Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru

Peneliti BRIN ungkap burung ruak-ruak punya kandungan glutamat dan asam lemak tinggi. Daging burung kareo padi ini berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru
Kareo padi atau burung Ruak-ruak dengan nama ilmiah Amaurornis phoenicurus ||| Foto: Istimewa.

Burung ruak-ruak atau kareo padi dengan nama ilmiah Amaurornis phoenicurus ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber daging fungsional bernilai gizi tinggi, tidak hanya sebatas kuliner tradisional yang sudah lama dikenal di Kota Siantar, Sumatera Utara.

Peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN menemukan kandungan nutrisi burung ini sangat menarik, terutama asam glutamat dan komposisi asam lemak yang menonjol dibanding unggas lain.

Peneliti BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, menjelaskan soal temuannya dalam webinar Sharing Session Zoopedia Series ke-18 yang digelar secara hybrid di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno Cibinong, Kamis, 7 Mei 2026.

Penelitiannya berjudul: Potensi Burung Kareo Padi untuk Produksi Daging di Indonesia itu, mengungkap profil nutrisi daging burung ini jauh lebih kaya dari yang selama ini diketahui publik.

“Tingginya kandungan asam glutamat dan asam lemak tertentu ini memberikan gambaran mengapa daging kareo padi memiliki cita rasa khas dan diminati secara luas sebagai bahan pangan fungsional maupun kuliner tradisional,” ungkap Bayu.

Bayu menjelaskan daging burung ruak-ruak memiliki kandungan asam glutamat sebesar 0,48 persen, zat yang dikenal sebagai pencipta rasa gurih alami pada makanan.

Kandungan itulah yang selama ini menjadi alasan mengapa daging burung ini begitu digemari dan menjadi incaran wisatawan maupun masyarakat lokal di Siantar.

Dibandingkan spesies unggas lain seperti ayam, burung puyuh, pheasant, dan partridge, daging kareo padi mencatat komposisi asam lemak palmitic dan Saturated Fatty Acid atau SFA yang paling tinggi.

Temuan ini memperkuat argumen bahwa burung ruak-ruak layak dikaji lebih serius sebagai komoditas ternak alternatif di Indonesia.

“Berdasarkan uji sampel, terdeteksi 33 jenis asam lemak. Dimana komposisi asam lemak antara lain palmitic, stearic, elaidic, dan linoleic menunjukkan angka yang sangat tinggi,” terang Bayu yang meraih gelar Doktor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan dari Institut Pertanian Bogor.

Selama ini burung ruak-ruak lebih dikenal sebagai satwa liar yang hidup di area persawahan dan rawa-rawa di berbagai wilayah Indonesia. 

Namun temuan ilmiah ini membuka peluang baru untuk mengembangkan burung ini melalui program domestikasi dan pemuliaan hewan tropis yang lebih terstruktur.


ARTIKEL TERKAIT

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut
Filosofi dalam Rasa di Balik Sambal Empat Sungai
ANALISIS — Harga Emas Dunia Berpeluang Tembus USD 5.000
Faisal Beternak Unta untuk Kurban Idul Adha

Read Also

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut

Seorang petani membawa karung jagung usai panen di ladangnya ||| Foto: Tuấn Nguyễn...

PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?

Pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi open dumping. Pakar UGM ingatkan risiko bencana...

ANALISIS — Harga Emas Dunia Berpeluang Tembus USD 5.000

Harga emas dunia naik ke USD 4.723 per ounce. Analis prediksi emas bisa...