Eksplorasi Mikroalga, dari Laut Indonesia ke Pangan Sehat hingga Bioindustri Global

Eksplorasi Mikroalga, dari Laut Indonesia ke Pangan Sehat hingga Bioindustri Global
Close-Up of a Green Pennate Diatom || Foto TrueCreatives.
A-AA+A++

Rumput laut itu termasuk mikroalga. Selama ini, ia adalah komoditas pesisir yang cukup besar berkontribusi bagi ekonomi masyarakat. Namun kini, komoditi itu perlahan menjelma menjadi sumber biomolekul strategis untuk pangan sehat, terapi penyakit, hingga fondasi bioindustri biru Indonesia.

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bidang Kepakaran Bioteknologi Laut, Prof. Ratih Pangestuti, mengatakan bahwa riset tidak berhenti pada eksplorasi sumber daya semata, tapi harus terus didorong untuk bergerak maju, sehingga menjadi nilai tambah, namun tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Indonesia punya kekayaan luar biasa di sektor ini. Data ilmiah menunjukkan ada sekitar 900 spesies makroalga di perairan Indonesia, atau hampir 11 persen dari total spesies dunia.

Namun, ironisnya, kurang dari 10 spesies yang dimanfaatkan secara komersial. “Artinya, sebagian besar potensi rumput laut masih belum tergarap maksimal,” ujarnya.

Di sinilah riset Ratih berperan penting. Ia mendorong eksplorasi makroalga secara sistematis melalui pendekatan bioprospeksi. Tujuannya jelas: mengidentifikasi, mengkarakterisasi, dan mengembangkan kandungan biologis makroalga menjadi produk bernilai tinggi.

Dalam penelitiannya, menemukan bahwa makroalga memiliki komposisi kimia yang sangat beragam. Selain polisakarida seperti agar, alginat, dan karaginan yang sudah lama digunakan dalam industri pangan, ia juga meneliti senyawa lain seperti pigmen alami dan polifenol. Senyawa ini berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, bahkan agen neuroprotektif.

Salah satu temuan penting adalah fucoxanthin, pigmen alami dari makroalga coklat. Senyawa ini terbukti memiliki aktivitas biologis yang signifikan untuk mendukung kesehatan. Temuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan bahan baku farmasi dan pangan fungsional berbasis sumber daya laut Indonesia.

Ratih tidak berhenti pada eksplorasi. Ia juga mengembangkan inovasi teknologi dalam proses ekstraksi. Metode konvensional dinilai kurang efisien dan berisiko merusak senyawa bioaktif.

Karena itu, ia mengadopsi pendekatan green extraction seperti ekstraksi subkritis, ultrasound-assisted extraction, dan supercritical CO₂ extraction. Teknologi ini meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas senyawa, serta lebih ramah lingkungan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sistem budidaya yang terkontrol. Menurutnya, bioindustri tidak akan berkembang tanpa pasokan bahan baku yang stabil dan terstandarisasi. Pengembangan budidaya, termasuk untuk spesies yang belum populer, membuka peluang diversifikasi komoditas dan meningkatkan kualitas produksi.

Dampak pengembangan makroalga sangat luas. Dari sisi ekonomi, industri ini bisa meningkatkan nilai tambah produk laut Indonesia yang selama ini masih didominasi ekspor bahan mentah.

Dari sisi sosial, sektor ini membuka peluang kerja bagi masyarakat pesisir, termasuk perempuan, melalui usaha berbasis komunitas. Sementara dari sisi lingkungan, makroalga berperan menyerap karbon dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Meski begitu, tantangan masih ada. Keterbatasan teknologi, jarak antara riset dan industri, serta isu keberlanjutan lingkungan menjadi pekerjaan rumah. Karena itu, Ratih menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat untuk mendorong hilirisasi riset.

“Makroalga bukan sekadar sumber daya, tetapi pilar strategis dalam membangun bioindustri biru Indonesia yang berkelanjutan,” tegasnya.

Ratih lahir di Grobogan, Jawa Tengah, dan meniti karier akademik di bidang ilmu kelautan hingga meraih gelar doktor di Korea Selatan. Pengalaman internasional, termasuk program postdoctoral, membentuk visinya dalam melihat potensi laut Indonesia sebagai basis inovasi global.

Ia juga meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti LIPI Young Scientist Award, serta masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists versi Elsevier-Stanford selama beberapa tahun berturut-turut. Capaian ini menegaskan kontribusinya di tingkat nasional maupun global.

Lewat risetnya, Ratih menjawab tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari ketahanan pangan hingga meningkatnya penyakit degeneratif. Ia menunjukkan bahwa masa depan pangan dan kesehatan tidak hanya bergantung pada daratan, tetapi juga pada kekayaan laut Indonesia.|||

Sumber:
— BRIN —