Usaha roti manis Haga Bakery milik Oktanius tumbuh dari dapur sederhana. Kini omzetnya melonjak dari Rp1,5 juta menjadi Rp7 juta per bulan.

Oleh: Made Waruwu
Penulis tamu untuk Glasial.id
Oktanius Lawolo akhirnya memutuskan untuk membangun toko roti sendiri pada tahun 2023 lalu. Ini adalah keputusan yang sulit. Apalagi setelah ia dipecat dari sebuah toko roti tempatnya bekerja sebelumnya.
Kehilangan pekerjaan bukan hanya soal hilangnya penghasilan, tetapi juga runtuhnya rutinitas dan rasa aman. Hari-harinya berubah. Benaknya dibayang-bayangi dengan bagaimana ia harus memberi makan anak dan istrinya?
Berbulan-bulan ia bergelut dengan adonan dan takaran gula, ragi dan air. Ia bertekad untuk membuat roti sendiri agar bisa berjualan.
Hingga pada akhirnya, di dapur sederhana di rumahnya, harapan itu mulai teracik kembali. “Kalau ingat anak-anak, rasa capek itu hilang seketika,” katanya.
Usaha roti manis tidak selalu lahir dari modal besar dan peralatan canggih — kadang cukup dari dapur rumah, oven kecil, dan tekad yang tak mudah padam.
Itulah kisah Oktanius, pemilik Haga Bakery, yang memulai segalanya dari nol dengan hanya berbekal keinginan kuat untuk bangkit.
Di masa awal, Oktanius tidak langsung berjualan. Ia memilih membagikan roti buatannya secara cuma-cuma kepada tetangga, teman, dan jemaat gereja tempatnya beribadah — semata untuk mendapat jawaban jujur: apakah rotinya layak dijual atau tidak?
Pada kenyataannya, jawaban itu tidak datang dengan instan.
Adonan terlalu cair, rasa belum pas, roti bantat tak mau mengembang — kegagalan demi kegagalan menjadi menu harian yang harus ia telan. “Gagal itu sudah biasa,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Awal 2023 menjadi titik balik dalam perjalanannya. Setelah berbulan-bulan bereksperimen tanpa menyerah, Oktanius memberanikan diri membuka usaha kecil yang ia beri nama Haga Bakery dengan peralatan seadanya — oven mungil, mixer tua, dan wajan yang sudah mulai menghitam.
Pesanan pertama datang satu per satu, kadang ada kadang kosong sama sekali. Namun setiap orderan ia kerjakan sepenuh hati, karena ia percaya usaha kecil pun bisa tumbuh asal dijaga dengan kesungguhan.
Pelanggan perlahan bertambah, ada yang membeli untuk konsumsi sendiri, ada pula yang menjual kembali.
Pelan namun pasti, usahanya pun tumbuh. Tapi, justru di sini tantangan sesungguhnya.
Keterbatasan modal di tengah harga bahan baku yang terus merangkak naik, permintaan yang terus meningkat, sementara kapasitas produksi tak mampu mengikuti laju pesanan yang datang.
Oktanius sempat diliputi kecemasan — ia ingin berkembang, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Dalam situasi terjepit itu, ia mendengar tentang program pembiayaan usaha mikro dan memberanikan diri mengajukan pinjaman untuk pertama kalinya ke salah satu bank milik negara.
Awalnya ia ragu-ragu. Namun akhirnya, keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah arah perjalanan roti manis Haga Bakery.
Dengan suntikan modal segar, Oktanius membeli oven yang lebih besar, mengganti mixer lama, dan memperbaiki kualitas kemasan produknya.
Hasilnya langsung terasa — produksi meningkat, pesanan bertambah, dan stabilitas ekonomi keluarga mulai perlahan terbentuk. Pendapatan yang dulu hanya sekitar Rp1,5 juta per bulan kini melonjak hingga Rp7 juta.
Bagi sebagian orang angka itu mungkin biasa, tapi bagi Oktanius itu adalah bukti bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Kini dapur Haga Bakery sangat sibuk. Ruang produksi ini juga tidak besar. Sangat sederhana. Suara dengung mesin memekak telinga. Aroma wangi roti yang masih panas menyeruak, memenuhi seisi ruangan.
Peluh membasahi wajah Oktanius Lawolo. Berjam-jam tubunya diterpa hawa panas dari tungku oven di ruangan sempit itu, “dan ini sudah waktunya.” Kedua tangan kasarnya cekatan menarik loyang. Terlihat roti-roti itu mengembang sempurna. Sudah matang.
Dapur ini bagai istri “kedua baginya.” Hampir setiap hari, di tengah subuh buta, Oktanius akan sibuk dengan adonan tepung hingga takaran gula.
Bagi Oktanius Lawolo, setiap roti yang keluar dari oven bukan sekadar hasil akhir olahan tepung, gula, dan ragi. Seisi dapur ini seakan ingin bicara tentang kerja keras, ketakinan yang kuat, ketekunan dan kesabaran yang panjang, setelah berkali-kali didera kegagalan.
Apa yang diraih Oktanius saat ini, bukan hasil dari sebuah perjalanan yang mulus. Terlebih setelah ia di pecat dari pekerjaan di sebuah toko roti di Pekanbaru
Bagi Oktanius, yang paling berharga bukan sekadar angka omzet yang naik, tapi perubahan nyata dalam kualitas hidup — anak-anak bisa bersekolah lebih tenang, dan keluarga bisa menikmati kehidupan yang lebih layak.
“Saya bahagia karena ini usaha keluarga,” katanya.
Dari dapur kecil di sudut kota ini, ia membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh dari tempat paling sederhana sekalipun, dan bahwa di setiap roti yang keluar dari ovennya tersimpan cerita tentang keberanian, cinta, dan tekad untuk tidak pernah menyerah.






