Jejak Emisi dari Secangkir Kopi, Anda pun Ikut Berkontribusi

Kopi tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup harian, asalkan jejak karbonnya ikut ditekan.

Jejak Emisi dari Secangkir Kopi, Anda pun Ikut Berkontribusi
Buah kopi siap panen ||| Foto: Canva Pro.

Oleh: Fadly Ibrahim
Penulis tamu untuk Glasial.id


Hampir setiap hari—kecuali Sabtu dan Minggu—saya selalu bertemu Rian di sebuah kedai kopi di kawasan Sukajadi, Pekanbaru. Kami saling menyapa walau lebih sering duduk di meja yang berbeda.

Hampir setiap hari—kecuali Sabtu dan Minggu—saya selalu bertemu Rian di sebuah kedai kopi di kawasan Sukajadi, Pekanbaru. Kami saling menyapa walau lebih sering duduk di meja yang berbeda.

Cara Rian mengawali hari, tak jauh berbeda dengan saya. Ia menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula, sambil fokus ke layar ponselnya.

Sedangkan saya, juga menyeruput kopi hitam tanpa gula sambil ngecek email dan menulis berita cuaca.

Di suatu pagi, sekitar pertengahan April lalu, entah kenapa saya memilih duduk satu meja dengan Rian di kedai kopi itu. Di situlah saya tau kalau Rian juga pecinta kopi tanpa gula.

Saya bertanya “kenapa kopi hitam begitu kuat dan sangat melekat—sebagai simbol laki-laki dewasa? Saya meyakini, penikmatnya rata-rata usia 37 ke atas. Kopi hitam selalu identik dengan orang tua.”

Rian setuju, walaupun dia mengangguk dengan ragu. “Kopi hitam itu identitas kopi yang sesungguhnya,” kata dia.

Saya paham maksud Rian.

“Jika sudah dicampur gula atau kental manis, itu kopi yang terkontaminasi,” jawabnya sambil tertawa.

“Orang yang paham kopi, pasti mengetahui karakter kopi dari kopi hitam murni. Apakah itu arabika atau robusta. Selebihnya—manis dan pahit—itu soal rasa. Soal selera,” ujarnya..

“Namun, ada satu hal penting yang selama ini mungkin terabaikan oleh para penikmat atau pecinta kopi,” sambung Rian.

Dia sengaja bikin penasaran, lalu berkata, “seberapa besar emisi karbon yang dilepaskan dari secangkir kopi yang kita nikmati. Ingat, kita berkontribusi terhadap itu, bahkan setiap hari.”

Setuju atau tidak, di balik secangkir kopi yang hangat, ada jejak emisi karbon yang ikut terbentuk dari proses panjang. Mulai dari budidaya di kebun hingga si hitam ini siap disajikan.

Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa produksi kopi ikut menyumbang gas rumah kaca, terutama lewat penggunaan pupuk, pengelolaan lahan, pengolahan, dan distribusi (Kopi dan Krisis Iklim, 30 Desember 2025 – Fairatmos).

Temuan ini penting karena konsumsi kopi terus meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di satu sisi, kopi menjadi komoditas ekonomi yang bernilai tinggi. Di sisi lain, rantai produksinya menyimpan tantangan lingkungan yang tidak kecil.

Jika pengelolaannya tidak efisien, emisi dari sektor ini bisa terus bertambah dan ikut membebani upaya pengurangan emisi global.

Sebuah kajian yang terbit di Environmental Reviews pada 2024 mencatat median jejak karbon produksi kopi berada di angka 2,18 kg CO2e per kilogram green beans.

Jejak Emisi dari Secangkir Kopi, Anda pun Ikut Berkontribusi
Foto: Ilustrasi.

Studi tersebut juga menegaskan bahwa pupuk nitrogen hampir selalu menjadi sumber emisi terbesar dalam produksi kopi.

Temuan ini menunjukkan bahwa tahap budidaya di kebun memegang peran besar dalam menentukan besar kecilnya emisi yang dihasilkan kopi.

Penelitian lain di perkebunan kopi rakyat di Nusa Tenggara Barat menemukan emisi gas rumah kaca sebesar 47 ton CO2-e per hektare per tahun, dengan cadangan karbon 91,4 ton C per hektare.

Hasil kajian itu menyebut, sumber utama emisi berasal dari pengelolaan lahan dan pemupukan, terutama yang memicu pelepasan CO2 dan N2O. 

Artinya, praktik bercocok tanam yang kurang efisien dapat langsung meningkatkan jejak karbon dari komoditas ini.

Penggunaan pupuk nitrogen menjadi sorotan utama dalam banyak studi tentang jejak karbon kopi.

Pupuk jenis ini memang membantu meningkatkan hasil panen, tetapi di sisi lain juga dapat memicu pelepasan gas rumah kaca, terutama dinitrogen oksida atau N2O, yang memiliki daya pemanasan global tinggi.

Selain itu, emisi juga muncul dari proses produksi pupuk itu sendiri sebelum pupuk sampai ke kebun.

Dalam praktiknya, petani sering menggunakan pupuk untuk menjaga produktivitas tanaman kopi.

Namun tanpa pengelolaan yang tepat, pemakaian pupuk justru bisa memunculkan emisi yang lebih besar dari manfaat yang diharapkan.

Karena itu, efisiensi pemupukan menjadi salah satu langkah penting untuk menekan jejak karbon kopi.

Emisi dari kopi tidak berhenti di tahap budidaya. Setelah dipanen, biji kopi masih melewati proses pengolahan, pemanggangan, pengemasan, hingga pengangkutan ke pasar dan konsumen.

Setiap tahap ini memakai energi dan bahan bakar yang pada akhirnya ikut menambah jejak karbon.

Rantai pasok kopi yang panjang membuat dampak lingkungannya semakin kompleks.

Semakin jauh kopi dipindahkan, semakin besar pula potensi emisi dari transportasi dan logistik.

Dalam konteks industri modern, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena permintaan kopi di pasar global terus tumbuh (Sustainability: Menjelajahi Jejak Karbon dalam Secangkir Kopi Anda, 18 Juni 2025 – National Geographic Indonesia).

Selain pupuk dan pengolahan, perubahan penggunaan lahan juga menjadi penyumbang emisi yang penting.

Pembukaan kebun baru dapat mengurangi simpanan karbon alami pada tanah dan vegetasi.

Saat hutan atau lahan berkayu dibuka untuk perkebunan kopi, karbon yang tersimpan bisa lepas ke atmosfer.

Karena itu, ekspansi kebun kopi tanpa perencanaan yang baik berisiko memperbesar dampak iklim.

Di banyak wilayah, isu ini menjadi perhatian karena kopi sering ditanam di area yang sensitif secara ekologis. Jika pengelolaan tidak hati-hati, manfaat ekonomi dari kopi bisa datang bersama biaya lingkungan yang tinggi.

Jejak karbon kopi juga bergantung pada cara minuman itu disajikan. Kopi hitam umumnya punya emisi lebih rendah dibanding kopi susu atau minuman kopi olahan lain yang memakai banyak bahan tambahan.

Susu menjadi salah satu komponen yang bisa menaikkan emisi secara signifikan karena produksi ternak juga menghasilkan gas rumah kaca.

Hal ini membuat pilihan konsumen ikut berpengaruh. Semakin sederhana penyajian kopi, semakin kecil pula potensi emisinya.

Meski terdengar sepele, kebiasaan sehari-hari seperti memilih kopi hitam bisa menjadi bagian kecil dari pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan.

Sejumlah peneliti mendorong penerapan praktik budidaya kopi yang lebih efisien dan rendah emisi.

Langkah seperti pemupukan yang lebih tepat, pengelolaan tanah yang baik, serta pemanfaatan bahan organik bisa membantu menekan emisi dari kebun. 

Di sisi lain, efisiensi energi dalam pengolahan dan distribusi juga perlu diperkuat agar jejak karbon kopi turun secara menyeluruh.

Pendekatan ini penting bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk keberlanjutan industri kopi itu sendiri.

Jika petani, pelaku usaha, dan konsumen bergerak bersama, kopi masih bisa dinikmati tanpa menambah beban iklim secara berlebihan.

Dengan kata lain, masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh rasa dan harga, tetapi juga oleh bagaimana komoditas ini diproduksi secara bertanggung jawab.

Kisah kopi dan emisi karbon menunjukkan bahwa makanan dan minuman sehari-hari pun punya kaitan langsung dengan perubahan iklim.

Dari kebun hingga cangkir, setiap tahap produksi meninggalkan jejak yang berbeda.

Karena itu, pembahasan soal kopi kini tidak lagi cukup hanya soal kualitas biji atau cita rasa, tetapi juga soal keberlanjutan.

Bagi saya dan Rian—sebagai konsumen—memahami asal-usul kopi dan proses produksinya bisa menjadi langkah awal untuk ikut mendorong industri yang lebih hijau.

Bagi pelaku usaha, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa efisiensi produksi dan pengurangan emisi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.

Kopi tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup harian, asalkan jejak karbonnya ikut ditekan.


ARTIKEL TERKAIT

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”
Program Penghijauan China Ubah Distribusi Air Tawar Nasional
Glasial, Saat Lautan Menghilang
PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?

Read Also

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”

Pemindaian Lidar terhadap salju di pegunungan ||| Foto: Airborne Snow Observatories, The Guardian....

Program Penghijauan China Ubah Distribusi Air Tawar Nasional

Program penghijauan China selama dekade terakhir terbukti mengubah distribusi air tawar. Riset ungkap...

PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?

Pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi open dumping. Pakar UGM ingatkan risiko bencana...