Cuaca Panas Ekstrem 2026 Berpotensi “Rontokkan” Produksi Pertanian Dunia

Cuaca panas ekstrem 2026 diperkirakan mengancam pertanian global, menurunkan panen, memicu kematian ternak dan ikan, serta memangkas jam kerja petani.

Sektor pertanian dunia akan menghadapi tekanan besar akibat situasi ini. Di sejumlah wilayah, suhu siang dan malam bertahan jauh di atas normal dalam waktu lama—memicu turunnya hasil panen, ternak mengalami stres, ikan mati, serta produktivitas pekerja ikut menurun.

Kekhawatiran ini sudah diungkapkan oleh  Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO bersama WMO dalam laporan terbarunya.

Kedua lembaga itu merilis laporan: Extreme Heat and Agriculture pada 22 April 2026—yang menegaskan sistem pangan global berada di garis depan krisis cuaca panas.

FAO mencatat lebih dari 1 miliar orang saat ini menghadapi ancaman panas ekstrem. Dampaknya sudah terasa langsung, terutama pada produktivitas tenaga kerja di berbagai sektor.

Setiap tahun, sekitar 500 miliar jam kerja hilang karena suhu terlalu tinggi sehingga pekerjaan tidak lagi aman dilakukan. Sektor pertanian menanggung dampak paling besar karena sebagian besar aktivitas berlangsung di ruang terbuka dengan perlindungan yang terbatas.

Dalam laporan tersebut, panas ekstrem dijelaskan sebagai periode ketika suhu siang dan malam naik melampaui kondisi normal dalam waktu cukup lama. Situasi ini dapat memicu tekanan fisik dan kerusakan pada tanaman, ternak, ikan, pohon, hingga manusia.

Malam hari yang tetap panas membuat dampaknya semakin berat. Tubuh manusia, hewan, dan tanaman kehilangan waktu untuk memulihkan diri setelah terpapar suhu tinggi pada siang hari.

Selama setengah abad terakhir, frekuensi, intensitas, dan lamanya gelombang panas meningkat tajam. FAO memperkirakan panas ekstrem bisa menjadi dua kali lebih kuat jika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius.

Risiko itu bahkan bisa melonjak empat kali lipat jika suhu bumi naik hingga 3 derajat Celsius dibandingkan level 1,5 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi sektor pangan dunia.

Di lahan pertanian, suhu di atas 30 derajat Celsius sudah cukup untuk menurunkan hasil banyak komoditas utama. Panas berlebih dapat melemahkan dinding sel tanaman, membuat serbuk sari mandul, dan mengganggu pembentukan biji.

Tanaman seperti kentang dan barley dinilai lebih rentan karena batas toleransinya lebih rendah. Di lapangan, petani biasanya melihat tanda-tanda seperti bunga tidak berisi, daun cepat layu, dan ukuran buah mengecil.

FAO mencontohkan kawasan pegunungan Fergana di Kyrgyzstan pada musim semi 2025. Saat itu suhu mencapai 30,8 derajat Celsius atau sekitar 10 derajat di atas normal, sehingga panen serealia turun hingga 25 persen.

Cuaca panas juga memicu penguapan lebih tinggi, kapasitas irigasi menurun, dan serangan belalang meningkat. Gandum serta tanaman buah ikut terdampak akibat kejutan suhu.

Di peternakan, tekanan mulai terasa saat suhu melewati 25 derajat Celsius untuk banyak jenis hewan. Ayam dan babi termasuk yang paling rentan karena tidak memiliki mekanisme berkeringat.

Ketika cuaca panas datang, hewan cenderung mencari tempat teduh, lebih banyak minum, makan lebih sedikit, dan membatasi gerak. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa memicu gangguan pencernaan, kerusakan organ, hingga syok kardiovaskular.

Pada sapi perah, produksi susu ikut menurun bersama kadar lemak dan protein. Dampaknya bisa mengganggu pasokan pangan berbasis susu di sejumlah wilayah.

Di perairan, panas menimbulkan masalah berbeda karena air hangat menyimpan oksigen lebih sedikit. Ikan harus bernapas lebih cepat untuk bertahan hidup dan berisiko mengalami gangguan jantung.

FAO mencatat 91 persen lautan dunia mengalami setidaknya satu gelombang panas laut sepanjang 2024. Situasi ini menjadi ancaman besar bagi sektor perikanan tangkap maupun budidaya.

Cuaca panas ekstrem juga sering diikuti ancaman lain berupa kekeringan mendadak atau flash drought. Tanah cepat kehilangan kelembapan sehingga akar tanaman kekurangan air.

Kasus seperti ini terjadi di Amerika Serikat, Rusia, Australia, China, dan Brasil. Di Brasil, hasil kedelai turun hingga 20 persen pada akhir 2023 sampai 2024 ketika suhu rata-rata bertahan sekitar 7 derajat di atas normal.

Buruh tani menjadi kelompok yang paling rentan karena harus mengangkat beban, berjalan jauh, dan bekerja di bawah terik matahari. Risiko dehidrasi, cedera ginjal, penyakit kronis, hingga kematian meningkat tajam.

Menurut FAO, jumlah hari dalam setahun ketika cuaca terlalu panas untuk bekerja bisa mencapai 250 hari di banyak wilayah Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara tropis, serta sebagian Amerika Tengah dan Selatan. Kondisi ini mengancam ekonomi pedesaan yang bergantung pada tenaga kerja lapangan.

Sistem peringatan dini menjadi salah satu solusi utama untuk menghadapi ancaman tersebut. Dengan informasi suhu tinggi beberapa hari sebelumnya, petani bisa mengatur ulang jadwal tanam, menambah mulsa, menyimpan air, dan memindahkan irigasi ke pagi atau malam hari.

Untuk ternak, pakan diberikan pada jam yang lebih sejuk agar panas metabolik berkurang. Langkah sederhana ini dinilai cukup efektif mengurangi stres pada hewan.

FAO juga mencontohkan proyek di Kamboja yang membantu sekitar 450 ribu petani melalui stasiun cuaca dan aplikasi ponsel. Saat suhu diperkirakan melewati 38 derajat Celsius, petani menerima panduan cepat untuk melindungi tanaman.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah memakai bibit tahan panas dan tahan kering, mengganti jenis ternak ke kambing atau domba, serta menggunakan penyimpanan dingin bertenaga surya. Upaya ini penting agar hasil panen tidak cepat rusak saat suhu melonjak.

Ketahanan pangan masa depan akan sangat ditentukan oleh kecepatan adaptasi saat ini. Sawah, kebun, kandang, dan laut mulai merasakan dampak awal dari suhu bumi yang terus meningkat.

Jika respons berjalan lambat, dampaknya akan terlihat di pasar. Harga pangan bisa semakin mahal, pasokan makin rapuh, dan musim panen menjadi lebih sulit diprediksi.

Sumber: CNBC Indonesia ||| Tulisan ini disunting ulang oleh tim redaksi Glasial.id


ARTIKEL TERKAIT

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”
Glasial, Saat Lautan Menghilang
Faisal Beternak Unta untuk Kurban Idul Adha
Mitigasi Karhutla di Riau, PHR Perkuat Strategi Jaga Objek Vital Nasional

Read Also

Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Momentum HUT ke-61

PT PGN terus menjaga resiliensi bisnis demi memastikan ketersediaan energi mandiri dan berkelanjutan...

Faisal Beternak Unta untuk Kurban Idul Adha

Ternak unta untuk kurban mulai dikembangkan di Mojokerto. Peternak datangkan 32 ekor dari...

Glasial, Zaman Ketika Bumi Membeku dan Manusia Terpaksa Mengembara

Glasial adalah era pembekuan Bumi yang mengubah wajah peradaban awal manusia. Ini fakta...