Glasial, Zaman Ketika Bumi Membeku dan Manusia Terpaksa Mengembara

Glasial adalah era pembekuan Bumi yang mengubah wajah peradaban awal manusia. Ini fakta menarik yang perlu kamu tahu tentang zaman es purba.

Glasial, Zaman Ketika Bumi Membeku dan Manusia Terpaksa Mengembara
Pemandangan Gletser yang Dramatis di Islandia ||| Foto: Nadja Pr / Canva Pro.

Glasial adalah periode panjang ketika suhu Bumi turun drastis. Gumpalan es meluber dari kutub, menutupi benua-benua besar. Permukaan laut menyusut, bahkan jauh di bawah kondisi normal.

Ini merupakan fenomena alam luar biasa. Mengubah wajah Bumi kita secara spesifik. Memaksa makhluk hidup, termasuk manusia purba, untuk beradaptasi, berpindah, dan bertahan dalam kondisi “paling ekstrem” yang pernah ada.

Selama masa glasial, permukaan laut turun rata-rata 100 meter. Air laut menguap, tersimpan di dalam gletser serta lapisan es yang terus tumbuh, membesar.

Wilayah yang kini kita kenal sebagai lautan, dulunya adalah daratan yang bisa dijelajahi dengan berjalan kaki.

Dalam buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas X, terbitan Grasindo, menyebutkan bahwa zaman glasial, terjadi lima kali pada masa Pleistosen.

Saat itu, sebagian besar Eropa, Amerika Utara, dan Asia bagian utara tertutup hamparan es. Sangat tebal. Termasuk di pegunungan Alpen, Karpathia, dan Himalaya.

Masa Pleistosen berlangsung mulai sekitar 600.000 tahun lalu, meskipun beberapa penelitian menyebut zaman es sudah pernah terjadi jauh sebelum periode itu.

Menurut Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia, karya Adi Sudirman, Pleistosen secara geologi berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu.

Nama Pleistosen berasal dari bahasa Yunani, yakni pleistos yang berarti “paling” dan kainos yang berarti “baru”. Dua kata itu menyatu menjadi penanda era yang menjadi salah satu babak paling dramatis dalam sejarah Bumi.

Hewan Raksasa Jadi Penghuni Zaman Es

Salah satu hal paling menarik dari zaman glasial adalah kehadiran fauna berukuran jumbo yang mendominasi daratan.

Mammoth berbulu lebat, kungkang purba berpostur besar, dan berbagai megafauna lainnya justru tumbuh subur di lingkungan yang membeku.

Ukuran tubuh yang besar membantu hewan-hewan ini menyimpan panas lebih efisien di tengah suhu yang menggigit.

Namun ketika zaman glasial berakhir dan suhu mulai menghangat, banyak dari mereka yang tidak mampu beradaptasi dan perlahan punah dari muka Bumi.

Lima Tanda Zaman Glasial Datang

Menurut buku Siswa Sejarah Indonesia SMA/MA Kelas 10 karya Windriati, S Pd, ada beberapa ciri khas yang menandai datangnya zaman glasial.

Suhu Bumi turun dalam kurun waktu yang sangat lama, sementara hamparan es di kutub dan gletser pegunungan meluas jauh melampaui batas normalnya.

Zaman glasial juga ditandai dengan munculnya pulau-pulau baru di kawasan Nusantara akibat turunnya muka air laut, dan garis pantai yang bergeser menjorok jauh ke tengah lautan.

Periode ini berakhir sekitar 20.000 tahun yang lalu, meninggalkan jejak geologi yang masih bisa terbaca hingga hari ini.

Manusia Purba Mengembara demi Kehangatan

Zaman glasial bukan hanya soal es dan dingin, tetapi juga soal bagaimana manusia purba merespons tekanan alam yang luar biasa berat.

Mengacu pada jurnal Zaman Glasial dan Zaman Interglasial oleh Faisal Respatiadi, manusia pada masa itu hidup berpindah-pindah dan terus-menerus melakukan penjelajahan.

Lautan yang membeku menjadi hamparan daratan baru yang bisa dilintasi manusia tanpa perahu.

Kondisi inilah yang memungkinkan perpindahan manusia purba antar benua, membentuk persebaran populasi yang kelak menjadi cikal bakal berbagai peradaban di seluruh dunia.

Dorongan utama migrasi bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan kebutuhan mendasar mencari wilayah yang lebih hangat dan kaya sumber makanan.

Di tempat yang lebih hangat, tumbuhan tumbuh lebih subur dan hewan buruan lebih mudah ditemukan.

Ketika Es Mencair, Daratan Tenggelam

Berakhirnya zaman glasial membawa perubahan besar yang tidak kalah dramatis.

Iklim memanas, es mencair, dan semua daratan yang sempat muncul akibat turunnya muka air laut perlahan kembali terendam.

Dua wilayah paling ikonik yang tenggelam adalah Paparan Sunda di Asia Tenggara dan Paparan Sahul di kawasan Australia-Papua.

Keduanya pernah menjadi jembatan darat yang menghubungkan pulau-pulau besar, dan kini tinggal menjadi cerita yang tersimpan di dasar laut.

Pemanasan Global Menunda Glasial Berikutnya

Siklus glasial sejatinya adalah fenomena alami yang berulang dalam rentang waktu ribuan tahun.

Namun pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia kini dipercaya para ilmuwan sebagai faktor yang menunda datangnya glasial berikutnya.

Suhu Bumi yang terus meningkat membuat kondisi untuk memulai fase pembekuan masif semakin sulit tercapai.

Ironisnya, justru di era ketika manusia paling memahami sejarah glasial, kita sendiri yang secara tidak sadar mengubah siklus alam yang telah berjalan jutaan tahun.


ARTIKEL TERKAIT

Glasial, Saat Lautan Menghilang

Read Also

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut

Seorang petani membawa karung jagung usai panen di ladangnya ||| Foto: Tuấn Nguyễn...

Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Momentum HUT ke-61

PT PGN terus menjaga resiliensi bisnis demi memastikan ketersediaan energi mandiri dan berkelanjutan...

Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru

Peneliti BRIN ungkap burung ruak-ruak punya kandungan glutamat dan asam lemak tinggi. Daging...