Luas Hutan Primer Indonesia Menyusut, Berlawanan dengan Tren Global

Luas hutan primer Indonesia menyusut 295.595 hektare pada 2025, naik 14,2% dari tahun sebelumnya. Pertanian dan logging jadi pemicu utamanya.

Luas Hutan Primer Indonesia Menyusut, Berlawanan dengan Tren Global
DEFORESTASI: Penebangan hutan dalam skala besar dapat berdampak terhadap keseimbangan lingkungan ||| Foto: Tom Fisk / Canva Pro.

Glasial.id ||| Luas hutan primer Indonesia terus menyusut. Indonesia kehilangan sekitar 295.595 hektare sepanjang 2025. Angka ini naik 14,2 persen dibanding tahun 2024 yakni di angka 258.812 hektare.

Ini berlawan arah dengan kondisi hutan primer global yang justru mencatat penurunan signifikan dalam angka kehilangan hutan primer tropis.

Data terbaru dari GLAD Lab University of Maryland dan World Resources Institute (WRI) menunjukkan dunia kehilangan 4,28 juta hektare hutan hujan primer tropis pada 2025, turun 36,3 persen dibanding 6,73 juta hektare pada 2024.

Meski angka global membaik, capaian itu masih 46 persen lebih tinggi dibanding satu dekade lalu dengan laju kehilangan setara 11 lapangan sepak bola per menit.

Co-Director Global Forest Watch WRI Elizabeth Goldman menilai, penurunan global dalam satu tahun ini sebagai sinyal positif yang mencerminkan hasil nyata kebijakan pemerintah di berbagai negara.

Namun ia mengingatkan bahwa penurunan tersebut terjadi setelah fenomena kebakaran ekstrem pada tahun sebelumnya, sehingga ancaman ke depan belum sepenuhnya mereda.

“Kebakaran dan perubahan iklim saling memperburuk satu sama lain,” kata Elizabeth Goldman.

“Dengan El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026, investasi dalam pencegahan dan respons akan sangat krusial seiring kondisi kebakaran ekstrem yang makin menjadi norma,” sambungnya.

Meski tren global membaik, angka kehilangan hutan dunia saat ini setidaknya masih 70 persen di atas jalur yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen 2030 dalam menghentikan dan membalikkan deforestasi.

Target ambisius itu semakin sulit dicapai selama tekanan terhadap kawasan hutan di negara-negara tropis belum mereda secara signifikan.

Penurunan global sebagian besar ditopang oleh Brasil yang berhasil memangkas kehilangan hutan primer non-kebakaran sebesar 41 persen dibanding 2024, mencapai level terendah yang pernah tercatat.

Pencapaian itu sejalan dengan penguatan kebijakan lingkungan di bawah Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, termasuk peluncuran kembali rencana antideforestasi federal PPCDAm dan pengetatan sanksi terhadap kejahatan lingkungan.

Managing Director WRI Indonesia Arief Wijaya mengakui kehilangan hutan dalam beberapa tahun terakhir masih relatif terkendali, klaimnya.

Hal ini didukung oleh kebijakan pembatasan pembukaan hutan baru dan penguatan hak komunitas lokal dalam pengelolaan kawasan hutan.

Namun ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang kian besar bisa menjadi ujian berat bagi kemajuan yang telah dicapai.

“Namun tekanan ekonomi yang meningkat bisa menguji kemajuan tersebut—dan apakah kemajuan itu bisa bertahan akan bergantung pada seberapa baik pertumbuhan diseimbangkan dengan iklim dan alam,” katanya.

Merinci sumber penyusutan hutan primer Indonesia pada 2025, ekspansi pertanian menjadi penyebab terbesar dengan 127.079 hektare, disusul aktivitas logging yang mengakibatkan hilangnya 89.588 hektare.

Komoditas tambang menyumbang 15.220 hektare, sementara kebakaran lahan memicu kehilangan 13.149 hektare — angka ini lebih tinggi dibanding 9.011 hektare yang tercatat pada 2024.


ARTIKEL TERKAIT

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”
Program Penghijauan China Ubah Distribusi Air Tawar Nasional
PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?
Kunci Ekonomi Hijau Kita Ada di Energi Terbarukan, Mengapa Potensi Besar Itu Belum Tergarap?

Read Also

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”

Pemindaian Lidar terhadap salju di pegunungan ||| Foto: Airborne Snow Observatories, The Guardian....

Program Penghijauan China Ubah Distribusi Air Tawar Nasional

Program penghijauan China selama dekade terakhir terbukti mengubah distribusi air tawar. Riset ungkap...

PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?

Pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi open dumping. Pakar UGM ingatkan risiko bencana...