Energi Surya Membimbing Langkah Anak-anak Istimewa

Energi Surya Membimbing Langkah Anak-anak Istimewa
Panel surya bantuan PT PHR dipasang di atas SLB Melati Rumbai || Foto: Dok. PHR.
A-AA+A++

Oleh: Misigo
Penulis tamu untuk Glasial.id


Suara mesin jahit sesekali menderu dari sudut ruangan. Mesin itu dikendalikan oleh seorang gadis belia berusia 17 tahun, Emilia, namanya. Fokusnya sempat terganggu saat saya, membuka pintu ruangan itu. Spontan dia melirik penasaran ke arah pintu, lalu kembali fokus dengan ujung kain hijau muda, yang membentuk potongan pola baju.

Suara mesin kembali menderu saat kaki mungilnya menginjak pedal di bawah meja. Tatapannya lekat pada jarum kecil turun naik dengan cepat, yang menancapkan benang, merekat kain dari dari dua sisi.

Mesin ini tidak asing bagi Emeria. Ia tahu kapan harus menekan pedal, kapan harus berhenti. Sekali waktu, ia menarik nafas panjang, karena kainnya sedikit bergeser, pedat tidak terinjak. Tapi ia tak menyerah. Ia sabar membetulkannya.

Di ruang praktek menjahit itu Emeria tak sendirian. Siang itu selain Emeria, ada satu siswa lagi yang juga sedang praktik menjahit, namanya Annisa, didampingi seorang guru keterampilan, Murlina.

Emeria merupakan siswi kelas 2 SMP di Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati, Pekanbaru, Riau. Ia berbeda dari anak-anak pada umumnya. Tidak bisa mendengar maupun berbicara. Tapi, keterbatasan itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar.

Selasa, 07 Oktober 2025, siang itu cuaca di Pekanbaru cukup terik. Saya berkunjung ke sekolah Emeria yang berada di Jalan Pramuka, Gang Pandu, Rumbai Pesisir Pekanbaru, Riau. Ribowo, atau biasa dipanggil Pak Bowo, guru kelas sekaligus guru senior di SLB Melati Rumbai mendampingi saya bertemu Emeria. Ia menjelaskan maksud kedatangan saya kepada Emeria dengan menggunakan bahasa isyarat.

“Anak-anak di sini, terutama yang tunarungu memang lebih nyaman diajak bicara dengan bahasa isyarat,” kata Pak Bowo yang sudah mengajar di SLB Melati itu sejak 2007 silam.

Melalui bahasa isyarat, Bowo menerjemahkan pertanyaan saya ke Emeria. Sesekali gadis itu tersenyum, lalu menjawab dengan tangan yang bergerak lembut dan suara lirih yang tidak bisa diartikan oleh orang biasa, termasuk saya.

“Saya suka menjahit. Keterampilan ini membuat saya merasa berguna,” kata Emeria lewat bahasa isyarat yang diterjemahkan Bowo.

Emeria tinggal di Jalan Cipta Karya, Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru. Jarak tempat tinggal Emeria ke sekolah cukup jauh, lebih kurang 25 kilometer. Saban pagi ia harus menempuh perjalanan hingga 1 jam untuk sampai ke sekolah. Dia punya mimpi besar, setelah tamat sekolah ingin kuliah.

Namun di tengah segala keterbatasannya, mimpi itu tumbuh pelan-pelan, diam-diam, tapi kuat di dalam hati. Ia tahu, pendidikan adalah jalan untuk masa depan yang lebih baik. Tapi ia juga sadar, mimpinya itu tidak mudah diwujudkan. Orang tuanya hanya bekerja di sebuah laundry kecil di Jalan Cipta Karya, Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru, tak jauh dari rumah tinggalnya.

Penghasilan mereka cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi belum sanggup untuk biaya kuliah. Apalagi, kebutuhan Emeria sebagai anak tunarungu juga tidak sedikit. Meski begitu, tak sekalipun ia mengeluh.

Setiap kali ditanya soal cita-cita, Emeria akan menjawab lewat isyarat: “Saya ingin kuliah.”

Ia tahu jalan kesana terjal, tapi ia tak mau menyerah. Baginya, kekurangan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Setiap pulang sekolah, Emeria ikut membantu ibunya mencuci dan menyetrika pakaian yang dibawa orang tuanya dari tempat laundry.

“Anak seperti Emeria memang butuh waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Tapi kalau sudah paham, mereka bisa sangat terampil,” ujar Bowo seolah ingin menyakinkan bahwa bukan hal mustahil bagi anak berkebutuhan khusus seperti Emeria untuk mewujudkan impiannya. 

SLB Rumbai memang bukan sekolah biasa. Di dalamnya, ada anak-anak dengan berbagai kebutuhan khusus. Ada tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis dan keterbatasan mental lainnya. Bowo bercerita, mengajar di SLB ini membutuhkan lebih dari sekadar ilmu. Tapi juga butuh kesabaran, empati, dan hati yang lapang.

Kurikulum pun harus disesuaikan. Ada anak yang usianya sudah 18 tahun, tapi kemampuan kognitifnya baru setara anak TK. Mereka diajari hal-hal dasar seperti memakai pakaian sendiri, mencuci tangan, hingga pergi ke kamar mandi.

“Pernah satu anak, tiap ke kamar mandi harus ditemani. Sekarang sudah bisa sendiri. Itu kemajuan besar bagi kami,” kata Bowo.

Bowo menyampaikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus, termasuk mereka yang mengalami sindrom tertentu, memerlukan pendekatan pengajaran khusus. Beberapa siswa autistik, misalnya, masih membutuhkan pendampingan dalam aktivitas dasar seperti ke kamar mandi. Kurikulum pun harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa.

“Ada anak yang usianya sudah setara SMA, tetapi kemampuan mentalnya masih seperti anak TK. Jadi pendekatan belajar harus benar-benar disesuaikan,” ungkapnya.

Disela perbincangan, Pak Bowo berhenti sejenak. Ia menatap ke arah Emeria yang tengah serius di depan mesin jahit. Jarum bergerak naik turun, menyusuri potongan kain hijau muda yang perlahan membentuk baju melayu.

“Anak-anak di sini itu istimewa,” katanya dengan suara tenang. “Secara fisik dan mental mereka memang tidak sama seperti anak-anak pada umumnya, tapi mereka juga punya potensi besar. Tugas kami lah yang membantu mereka menemukan itu,” katanya lirih.

Di SLB Melati, setiap anak diberi kesempatan untuk belajar sesuai kemampuan dan minatnya. Keterampilan yang diajarkan pun beragam. Ada yang diajarkan menjahit, menenun, membatik, desain grafis, membuat aksesoris dan kerajinan tangan.

Beberapa siswa juga diajarkan bagaimana pengolahan makanan ringan, menulis kreatif atau konten digital sederhana, merangkai bunga, membuat sapu, keset hingga kantong kain sederhana. Kegiatan yang tidak hanya melatih kesabaran, tapi juga bisa menjadi peluang usaha kecil. Semua kegiatan praktikum ini dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kemampuan motorik dan daya tangkap masing-masing anak.

“Yang penting mereka punya bekal. Kami ingin saat mereka lulus, mereka tidak bingung. Kalau tidak bisa kuliah, mereka bisa kerja. Bisa buka usaha kecil. Bisa bantu keluarga,” kata Bowo penuh keyakinan.

Selain keterampilan teknis, SLB Melati juga menanamkan soft skill yang penting untuk kehidupan dan dunia kerja. Anak-anak diajarkan disiplin waktu. Seperti datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sampai tuntas. Mereka dilatih kerja sama dalam tim, karena di dunia kerja, kemampuan berkolaborasi jauh lebih berharga daripada bekerja sendiri.

Guru-guru juga melatih komunikasi dasar, termasuk bagi siswa tunarungu dan tunawicara. Mereka diajarkan bagaimana menyampaikan pesan, meminta bantuan, atau melayani orang lain dengan sopan.

“Banyak dari mereka nanti akan bekerja di tempat umum. Jadi kami ajarkan juga bagaimana bersikap sopan, bagaimana menghadapi pelanggan, bagaimana menjaga kebersihan diri dan lingkungan kerja,” kata Bowo.

Di sekolah ini, anak-anak juga belajar mengatur emosi dan sabar menghadapi kesulitan. Itu bagian dari pelatihan mental yang tak kalah penting. Mereka dilatih untuk berani tampil di depan kelas, percaya diri menerima tugas baru, dan tidak mudah menyerah ketika gagal.

“Kalau mereka bisa sabar dan percaya diri, mereka akan bisa menghadapi dunia luar. Keterampilan bisa dipelajari. Tapi mental itu yang paling sulit dibentuk,” ujarnya.

Pak Bowo percaya, keberhasilan pendidikan di SLB bukan diukur dari nilai ujian, tapi dari sejauh mana anak-anak ini bisa hidup mandiri setelah lulus.

“Kalau mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri, bisa bekerja, bisa bantu keluarga, itu sudah jadi kebanggaan besar bagi kami,” katanya sambil tersenyum tipis.

Di ruang jahit itu, Emeria masih melanjutkan pekerjaannya. Jarum mesin bergerak cepat, kain mulai membentuk lengan baju. Matanya tetap fokus. Tak ada suara. Hanya denting halus dari mesin yang terus berdetak. Hari itu, Emeria tak banyak bicara. Tapi dari gerakannya, dari semangat di matanya, kami tahu ia punya mimpi yang besar dan di sekolah kecil itu, pelan-pelan, Emeria sedang menjahit jalannya sendiri.

Berkah Energi Surya

Tak jauh dari ruang praktek menjahit, di gedung sebelah, dari dalam kelas terdengar suara lembut para guru yang sedang mengajar mengaji. Suaranya pelan, penuh kesabaran, mengalun di antara tawa kecil anak-anak. Di ruangan sederhana itu, dua sosok guru tampak berjalan perlahan dari satu meja ke meja lain. Mereka adalah Umisarah dan Oktrivia, dua pendidik yang berbagi satu ruang, satu misi, dan satu semangat yang sama.

Sambil duduk lesehan, mereka bergantian membimbing setiap anak membaca huruf demi huruf, kata demi kata. Tak ada suara keras, tak ada paksaan, yang ada hanya kesabaran yang seolah tak berujung. Di sudut lain, beberapa siswa tampak larut dalam dunia mereka sendiri. Ada yang menumpuk balok dengan tekun, ada pula yang menggambar garis-garis acak di kertas putih.

Siang itu, ruang kelas di SLB Melati Rumbai tampak terang benderang. Cahaya putih dari lampu-lampu yang menyala stabil berpadu dengan sejuknya udara yang mengalir lembut dari pendingin ruangan di sudut tembok. Tak ada suara bising mesin genset, tak tampak kabel besar yang biasa menjulur dari luar gedung. Semua tampak tenang, bersih, dan nyaman.

Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang istimewa. Cahaya dan kesejukan yang mengisi setiap ruang ternyata tidak datang dari jaringan listrik PLN, melainkan dari tenaga matahari.

Ya, sekolah ini kini berdiri mandiri dengan sumber energinya sendiri. Di atap gedung dua lantai itu, deretan panel surya terpasang rapi, berkilau memantulkan sinar siang. Setiap hari, panel-panel hitam itu menjemput cahaya mentari, mengubahnya menjadi energi listrik yang mengalir ke seluruh ruang sekolah.

Lampu, pendingin ruangan, kipas angin, hingga layar monitor CCTV yang menyala 24 jam tanpa henti di ruang kepala sekolah semuanya hidup dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bantuan dari PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak perusahaan PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).

Kehadiran PLTS di sekolah ini membawa dampak positif yang signifikan terhadap kenyamanan belajar bagi siswa berkebutuhan khusus. Dengan dukungan energi bersih, kini ruang kelas dapat menggunakan pendingin ruangan. Proses pembelajaran pun menjadi jauh lebih efektif, kondusif dan nyaman. Siswa lebih fokus dan betah berada di dalam kelas.

Hal ini dirasakan langsung oleh seorang siswa, Rabiatul Arabiah (18 tahun). Siswa kelas 2 SMP SLB Melati yang tinggal di Jalan Sembilang, Rumbai ini mengaku senang belajar sejak ruang kelasnya dipasangi AC. “Sekarang senang belajar karena tidak kepanasan lagi. Kalau panas, saya tidak suka belajar. Sekarang juga sedang belajar ngaji,” ujar Abi dengan suara terbata-bata.

Tak hanya Abi, Meliza (18 tahun) pun merasakan hal serupa. Gadis yang bercita-cita menjadi musisi itu kini menikmati setiap waktu belajar di sekolahnya, bahkan saat matahari bersinar terik di luar.

“Sekolah di sini enak, apalagi sekarang ada AC, jadi lebih nyaman dan pengen lama-lama di kelas. Saya suka musik, suka main gitar,” tuturnya.

Pemasangan PLTS tidak hanya membantu dalam penggunaan energi bersih, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi dunia pendidikan. Ruang kelas yang sejuk dan nyaman bisa membuat suasana belajar jadi lebih menyenangkan dan membantu meningkatkan semangat belajar siswa. Hal ini sangat penting, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan lingkungan belajar yang tenang dan stabil.

“Kalau suasana kelas panas, anak-anak jadi tidak betah. Kadang ada yang lari keluar,” cerita Pak Bowo sambil menunjukkan ruang kelas. “Dulu kelas kami panas sekali karena jendela langsung menghadap sinar matahari. Sekarang setelah ada pendingin ruangan, kelas jadi lebih nyaman dan anak-anak lebih tenang,” tambahnya dengan senyum.

Rezeki Nomplok

Di SLB Melati Rumbai, berkah datang tanpa diduga. Ketua Yayasan SLB Melati, M. Jakfar, mengaku tak pernah mengajukan proposal apapun ke perusahaan maupun ke pemerintah daerah. Tapi pada suatu hari, di awal Agustus 2025, pintu sekolahnya diketuk oleh kabar gembira. Ibarat pepatah lama, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pihak yayasan pun langsung menyambut baik tawaran dari PHR yang akan membangun PLTS di sekolahnya.

“Begitu ada yang menawarkan mau ngasih bantuan, kami langsung setuju, lagian mana ada yang mau menolak rezeki,” katanya sambil tersenyum.

Hanya berselang beberapa hari, di pertengahan Agustus 2025, panel surya itu pun sudah terpasang rapi di atap sekolah. Sejak itu, suasana belajar berubah. Ruang kelas jadi lebih terang, sejuk, dan nyaman. Listrik tak lagi jadi beban pikiran bagi pihak yayasan.

“Saya seperti dapat rezeki nomplok,” ujar Jakfar saat saya berkunjung ke ruang kerjanya pada 01 Oktober 2025 lalu.

Dulu, sekolah SLB Melati Rumbai ini hanya mengandalkan listrik PLN dengan daya 1.300 watt saja. Cukup untuk satu AC di ruang kepala sekolah dan lampu penerangan di dalam kelas. Kini, berkat PLTS, tiga ruang kelas dan satu ruang kepala sekolah sudah bisa menggunakan pendingin ruangan, semua lampu menyala dan CCTV aktif 24 jam.

“Sekarang kami tak takut listrik mati,” tambahnya.

Tak hanya itu, PHR juga membekali sekolah dengan pelatihan teknis. Mulai dari cara merawat, mengoperasikan, dan membersihkan panel surya. Ditambah lagi, bantuan dua unit komputer dan printer memperkuat dukungan untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

SLB Melati Rumbai berdiri sejak tahun 2003. Awalnya, sekolah ini berlokasi di Jalan Paus, Kecamatan Marpoyan Damai, dengan jumlah siswa hanya tiga orang. Dua tahun kemudian, pada 2005, sekolah ini pindah ke lokasi saat ini, di Jalan Pramuka, Gang Pandu, Rumbai. Kala itu, hanya ada satu bangunan berukuran 6 kali 12 meter.

Sekolah ini didirikan oleh Jakfar, seorang ahli terapi wicara, karena melihat kebutuhan mendesak di lingkungan sekitar. Tidak banyak pilihan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengakses pendidikan yang layak. Maka, ia pun berinisiatif menghadirkan solusi lewat SLB Melati.

“Anak-anak ini luar biasa. Mereka punya kelebihan yang butuh pendekatan khusus. Saya hanya ingin mereka punya tempat yang layak untuk belajar,” ujar Jakfar.

Seiring waktu, jumlah siswa terus bertambah. Dari hanya tiga orang, kini lebih dari 100 siswa belajar di sini, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Mereka dibimbing oleh 14 guru, seluruhnya bersertifikasi dan telah mengikuti pelatihan khusus untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, bagi Jakfar, pendidikan tidak semestinya dibatasi oleh biaya.

“Banyak yang tak bisa bayar SPP, apalagi anak yatim atau dari keluarga tidak mampu. Ada yang cuma bayar Rp 50 ribu, bahkan ada yang gratis. Kalau dipaksa bayar, mereka malah tak mau sekolah lagi. Jadi kami bebaskan saja,” ungkapnya.

Karena itu, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tapi juga menjadi rumah kedua yang penuh kepedulian.

“Saya dirikan sekolah ini bukan untuk cari duit. Ini kegiatan sosial. Kami ingin menyediakan ruang belajar yang inklusif dan manusiawi,” tegasnya.

Menariknya, meski ada SLB Negeri yang gratis di pusat Kota Pekanbaru, banyak orang tua yang tetap memilih SLB Melati. Bahkan ada siswa yang menempuh jarak jauh, seperti Emeria, yang harus melakukan perjalanan hingga satu jam setiap hari dari Palas ke sekolah.

Di sini, anak-anak tidak dikelompokkan berdasarkan usia biologis, melainkan usia mental dan tingkat perkembangan kecerdasan. Misalnya, seorang anak berumur 15 tahun, tetapi dengan usia mental setara anak 5 tahun, akan ditempatkan bersama teman-teman dengan kemampuan serupa.

“Karena yang kami kejar bukan angka, tapi perkembangan anak sesuai tahapannya,” kata Jakfar.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Sekolah SLB Melati Rumbai, Zamiatul Azma. Ia menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas bantuan PLTS yang kini terpasang di sekolah mereka. Menurutnya, kehadiran PLTS membawa perubahan besar bagi kenyamanan proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

“Kami sangat senang dan bersyukur. Dengan adanya PLTS ini, siswa tidak lagi takut gelap saat mati lampu, dan suasana kelas menjadi lebih sejuk karena kipas dan alat elektronik bisa tetap berfungsi,” ujarnya dengan wajah sumringah.

Ia menambahkan, para guru pun merasakan manfaat yang sama. Sejak hadirnya PLTS di sekolah itu, para guru kini bisa lebih leluasa menggunakan listrik untuk kegiatan belajar. Apalagi gedung SLB Melati Rumbai, memang sangat membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan memadai. Dengan hadirnya PLTS, sekolah tidak hanya menjadi lebih nyaman, tetapi juga lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.

“PLTS ini sangat membantu dan benar-benar bermanfaat bagi kami,” katanya.


Pemasangan PLTS di SLB Melati Rumbai diberikan oleh PT. PHR ini dimelalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). PLTS berkapasitas 3,7 kilowatt-peak (kWp) dengan penyimpanan energi 5 kWh ini menjadi energi baru bagi para siswa dan guru di sekolah itu. Setiap tahun, panel-panel itu mampu menghasilkan sekitar 4.691 kWh listrik.

Dari hitungan pihak sekolah, kehadiran PLTS ini bisa menghemat biaya listrik di sekolah hingga Rp 6,8 juta per tahun. Kalau hitung rata-rata perbulan kecil memang, tapi ini bukan soal angka penghematan, tapi kenyamanan belajar. Seratusan siswa berkebutuhan khusus kini bisa belajar tanpa harus kegerahan atau gelap-gelapan saat mati lampu.

Bagi anak-anak istimewa ini, kenyamanan adalah kebutuhan utama. Suasana yang terlalu panas atau gelap bisa membuat mereka tidak fokus. Bahkan bisa memicu ledakan emosi, terutama bagi siswa dengan autisme.

“Dulu kalau listrik padam, anak-anak yang sensitif langsung gelisah. Ada yang takut, ada yang rewel, ada yang lari keluar kelas. Sekarang sudah tidak lagi,” ujar Bowo.

Manager Community Involvement and Development (CID) Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faiza menyebut bahwa pemasangan PLTS ini bukan sekadar program energi, tapi komitmen dari anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak-anak difabel.

“Ini adalah komitmen kami dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak-anak difabel. Sekaligus memperkenalkan energi bersih kepada generasi muda,” kata Iwan.

Tak hanya menyediakan listrik ramah lingkungan, PHR juga menjadikan PLTS ini sebagai sarana belajar. Guru dan siswa dikenalkan pada konsep energi terbarukan. Bahkan, beberapa guru dilatih langsung lewat program Green Warrior, agar mampu merawat sistem PLTS secara mandiri. Tak berhenti di situ, perusahaan yang fokus pada kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di wilayah Riau ini juga menyumbangkan perangkat komputer lengkap dengan printer untuk mendukung proses belajar mengajar di SLB Melati.

Pada Jumat (10/10/2025), Sr Officer Media Relations Rokan, Victorio Chatra Primantara, Officer CID Lidya Sari dan Soni Maulana Yusup dan mitra PHR dari Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Ajeng Safitri, M.Psi kembali mendatangi sekolah tersebut.

Mereka memastikan semua instalasi teraliri listrik dengan aman. Sekaligus mengecek data yang ditampilkan di layar kecil pada inverter PLTS. Pada kesempatan itu, Soni juga menjelaskan informasi di aplikasi yang digunakan untuk memantau kondisi PLTS di SLB Melati Pekanbaru, kepada pihak sekolah. Selain memperkenalkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), pemasangan PLTS ini juga secara langsung mengurangi biaya operasional sekolah.

“Kami berharap PLTS ini bermanfaat bagi sekolah dalam mendukung kegiatan belajar mengajar di sini,” kata Victorio.

Sementara Ajeng Safitri, dosen UMRI yang menjadi mitra dari program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina (Pemko Pesmina) Tahun 2025, mengungkapkan, pihaknya siap mendukung energi bersih dan pendidikan inklusif melalui program pemberdayaan penyandang disabilitas bersama PHR. Salah satu wujud nyata dukungan tersebut adalah pemasangan PLTS di SLB Melati Rumbai.

“Salah satu pertimbangannya karena lokasi sekolah ini paling dekat dengan kompleks perkantoran PHR di Rumbai, hanya sekitar satu kilometer,” ujar Ajeng Safitri mengungkapkan bahwa UMRI sebagai mitra pelaksana mendukung penuh inisiatif tersebut.

Menurutnya, program ini sejalan dengan semangat pendidikan inklusi yang diterapkan di SLB. Setelah proses pemasangan selesai, tim UMRI melakukan pendampingan dan monitoring untuk memastikan sistem PLTS berfungsi optimal.

“Sejauh ini tidak ada kendala berarti. Tantangannya hanya saat musim hujan, karena pasokan energi matahari berkurang sehingga daya yang tersimpan di baterai juga menurun,” jelasnya.

Ajeng mengungkapkan, SLB Melati menjadi SLB pertama dan satu-satunya di Provinsi Riau dan kedua di Sumatera setelah Aceh yang menggunakan energi surya sebagai sumber listrik untuk operasional di sekolah.  Melalui program ini, diharapkan SLB Rumbai dapat menjadi contoh penerapan energi bersih di lingkungan pendidikan sekaligus mendukung kemandirian sekolah inklusif di Riau bahkan Indonesia.

Potensi Energi Surya

Riau sendiri memiliki potensi energi surya yang besar. Menurut Outlook Energi Indonesia 2022, potensi energi terbarukan di wilayah ini mencapai 3.643 GW. Sementara data Kementerian ESDM 2024 menyebutkan bahwa Riau memiliki potensi energi matahari terbesar di Indonesia, sebesar 290.000 MW. Rata-rata penyinaran matahari di Pekanbaru selama 2023 mencapai 633 jam, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni.

“Peluang pengembangan energi surya masih sangat terbuka, apalagi Indonesia termasuk wilayah tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi, terutama di Riau yang dilintasi garis khatulistiwa. Energi ini juga ramah lingkungan dan bisa membantu mengurangi emisi karbon serta ketergantungan pada energi konvensional,” kata Dosen Teknik Elektro UIN Suska Riau, Dr. Liliana, ST., M.Eng.

Meski potensi energi surya di Indonesia, termasuk di Riau, sangat besar, namun, kata Liliana pemanfaatannya masih sangat kecil, baru sekitar 2 persen dari total potensi yang ada. Menurutnya, salah satu tantangan dalam pengembangan energi surya adalah biaya investasi awal yang masih tinggi, karena sebagian besar bahan dan peralatan masih harus diimpor. Namun jika dihitung jangka panjang, pembangkit listrik yang bersumber dari matahari jauh lebih hemat dan murah karena energi matahari sendiri gratis.

Tantangan lain adalah sosialisasi dan edukasi tentang energi terbarukan kepada masyarakat masih belum maksimal. Padahal, pemahaman yang baik sangat penting agar masyarakat tahu cara memanfaatkan, merawat, dan mengoperasikan sistem PLTS dengan benar.

“Kalau edukasinya kurang, keberlangsungan proyek PLTS itu bisa gagal. Jadi masyarakat harus diedukasi, misalnya, bagaimana merawat baterai agar tahan lama dan menjaga panel supaya bisa menangkap sinar matahari secara optimal,” tambahnya.

Dr. Liliana juga menjelaskan bahwa UIN Suska Riau menjadi salah satu kampus yang aktif berkontribusi dalam bidang ini. Lebih dari 50 persen alumni UIN Suska bekerja di proyek pemasangan PLTS di berbagai daerah di Indonesia. Kampus ini juga menjadi satu-satunya di Sumatera yang memiliki laboratorium PLTS untuk riset, penelitian, dan praktik mahasiswa. Sebab itu, tidak heran jika banyak alumni UIN Suska yang siap terjun ke dunia kerja di bidang energi terbarukan.

“Pemanfaatan energi surya di Indonesia, khususnya di Riau masih terbatas pada perkantoran, penerangan jalan, dan desa-desa terpencil, sementara penggunaan di rumah tangga masih didominasi oleh listrik dari PLN,” katanya.

Energi Bersih Berkelanjutan

Tidak hanya di SLB Melati Rumbai, dipenghujung tahun 2024, PHR juga secara resmi mengoperasikan PLTS di SMA Negeri 2 Mandau, Kabupaten Bengkalis. PLTS yang terpasang di sekolah ini memiliki kapasitas 3 kWp dan menggunakan sistem On-Grid Zero Export, lengkap dengan power meter, inverter, dan kWh meter.

Sistem ini dirancang agar daya yang dihasilkan dari panel surya bisa langsung terhubung dan bekerja selaras dengan jaringan listrik sekolah. Energi bersih yang dihasilkan saat ini digunakan untuk menunjang operasional ruang Bimbingan Konseling (BK), ruang kesiswaan, serta empat ruang kelas.

Selain pemasangan perangkat PLTS, program ini juga melibatkan edukasi kepada para siswa tentang EBT, bekerja sama dengan Asosiasi Panel Surya Indonesia dan komunitas lokal. SMA Negeri 2 Mandau dipilih karena memiliki 1.200 siswa yang dianggap potensial sebagai agen perubahan, di tengah upaya PHR mendorong pemahaman energi bersih sejak usia sekolah.

Langkah kecil namun bermakna ini menjadi bagian dari komitmen lebih besar PHR dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon, yang diwujudkan secara lebih luas melalui pembangunan PLTS WK Rokan. PLTS ini mulai beroperasi pada 3 Juli 2023 dan menjadi salah satu fasilitas energi bersih terbesar di sektor migas nasional.

Dibangun di atas lahan seluas 28 hektare, PLTS ini memiliki kapasitas terpasang 25,7 MWp dan menggunakan sekitar 60.000 panel surya. Proyek ini digarap oleh PHR bersama PT Pertamina Power Indonesia (PPI) dan dikelola oleh Pertamina New & Renewable Energy, dengan dua model instalasi, yaitu ground-mounted dan rooftop.

PLTS WK Rokan tersebar di tiga area utama. Yakni di Duri, Rumbai, dan Dumai. Di Duri, ada lima titik instalasi: Gate 1-1 (4,28 MWp), Gate 1-2 (4,70 MWp), Sinabung (3,96 MWp), Singgalang 1 (3,16 MWp), dan Singgalang 2 (2,20 MWp), yang berdiri di lahan seluas 17,2 hektar. Di Rumbai, dua titik PLTS dibangun, yaitu ground-mounted berkapasitas 4,81 MWp dan rooftop sebesar 0,70 MWp. Sementara di Dumai, PLTS berkapasitas 1,99 MWp berdiri di atas lahan 2,2 hektare.

Sejak beroperasi, PLTS ini telah menghasilkan energi listrik bersih sebesar 39.670 MWh hingga Oktober 2024, dan berdasarkan data realtime per 24 Oktober, jumlahnya meningkat menjadi 44.653,437 kWh. Seluruh sistem kelistrikan PLTS dipantau melalui SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), yang beroperasi 24 jam dalam dua shift dan mengelola daya sebesar 430 MW, termasuk sekitar 10 persen cadangan untuk keadaan darurat.

Meski kontribusinya sekitar 7 persen dari total kebutuhan listrik PHR sebesar 430 MW, PLTS ini berhasil menghemat biaya hingga Rp 8,4 miliar per tahun dan mampu menyuplai listrik untuk sekitar 1.300 rumah tangga.

Dampak lingkungan dari PLTS ini juga signifikan. Setiap tahun, emisi karbon yang berhasil ditekan mencapai 28.444 ton CO2 ekuivalen (CO2 Eq), dan per Oktober 2024, realisasinya bahkan mencapai 45.866 ton CO2 Eq. Jumlah ini setara dengan emisi dari 5.200 mobil atau setara efek menanam 3,2 juta pohon. Keberadaan PLTS juga memungkinkan pengurangan operasional gas turbin dari 19 unit menjadi 17 unit. PLTS WK Rokan bahkan mampu menggantikan daya dari dua unit gas turbin, yang masing-masing menyumbang emisi hingga 408 ribu ton CO2 Eq per tahun.

Seluruh inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen PHR dalam mendukung kebijakan Environmental, Social, and Governance (ESG), sejalan dengan target pemerintah dalam transisi energi.

Indonesia menargetkan 23 persen bauran energi baru terbarukan pada 2025, pengurangan emisi 41 persen pada 2030, dan Net-Zero Emission pada 2060. PLTS WK Rokan juga menjadi kontribusi PHR terhadap rating ESG Pertamina Group, yang kini berada di peringkat pertama dunia untuk sub-industri migas terintegrasi.

Ke depan, PHR menargetkan sistem kelistrikan yang terhubung langsung dengan jaringan PLN, termasuk PLTA dan PLTS lainnya, pada tahun 2025–2026. Meski peralihan penuh ke energi bersih belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, arah kebijakan dan inovasi yang dilakukan PHR menunjukkan komitmen serius terhadap masa depan energi yang lebih ramah lingkungan.***