Tanam Kesadaran Menjaga Lingkungan Sejak Anak Masih Bisa Dipeluk

Kesadaran menjaga lingkungan harus ditanam sejak dini. Anak-anak adalah agen perubahan terbaik untuk masa depan bumi yang lebih sehat.

OPINI - Tanam Kesadaran Menjaga Lingkungan Sejak Anak Masih Bisa Dipeluk

Oleh: Rivo Wijaya
Aktif sebagai jurnalis di Harian Metro Riau

KESADARAN MENJAGA LINGKUNGAN bukan sesuatu yang tumbuh sendiri—ia perlu ditanam. Disiram. Dijaga. Seperti pohon yang kita harapkan tumbuh dan berkembang. Ladang paling subur untuk menanamnya adalah pikiran anak-anak yang masih terbuka, seperti gelas kosong.

Mereka akan menjadi generasi penerus. Maka rasa cinta terhadap lingkungan juga harus diwariskan. Dimulai dulu lewat pemikiran. Kalau mereka sudah paham, maka aksi yang dihasilkan tentu akan lebih tepat sasaran.

Setiap hari, jutaan ton sampah plastik berakhir di lautan, hutan-hutan gundul karena tangan manusia, dan udara kota makin berat dihirup. Semua itu bukan bencana alam—itu adalah akibat dari generasi yang tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan untuk peduli.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology oleh Chawla (1999) menemukan bahwa kecintaan terhadap alam pada orang dewasa hampir selalu bisa dilacak ke pengalaman masa kecil mereka di alam terbuka.

Artinya, apa yang dirasakan anak hari ini akan menentukan bagaimana ia memperlakukan bumi dua puluh tahun ke depan.

Ini bukan soal menakut-nakuti anak dengan cerita kiamat iklim. Ini soal memperkenalkan mereka pada keindahan yang perlu dijaga.

Seorang anak yang pernah merasakan tanah lembab di jari-jarinya, yang pernah melihat kupu-kupu hinggap di bunga halaman rumah, cenderung tumbuh dengan rasa memiliki terhadap alam.

Rasa memiliki itulah yang kemudian berubah menjadi perilaku nyata—membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak tanaman, mematikan lampu saat keluar ruangan.

Studi dari Environment and Behavior (Wells & Lekies, 2006) bahkan menemukan korelasi kuat antara kontak langsung anak dengan alam sebelum usia sebelas tahun dan tingkat kepedulian lingkungan saat dewasa. Semakin sering anak bermain di alam bebas, semakin besar kemungkinan ia menjadi orang dewasa yang pro-lingkungan.

Masalahnya, anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar daripada di bawah pohon. Richard Louv, dalam bukunya Last Child in the Woods (2005), menyebut fenomena ini sebagai “nature-deficit disorder”—bukan penyakit klinis, tapi kondisi budaya yang membuat anak-anak kehilangan koneksi dengan dunia alami mereka.

Ketika koneksi itu putus, kepedulian pun ikut menghilang. Anak yang tidak pernah mengenal sungai tidak akan merasa kehilangan saat sungai itu tercemar.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Jawabannya ada di tangan orang tua dan guru—dua pilar utama yang paling banyak berinteraksi dengan anak. Keduanya punya peran luar biasa besar untuk menjadi jembatan antara anak dan alam.

Mulai dari hal kecil yang bisa dilakukan di rumah: ajak anak menanam sayuran di pot, pilah sampah bersama-sama, atau sekadar berjalan kaki di taman sambil mengamati serangga. Aktivitas sederhana ini bukan sekadar kegiatan—ini adalah proses pembentukan karakter.

Di sekolah, pendidikan lingkungan seharusnya bukan hanya mata pelajaran yang dihafal untuk ujian. UNESCO dalam laporan Education for Sustainable Development (2014) menegaskan bahwa pendidikan lingkungan yang efektif harus bersifat experiential—berbasis pengalaman langsung, bukan sekadar teks di buku.

Guru yang mengajak muridnya berkebun, memantau kualitas udara di sekitar sekolah, atau mendaur ulang bahan bekas punya dampak jauh lebih besar daripada guru yang hanya menjelaskan siklus air di papan tulis. Anak belajar dengan tangan, bukan hanya dengan telinga.

Di sinilah keluarga dan sekolah harus bergerak bersama, bukan sendiri-sendiri. Ketika pesan yang sama tentang menjaga lingkungan datang dari rumah dan kelas, anak akan memandangnya bukan sebagai aturan, melainkan sebagai nilai hidup.

Dan nilai hidup jauh lebih kuat dari sekadar larangan. Anak yang dilarang membuang sampah sembarangan bisa melanggar aturan begitu tidak ada yang mengawasi—tapi anak yang mencintai alam tidak akan melakukannya meski sendirian di tengah hutan.

Penelitian dari Applied Environmental Education & Communication (Stern, 2000) menunjukkan bahwa nilai-nilai lingkungan yang tertanam kuat pada masa kanak-kanak cenderung bertahan sepanjang hidup dan bahkan menular ke orang-orang di sekitar mereka. Satu anak yang peduli bisa mengubah kebiasaan satu keluarga.

Bayangkan skala perubahan yang bisa terjadi jika jutaan anak di negeri ini tumbuh dengan kesadaran itu. Mereka bukan hanya akan menjaga lingkungan—mereka akan memimpin gerakan untuk memulihkannya.

Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia, namun juga salah satu yang paling cepat kehilangannya. Kita tidak punya waktu untuk menunggu generasi yang sudah dewasa berubah pikiran—kita harus berinvestasi pada generasi yang masih bisa dibentuk.

Menanam kesadaran menjaga lingkungan pada anak bukan pekerjaan sehari. Ini pekerjaan bertahun-tahun yang membutuhkan konsistensi, kreativitas, dan—yang paling penting—keteladanan dari orang dewasa di sekitar mereka.

Karena pada akhirnya, anak-anak tidak melakukan apa yang kita katakan. Mereka melakukan apa yang kita lakukan. Jadi sebelum mengajarkan anak mencintai bumi, tanyakan dulu pada diri sendiri: sudahkah kita melakukannya?

Referensi:

Chawla, L. (1999). Life Paths Into Effective Environmental Action. Journal of Environmental Education.

Wells, N. M., & Lekies, K. S. (2006). Nature and the Life Course. Environment and Behavior.

Louv, R. (2005). Last Child in the Woods. Algonquin Books.

UNESCO. (2014). Education for Sustainable Development.

Stern, M. J. (2000). Sense of Place and Environmental Attitude. Applied Environmental Education & Communication.


ARTIKEL TERKAIT

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat
Melawan Kiamat Iklim dari Teras Rumah
Kebebasan yang Semu Saat Algoritma Menentukan Apa yang Kita Beli

Read Also

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Penulis: Charly Simanullang | Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen...

Melawan Kiamat Iklim dari Teras Rumah

Oleh: Riki AriyantoMahasiswa Pascaserjana, Jurusan Komunikasi, Universitas Riau– Instagram @yuri_polala – KALAU kita...

Kebebasan yang Semu Saat Algoritma Menentukan Apa yang Kita Beli

Penulis: Charly SimanullangMahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen,Fakultas Ekonomi dan Manajemen Bisnis,Universitas Riau. TEORI...