Oleh: Prima Erd
Penulis tamu untuk Glasial.id
Di sebuah kios—yang disulap jadi ruangan kerja—seorang pria tengah sibuk dengan setrika uapnya. Panas. Mengepul seketika, tatkala lempengan besi itu menyentuh baju seragam kerja lapangan (wearpack) milik karyawan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai.
Meski sinar mentari di pertengahan oktober ini tidak begitu terik, namun tubuh gempal lelaki berusia 35 tahun dengan kulit agak sedikit legam khas para nelayan yang sering berjemur di atas perahunya ketika mengarungi lautan, terlihat berkeringat, maklum entah sudah berapa puluh lembar wearpack ia gosok.
Sementara di bawah tidak jauh dari meja gosok, seorang laki laki paruh baya terlihat sedang melipat dengan rapi dan menyemprotkan parfum pewangi sebelum lembaran pakaian lapangan itu dimasukan kedalam kantong plastik.
Seperti itulah keseharian aktivitas di Betuah Laundry, yang terletak di Jalan Makmur, Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau, sekitar akhir 2025 lalu. Sebuah Laundry yang agak berbeda dari kebanyakan laundry pada umumnya.
Bagaimana tidak, jika di laundry biasa, kita umumnya hanya akan bertemu dengan kaum ibu yang sedang bekerja, baik itu mencuci, menggosok termasuk packing atau menyusun pakaian kedalam kantong plastik.
Namun di sini, di Betuah Laundry, kita hanya akan bertemu dengan kaum laki laki. Lebih spesifik lagi, yang profesinya adalah Nelayan ngokang. Pekerjaan ini, jelas bertolak belakang dari pekerjaan yang sedang mereka geluti.
Wajar pula bila di awal-awal, banyak orang yang ragu, apakah laundry ini akan bertahan lama dan menghasilkan? Atau bangkrut dalam hitungan bulan. “Awalnya memang banyak yang menganggap sepele usaha ini,” kata Surya 35 tahun, satu dari 10 nelayan ngokang yang tergabung mengelola bisnis laundry ini.
Penasaran dengan apa itu nelayan ngokang, saya mencoba mencari di banyak literatur, bahkan sampai membuka kamus besar Bahasa Indonesia, namun tetap tidak ditemui.
Namun, kata “ngokang” disini bukan berarti menarik pelatuk senjata bedil atau senapan. “Kami tidak bawa senjata,” timpal Surya. “Ngokang itu memang bahasa sini (Dumai). Nelayan ngokang, istalah orang sini.” Juga bukan merujuk pada suatu etnis tertentu.
Makna Nelayan ngokang justru saya dapat dari Syafrizal 57 tahun. Ia juga seorang nelayan ngokang, dan punya jabatan sebagai Sekretaris di Kelompok Nelayan Barter Jaya yang membuka usaha laundry ini.
“Nelayan ngokang itu sama dengan nelayan barter,” ujar Syafrizal. “Kami bawa barang kebutuhan pokok ke laut, merapat ke kapal-kapal, lalu menjual atau menukar barang-barang yang kami bawa dengan barang yang mereka punya.”

Nelayan Ngokang, memang berbeda dari nelayan umumnya. Mereka adalah nelayan tradisional yang hanya ada di Dumai. Tidak menangkap ikan, tapi menukar barang dagangan mereka seperti buah-buahan lokal dengan barang apa saja dari kapal kapal besar yang berlabuh di tengah laut. Dumai merupakan kota Pelabuhan dan terletak di pinggir Selat Malaka. Aktivitas di laut ini cukup tergolong sibuk dan menjadi urat nadi perlintasan angkutan laut dunia.
Menjadi Nelayan Ngokang tidak selalu untung, rezeki mereka seperti nasib-nasiban. “Rezeki Harimau”, istilah mereka. “Kalau lagi beruntung, banyak yang dibawa pulang. Kalau lagi sepi, ya sedikitlah. Apalagi kalau ombak lagi tinggi, kami tak bisa turun ke laut,” tambah Surya.
Kalau sudah begitu, risiko kerugian menghantui. Terutama untuk barang-barang seperti buah dan sayur yang busuk jika tidak laku. Tapi, risikonya bukan hanya itu. Karena perdagangan ini tidak ada yang mengawasi, transaksi terjadi dit engah laut lepas, bukan tidak mungkin tindak kriminalitas bisa terjadi.
Para nelayan ngokang ini bisa saja dimanfaatkan bandar besar perdagangan narkotika internasional, atau mungkin terlibat dalam penyelundupan barang-barang dari luar negeri yang masuk tanpa bea, atau juga menjadi tempat penampungan limbah beracun atau B3.
Melihat tingginya resiko itu, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL membuatkan program alih profesi demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di sana.
Tahun 2023 lalu, 10 orang nelayan ngokang berserikat untuk membentuk Kelompok Nelayan Barter Jaya. Kelompok ini kemudian mengajukan semacam program pemberdayaan untuk pengembangan usaha ke PT KPI RU II Dumai.
Awalnya, mereka ingin beternak lele atau ikan air tawar lainnya. Atas berbagai pertimbangan, pihak KPI menawarkan ide untuk jenis usaha lain yakni green laundry. “Pola bisnisnya sederhana. Tapi menjadi unik karena mengusung konsep zero waste,” kata Area Manager Communication, Relations, & CSR Kilang Dumai, Agustiawan.
Sabun untuk kebutuhan laundry tidak dibeli, melainkan diproduksi sendiri dan ramah lingkungan, karena terbuat dari bahan baku tumbuhan liar yang banyak ditemukan di sekitar pekarangan rumah. “Namanya, rumput teki,” kata Tim CSR PT KPI RU II Dumai, Fajar Julian Santoso.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Surabaya (2020), rumput ini memiliki kandungan flavonoid. Fungsinya sebagai antibakteri dan antioksidan. Rumput teki juga mengandung senyawa aktif berupa saponin. Jadi, jika dikocok dengan air, akan lebih cepat dan banyak mengeluarkan busa.
Seluruh sarana dan prasarananya disediakan oleh pihak pemberi bantuan, seperti; kios, tiga unit mesin cuci, satu unit mesin pengering pakaian, dan seperangkat setrika uap, lengkap dengan panel surya berkapasitas 6,6 kWp.
Karena jumlahnya ada 10 orang, mereka dibagi dalam lima shift, sehari bertugas dua orang. Satu orang bertugas sebagai juru cuci, satu lagi sebagai juru setrika. Artinya, setiap satu orang hanya bekerja empat sampai lima hari dalam sebulan.
Adapun sistem upahnya, bagi hasil, berapapun keuntungan yang didapat perbulan, dibagi rata, omset mereka kini sudah mencapai lebih 10 juta perbulan dari awalnya hanya Rp2 juta per bulan.
Saat ini mereka sudah mendirikan koperasi yang nantinya akan menaungi kegiatan ini untuk berkontrak dengan perusahaan yang ada di Kota Dumai sebagai pengembangan usaha jasa laundry.
“Selain itu masing masing individu di dalam kelompok ini, juga sudah diberikan modal bergulir untuk membuka usaha baru yang berkaitan dengan core bisnis mereka seperti pemasaran sabun dan parfum laundry,” Fajar.
Dari kisah ini, sinergitas atas dasar kepedulian sesama, telah berhasil memecahkan satu masalah krusial, yakni kesenjangan ekonomi dan kesadaran atas kelestarian lingkungan. Walau skalanya kecil, manfaatnya sangat besar.
Masyarakat Tanjung Palas yang menghabiskan hari-harinya di pinggiran Selat Malaka, dapat tumbuh menjadi contoh ketahanan dan kemandirian di kawasan perbatasan.
Dengan menjaga laut dan pesisir tetap lestari, serta mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, masyarakat tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga memperkuat citra Indonesia di hadapan negara tetangga.
Inilah langkah nyata menuju masa depan yang berdaya, hijau, dan berkelanjutan bagi generasi di tepian Selat Malaka. Bagaimana dengan kita? Masihkan kita berpikir bahwa upaya memperkuat ekonomi dan melestarikan lingkungan adalah tugas yang berat? Padahal, semua itu bisa dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat kita.|||






