Musim Kemarau dan El Nino Pernah Menciptakan Dampak Kekeringan yang Parah, Bagaimana dengan Tahun Ini?

Musim Kemarau dan El Nino Pernah Menciptakan Dampak Kekeringan yang Parah, Bagaimana dengan Tahun Ini?
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.
A-AA+A++

Musim kemarau dan El Nino yang hadir secara bersamaan, pernah menciptakan dampak kekeringan yang sangat parah, kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani. Indonesia kembali akan dihadapkan pada situasi seperti itu di tahun 2026 ini.

BMKG telah mengeluarkan imbauan agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat fenomena El Nino yang kini mulai muncul. Tren penurunan curah hujan di sejumlah provinsi menjadi sinyal kuat untuk mempercepat langkah mitigasi di lapangan.

Hasil analisis iklim global telah menunjukkan adanya potensi perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menuju kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun 2026. Pemerintah daerah kini tengah bersiap menghadapi penurunan intensitas hujan yang diprediksi mulai menyusut sejak Mei mendatang di wilayah selatan khatulistiwa.

Bahwa sinkronisasi kedua fenomena ini pernah menciptakan dampak kekeringan yang sangat parah pada periode tahun-tahun sebelumnya. “Musim Kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang terpisah. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif serta diprediksi mulai tahun 2026 ini,” kata Teuku Faisal Fathani.

Faisal turut meluruskan persepsi publik bahwa kemarau tidak berarti kering kerontang tanpa air hujan sama sekali. Kondisi ini merujuk pada situasi ketika curah air dari langit berada di bawah ambang batas klimatologis normal.

Puncak kekeringan di bumi Borneo, misalnya, diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, sebelum akhirnya kembali basah memasuki Oktober. Strategi intervensi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi “senjata utama” pemerintah untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tetap aman dari api.

“BMKG akan terus memonitor, memprediksi, mendiseminasikan data, dan berkolaborasi dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Saat ini sinergi antarlembaga berjalan sangat baik dalam upaya penanganan Karhutla,” ujar Faisal.

“Tim gabungan memanfaatkan setiap awan potensial yang melintas untuk disemai menjadi hujan buatan guna mengisi cadangan embung air.”

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam), Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, memberikan atensi terhadap kesiapan logistik dan personel di daerah. Ia memerintahkan sistem komando lapangan harus bergerak cepat melakukan deteksi dini sebelum titik panas meluas menjadi bencana besar.

Pemerintah menargetkan penekanan jumlah titik api secara signifikan melalui langkah respons cepat dan pencegahan permanen di seluruh wilayah rawan. Komitmen kuat lintas sektoral ini bertujuan menjaga kestabilan ekonomi dan kesehatan masyarakat dari polusi asap Karhutla.

“Seluruh komponen bangsa harus meningkatkan mitigasi dan kerja sama agar Karhutla dapat ditekan hingga seminimal mungkin. Kita semua harus bergerak bersama menuju target zero kebakaran di tahun ini,” ujar Djamari Chaniago.