Suku Sakai Riau hanya menguasai sekitar 270 hektar hutan adat dari jutaan hektar tanah leluhur mereka, yang kini dikuasai korporasi.

Suku Sakai Riau menyimpan kekayaan budaya dan alam yang luar biasa, namun kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: lahan adat mereka hampir habis tersapu ekspansi industri.
Dari hampir dua juta hektar tanah leluhur di Kabupaten Siak dan Bengkalis, hanya sekitar 1.129 hektar yang masih berada di tangan masyarakat adat, ditambah hutan adat yang kini menyusut hingga tinggal 270 hektar.
Peneliti dari Universitas Riau, M. Rawa El Amady, mendokumentasikan kondisi ini melalui riset etnografi berjudul Jelajah Sakai: Pengembangan Potensi Ethno-ecotourims Suku Sakai Riau, selama dua bulan di lima komunitas Sakai pada 2021.
Ia menemukan bahwa lahan Suku Sakai di Kabupaten Siak yang dikuasai perusahaan pada 2008 saja sudah mencapai 561.768 hektar, sedangkan di Bengkalis angkanya melonjak hingga 1.420.500 hektar yang dikuasai perkebunan sawit, karet, HTI, serta perusahaan minyak.
Tekanan industri tidak hanya merampas tanah, tapi juga mengikis identitas budaya. Tradisi pengobatan, ritual membuka ladang, hingga pengolahan ubi manggalo sebagai makanan khas, perlahan ditinggalkan.
“Karena hutan sebagai ruang praktik budaya, sudah tidak ada lagi,” tulisnya dalam penelitian itu.
Satu-satunya hamparan hutan perawan yang tersisa kini berada di Dusun Subanga Asal, Desa Kesumbo Ampai, Bengkalis. Di sinilah warga Sakai masih mencari tanaman obat, berburu, dan menjalankan sebagian tradisi leluhur mereka di antara pepohonan yang tersisa.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa Suku Sakai tidak dipersiapkan untuk bersaing di dunia industri. Dari 1942 hingga 1998, tidak ada upaya serius dari pemerintah maupun perusahaan untuk memberdayakan mereka, hingga akhirnya program pendidikan baru bisa diakses setelah era Reformasi.
“Padahal, dua kelompok besar Suku Sakai yakni Pebatinan Limo di Kabupaten Siak dan Pebatinan Solapan di Kabupaten Bengkalis memiliki potensi budaya yang sangat kaya,” jelasnya.
Ritual perkawinan, prosesi melahirkan, upacara kematian, hingga pengobatan tradisional yang dikenal dengan badikie merupakan warisan leluhur yang tidak ditemukan di suku manapun di Riau.
Ritual badikie menjadi yang paling dikenal luas, bahkan sudah menarik perhatian dari luar negeri. Proses ini melibatkan bomo atau dukun pengobatan yang menari diiringi gendang odok, menaburkan padi betih, dan membacakan mantra selama dua hingga tiga malam untuk menyembuhkan orang sakit.
Dalam penelitian itu, Rawa El Amady menegaskan bahwa wisata berbasis adat bisa menjadi jalan keluar sekaligus benteng pertahanan budaya Sakai.
Jika dikelola secara kolaboratif antara komunitas, pemerintah daerah, perusahaan, dan agen wisata, maka wisata etnoekowisata Sakai berpotensi menjadi sumber pendapatan alternatif sekaligus mendorong warga untuk menjaga hutan adat yang tersisa.
Lima komunitas Sakai yang diteliti semuanya berada di jalur strategis, terhubung langsung dengan jalan tol Pekanbaru–Dumai dan jalur lintas Sumatera.
Jarak dari Pekanbaru ke komunitas terdekat di Minas Barat hanya sekitar 45 kilometer, atau 15 menit berkendara, menjadikan kawasan ini sangat potensial sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang mudah dijangkau.





