
Perubahan iklim hancurkan lapisan salju Amerika Serikat. Kekeringan terparah sejak 2000 ancam jutaan warga dan lahan pertanian strategis negara.
Perubahan iklim telah memukul wilayah barat Amerika Serikat dengan menghancurkan lapisan salju pegunungan hingga ke level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini diperkirakan dapat memicu kekeringan terparah sejak tahun 2000 yang mengancam pasokan air jutaan warga dan lahan pertanian vital.
Para ahli meyakini bahwa kondisi seperti ini bukan hanya sebatas anomali musiman, melainkan “peringatan keras tentang masa depan”.
Sebuah foto Airborne Snow Observatories yang diterbitkan oleh The Guardian, memperlihatkan situasi yang menipu mata. Gambar itu diambil dari kokpit pesawat khusus yang terbang di atas puncak-puncak terjal Sierra Nevada, California. Hamparan putih yang terlihat indah dari atas ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih suram.
“Ini adalah tahun yang sangat kering,” kata Tom Painter, CEO Airborne Snow Observatories, Painter, seperti dikutip dari The Guardian, yang mengembangkan teknologi ini di NASA, tidak mengandalkan inspeksi visual untuk mengambil kesimpulan.
Pesawatnya menggunakan teknologi Lidar — denyutan cahaya laser berkecepatan tinggi — untuk mengukur kedalaman salju dengan presisi hingga 3 cm. Teknologi ini memancarkan sekitar 800.000 denyutan per detik dan menghasilkan peta 3D yang akurat untuk menghitung volume air yang tersimpan di dalam lapisan salju.
Di wilayah barat AS, pegunungan berfungsi sebagai “waduk beku” alami yang menopang kehidupan jutaan orang. Data dari teknologi inilah yang kini membunyikan alarm — karena perubahan iklim telah mengikis cadangan air tersebut jauh lebih cepat dari yang pernah terjadi sebelumnya.
Lebih dari 60% wilayah daratan AS kini dilanda kekeringan, menjadikannya kekeringan musim semi terluas sejak US Drought Monitor mulai beroperasi pada tahun 2000. Wilayah tenggara berjuang melawan kebakaran hutan berskala besar di Georgia dan Florida, sementara wilayah barat menghadapi ancaman yang berbeda: kekurangan air akibat salju yang menghilang terlalu cepat.
Musim dingin yang sangat hangat disusul gelombang panas ekstrem pada Maret, keduanya dipicu oleh polusi yang memerangkap panas, menghancurkan lapisan salju wilayah barat. Menurut Climate Central, total air yang tersimpan di lapisan salju mencapai level terendah dalam sejarah tepat saat seharusnya berada di titik puncak tahunan.
“Pada bulan Maret, aliran salju berhenti di seluruh wilayah barat AS,” kata Painter. “Kehilangan lapisan salju seperti ini belum pernah kita lihat sebelumnya — ini benar-benar di luar catatan sejarah.”
Angka-angka memperkuat pernyataan itu: tumpukan salju di seluruh California hanya mencapai 18% dari rata-rata historis pada 1 April, dan terus menyusut sejak saat itu. Tom Albright, wakil ahli klimatologi Negara Bagian Nevada, melaporkan bahwa limpasan air dari pencairan salju di pegunungan terjadi dua bulan lebih cepat dari jadwal normal.
Pencairan salju yang terlalu dini membawa dua bahaya sekaligus. Pertama, lanskap mulai mengering berbulan-bulan lebih awal dari biasanya sehingga risiko kebakaran hutan melonjak drastis. Kedua, waduk-waduk utama di sepanjang Sungai Colorado yang sudah kritis tidak mendapat pasokan air yang cukup untuk pulih.
“Ketika kita tidak punya lapisan salju, kita kehilangan air di awal musim dan kemudian harus menanggung musim kering yang sangat panjang,” kata Albright. Ketika ditanya apa yang paling ia khawatirkan dalam beberapa bulan ke depan, jawabannya tegas: “Kebakaran — terutama karena wilayah yang terdampak sangat luas.”
Selama beberapa dekade, sistem pengelolaan air di wilayah barat dibangun di atas asumsi bahwa salju akan bertahan di pegunungan hingga pertengahan musim panas. Krisis iklim kini meruntuhkan asumsi itu satu per satu.
Para ahli memperingatkan bahwa kekeringan tahun ini bukanlah kejadian sekali seumur hidup, melainkan gambaran awal dari apa yang akan menjadi kenormalan baru. “Jika kita melihat ke depan, kondisi tahun ini akan semakin sering terjadi dan mungkin suatu saat tidak akan dianggap luar biasa lagi,” kata Albright.





