semua peluang yang kini mulai terlihat di Hutan Mangrove Bandar Bakau berawal dari satu hal penting: pemulihan ekosistem.

Menurut Fiki, kawasan mangrove ini bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga benteng alami Kota Dumai dari ancaman banjir rob atau pasang keling yang semakin tidak menentu. Ia bahkan merasakan sendiri bagaimana air pasang kini semakin sering masuk hingga ke wilayah kota.

Kesadaran itu yang mendorong Fiki untuk turun langsung merawat hutan bakau. Meski berasal dari latar belakang ekonomi sederhana, ia bersama kawan-kawannya tetap berupaya menjaga kawasan tersebut dengan tenaga dan waktu yang mereka punya.

“Yang saya rasakan banjir rob makin di luar nalar, sudah sampai kota. Makanya saya tergerak untuk ikut merawat bakau, mempertahankan benteng alam. Harus ambil bagian untuk bisa menjaga warisan ini. Kami rata-rata finansial menengah ke bawah, jadi untuk menjaga ini hanya bisa dengan pikiran dan tenaga yang bisa kita luangkan,” katanya.

Perjalanan Fiki tentu tidak selalu mulus. Ia sempat dianggap aneh oleh orang sekitar, bahkan orang tuanya sendiri sempat khawatir melihat aktivitasnya yang sering bolak-balik ke hutan mangrove.

“Apo yang diko buat di sano tu (apa yang kamu buat di sana, red)?” ujar Fiki menirukan pertanyaan orang tuanya waktu itu.

Namun seiring waktu, hasil kerja keras mulai terlihat. Selain menjaga lingkungan, upaya mereka juga mulai menggerakkan ekonomi lokal dan melibatkan lebih banyak anak muda. Dari situlah dukungan mulai berdatangan, termasuk dari keluarga.

“Karena dari hati yang menggerakkan, tidak ada keterpaksaan. Kawan-kawan juga sama. Itu yang membuat bisa sampai di titik sekarang ini,” ujarnya.


Semangat yang dibangun Fiki dan para pemuda ini tidak lepas dari sosok Darwis Mohd Saleh atau yang akrab disapa Tok Darwis.

Ia merupakan Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bandar Bakau Dumai yang menaungi berbagai kegiatan, mulai dari UMKM hingga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dengan total sekitar 60 anggota.

Tok Darwis punya cerita panjang tentang kawasan ini. Ia masih ingat betul bagaimana sekitar 23 tahun lalu hutan mangrove di pesisir Dumai mengalami kerusakan parah akibat aktivitas industri.

Padahal, kawasan itu dulu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir, bahkan menyimpan cerita legenda Putri Tujuh yang dipercaya sebagai asal-usul Kota Dumai.

Berangkat dari keprihatinan itu, Tok Darwis bersama masyarakat mulai melakukan rehabilitasi mangrove sejak tahun 2001. Prosesnya tidak mudah, tetapi dilakukan secara konsisten. Hasilnya, luas kawasan yang awalnya hanya sekitar 2,6 hektare kini berkembang menjadi 24 hektare.

Sempat menjadi destinasi wisata favorit, Bandar Bakau juga pernah mengalami masa sulit saat pandemi COVID-19. Aktivitas wisata berhenti total, kawasan menjadi sepi.

Namun di tengah kondisi itu, Tok Darwis tetap bertahan. Ia bahkan mengumpulkan kayu-kayu sisa dari pasang laut untuk memperbaiki jembatan dan fasilitas yang rusak.

Tak jarang, ia harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli material perbaikan. Semua dilakukan dengan harapan kawasan ini bisa bangkit kembali suatu hari nanti.

Meski sempat ragu mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata karena khawatir dengan masalah sampah, titik terang akhirnya datang pada akhir 2022. Tok Darwis bertemu dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan mengusulkan pengelolaan mangrove secara lebih profesional.

Gayung pun bersambut. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PHR bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) mulai terlibat dalam pengembangan kawasan ini. Berbagai fasilitas dibangun, mulai dari jalur pedestrian beton sepanjang 300 meter hingga panggung teater.

“Kehadiran PHR menguntungkan kami. Contoh, kami butuh polibag untuk penyemaian bibit, hubungi PHR, langsung disiapkan,” ujar Tok Darwis.

Darwis Moh. Saleh, Ketua Kelompok Tani Hutan Bandar Bakau Dumai || Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Kini, Bandar Bakau kembali hidup. Bahkan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mulai menarik perhatian wisatawan dan peneliti dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Dampaknya pun terasa langsung bagi masyarakat sekitar. Selain menjaga lingkungan pesisir, kawasan ini juga membuka peluang ekonomi baru. Dari konservasi, edukasi, hingga wisata, semua tumbuh dari satu hal sederhana: kepedulian terhadap alam.

Kolaborasi pengelolaan kawasan mangrove Bandar Bakau di Dumai ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga sukses menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dalam kurun waktu hampir 1,5 tahun, kawasan ini mampu menarik sekitar 3.000 hingga 4.000 pengunjung setiap bulan. Mulai dari pelajar, wisatawan keluarga, hingga peneliti datang silih berganti menikmati suasana alam yang asri.

Menurut Darwis, dari sekitar 100 pengunjung saja, perputaran uang di Bandar Bakau bisa mencapai Rp10 juta. Angka ini berasal dari berbagai aktivitas ekonomi, seperti pembelian bibit mangrove, kuliner khas, hingga jasa penginapan. Artinya, semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan warga sekitar.

Kehadiran wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, membuat produk UMKM Kelompok Tani Hutan (KTH) Bandar Bakau ikut laris manis. Beragam olahan makanan khas hingga kerajinan seperti batik mangrove menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satu yang paling diminati adalah kuliner khas pesisir. Darwis menyebut, Sup Ikan Lomek bisa dijual hingga Rp60 ribu per porsi kepada wisatawan asing.

Tak hanya itu, buah pedada (kedabu) juga punya nilai ekonomi tinggi. Satu buah pedada bisa diolah menjadi sirup untuk enam gelas minuman, dengan harga Rp5 ribu per gelas. Artinya, satu buah saja bisa menghasilkan Rp30 ribu.

Tak berhenti di sektor kuliner, pembibitan mangrove juga menjadi sumber pemasukan yang menjanjikan. Bibit-bibit ini sering dipesan perusahaan untuk program restorasi lingkungan.

Dari sektor ini saja, Bandar Bakau bisa meraup laba hingga Rp70 juta per tahun. Menariknya, sebagian besar pendapatan tersebut kembali digunakan untuk operasional dan perawatan kawasan mangrove.

Meski begitu, Darwis menegaskan bahwa tujuan utama pengelolaan Bandar Bakau bukan semata soal keuntungan finansial. Lebih dari itu, kawasan ini menjadi ruang hidup dan “halaman bermain” bagi masyarakat pesisir yang harus dijaga bersama.

Dengan luas mencapai 24 hektare, potensi Bandar Bakau masih sangat besar untuk dikembangkan. Salah satu impian yang ingin diwujudkan adalah membangun pusat riset mangrove di Dumai, seperti yang ada di Bali. Harapannya, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat penelitian bertaraf internasional.

Dari sisi lingkungan, manfaat mangrove memang tidak bisa dianggap remeh. Git Fernando dari Tim RSF menjelaskan bahwa hutan bakau bukan hanya berfungsi sebagai penahan ombak atau pencegah abrasi. Lebih dari itu, mangrove mampu menjadi solusi ekonomi berkelanjutan tanpa merusak alam.

Selain itu, mangrove juga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim. Tanaman ini diketahui mampu menyerap karbon dioksida hingga empat kali lebih banyak dibanding hutan tropis biasa. Dengan kata lain, semakin luas kawasan mangrove, semakin besar kontribusinya dalam menekan laju pemanasan global.

Tak heran jika Bandar Bakau kini menjadi habitat yang kaya akan keanekaragaman hayati. Berbagai jenis burung, termasuk burung Raja Udang, hidup di kawasan ini. Kehadiran burung tersebut menjadi indikator bahwa ekosistem di sana cukup sehat. Selain itu, terdapat pula primata seperti lutung kokah, lutung kelabu, dan beruk yang menambah kekayaan fauna.

Untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan, RSF bersama KTH Bandar Bakau juga aktif belajar dari daerah lain. Salah satunya dengan melakukan studi banding ke Batu Bara Mangrove Park di Sumatera Utara pada Juli 2024. Kawasan tersebut dinilai berhasil mengelola wisata mangrove dengan konsep yang lebih modern.

Dengan kombinasi antara konservasi dan pemberdayaan ekonomi, Bandar Bakau Dumai perlahan menjadi contoh nyata bahwa menjaga alam bisa berjalan seiring dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Jam menunjukkan pukul 12.50 WIB saat rombongan dari Pekanbaru beranjak menuju bus. Di luar Bandar Bakau, panas menyengat dan bisingnya deru laju kendaraan langsung menyambut.

Tak terbayang 20 tahun lalu kawasan ini hanya terpampang endapan lumpur, bekas penebangan liar. Rehabilitasi hutan mangrove menjadi perhatian serius pemerintah pusat sejak lama, di tengah isu perubahan iklim dan pemanasan global.

Bandar Bakau Dumai jadi rumah bagi satwa liar || Foto: Evan untuk Glasial.id.

Peta Mangrove Nasional 2021, mencatat luas lahan mangrove di Indonesia saat ini adalah 3.364.080 hektare atau 20 persen dari total hutan bakau di dunia. Sayangnya, banyak lahan mangrove di Indonesia dalam kondisi kritis.

Makanya, Presiden Jokowi menargetkan 600 ribu hektare hutan mangrove direhabilitasi hingga akhir 2024. Itu disampaikan Jokowi saat meluncurkan Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) serta World Mangrove Center di Teluk Balikpapan, seperti dilihat dari youtube resmi Kementerian LHK yang tayang 11 Juni 2022.

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau untuk luas eksisting mangrove di Provinsi Riau pada 2021 mencapai 224.895 hektare. Ekosistem mangrove itu tersebar di tujuh kabupaten/kota yakni Kabupaten Siak, Pelalawan, Bengkalis, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai.

Sementara itu data rehabilitasi mangrove di Riau yang dirilis Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada Juni 2024 tercatat mencapai 7.162 hektare (Ha). 

Rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan kurun waktu 2021-2022 tersebar di tujuh kabupaten/kota yang ada di Riau. Pada 2021 luas mangrove yang sudah direhabilitasi sebanyak 6.320 Ha, 155 Ha berada di Kota Dumai. Kemudian tahun berikutnya rehabilitasi mangrove di Riau dilaksanakan seluas 842 Ha.

Artinya Bandar Bakau Dumai menjadi bukti keseimbangan ekosistem pesisir bisa dipulihkan. Mencegah degradasi hutan mangrove yang membawa bencana abrasi hingga rob yang menelan daratan kian parah.

Uluran tangan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) pada Bandar Bakau, turut membantu pemerintah dalam mencapai target emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) tahun 2060.

Ditambah lagi Pemerintah Kota Dumai telah meluncurkan Kurikulum Gambut dan Mangrove yang diterapkan pada tingkat SD dan SMP se-Kota Dumai. Berharap akan menumbuhkan empati generasi muda pada kondisi lingkungan mangrove.

Jadi teringat pesan Tok Darwis sebelum rombongan pulang. Lelaki itu mengajak generasi muda “viralkan” Bandar Bakau. Bukan hanya dari sisi lingkungan, namun juga budaya dan sosial.

“Saya ini generasi mesin tik. Beda dengan zaman sekarang dengan hape (gawai), buat konten kreatif. Viralkan cerita Legenda Putri Tujuh. Tunjukkan keindahan bakau, lestarikan budaya leluhur orang pesisir,” pesannya.

Tok Darwis ingin mewariskan semangat cinta alam ke anak muda. Sebab generasi muda dengan kreativitasnya diyakini mampu membawa dampak positif lebih luas lagi untuk lingkungan.

Sejatinya manusia telah banyak berutang budi kepada alam. Dengan kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita. Merawat mangrove yang lestari, menjaga masa depan anak-cucu nanti.***