Guru Besar UGM Ini Bedah 462 Kasus Lingkungan RI di London, Apa Akar Masalahnya?

Guru Besar UGM Ini Bedah 462 Kasus Lingkungan RI di London, Apa Akar Masalahnya?
Deforestasi jadi masalah utama dalam kasus lingkungan di Indonesia || Foto: Yotrak.
A-AA+A++

Menyoroti karut-marut ekologi di tanah air, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., memaparkan fakta mengejutkan mengenai ratusan kasus lingkungan yang terjadi di Indonesia dalam forum akademik internasional di Inggris Raya.

Selama periode 28 Januari hingga 19 Februari 2026, ia menjalankan peran sebagai profesor tamu di Royal Holloway, University of London (RHUL), guna mengupas tuntas sejarah dan tantangan penyelamatan alam nusantara.

Dalam lawatan risetnya, Agus berkolaborasi dengan pakar sejarah RHUL, Dr. Simone Gigliotti, untuk menguji data penelitian tiga tahun terakhir.

Di hadapan audiens Royal Asiatic Society, ia mengungkapkan hasil identifikasi terhadap 462 insiden ekologi yang mencakup kurun waktu 1950 hingga 2024. 

Masalah sistemik ini kemudian ia kategorikan ke dalam enam model pendidikan lingkungan unik yang tumbuh dari akar rumput masyarakat.

“Ragam pendidikan lingkungan terbentuk dari permasalahan lingkungan yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, setiap program memiliki sasaran yang berbeda,” kata Agus.

Model pendidikan tersebut mencakup kearifan lokal seperti dongeng, mitos, dan ritual keagamaan, hingga gerakan aktivisme serta inisiatif kepemimpinan komunitas.

Video: Tim Kreatif Glasial.id

Namun, ia menyayangkan degradasi pengaruh nilai-nilai tradisional ini akibat perubahan zaman dan gempuran teknologi. Agus menegaskan bahwa ketidakstabilan politik ekologi di Indonesia memperburuk kondisi alam secara signifikan.

“Sumber utama persoalan lingkungan di Indonesia adalah deforestasi dan manajemen yang buruk atas sampah,” tegasnya saat menguliti krisis yang kian mengkhawatirkan.

Menutup keterangannya, pakar sejarah pendidikan ini mendorong pemerintah agar lebih peka terhadap dinamika zaman dalam merumuskan solusi. Ia menuntut kebijakan yang lebih kontekstual dan berbasis pada kekuatan segmen masyarakat bawah.

“Pemerintah dapat membuat sinergi pendidikan lingkungan berbasis komunitas yang sudah ada di masyarakat,” tekannya sebagai langkah strategis memitigasi kehancuran ekosistem masa depan.

Sumber
ugm.ac.id