Ternak unta untuk kurban mulai dikembangkan di Mojokerto. Peternak datangkan 32 ekor dari Australia sejak 2025 untuk breeding dan wisata edukasi.

Ternak unta untuk kurban kini mulai dilirik sebagai peluang baru di Indonesia, dibuktikan dengan hadirnya Berkah Wafa Farm di Dusun Dateng, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Mojokerto.
Peternakan ini menjadi satu-satunya tempat breeding unta di peternakan kampung di Jawa Timur, sekaligus membuka peluang wisata edukasi bagi masyarakat yang ingin melihat unta dari dekat.
Pemilik Berkah Wafa Farm, Faisal Effendi, mendatangkan 32 ekor unta langsung dari Australia sejak tahun 2025. Sebagian besar unta itu sudah laku dibeli kebun binatang di Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, sehingga saat ini tersisa 5 hingga 6 ekor di kandang.
“Kita datangkan dari Australia. Jadi, yang pertama kemarin kita habiskan untuk zoo. Jadi zoo di Bali, zoo di Jawa Tengah, di Jawa Barat, ngambil ke kami. Ya, untuk tahun 2025 habis, sedangkan 2026 ini kita sisakan 5 sampai 6 ekor. Jadi ada beberapa yang sudah diambil teman-teman, ada juga yang kita titipkan,” kata Faisal.
Faisal menyebut merawat unta jauh lebih praktis dibanding sapi. Unta punya daya tahan tubuh yang lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku, LSD, maupun demam yang kerap menyerang sapi.
“Saya kira lebih praktis, lebih gampang karena makannya juga gampang, terus pertumbuhannya memang agak lama, tapi unta lebih kuat daya tahan tubuhnya dibanding sapi,” ujarnya.
“Kalau sapi kan gampang kembung, terus gampang kena perubahan cuaca sehingga mudah sakit. Apalagi sekarang kan ada PMK, ada LSD, sama juga demam pada sapi,” bebernya.
Faisal kini fokus pada proses breeding atau pengembangbiakan unta di peternakannya. Ia juga membuka kemungkinan menjual unta sebagai hewan kurban, dengan syarat unta sudah mencukupi usia yang ditentukan.
“Selain untuk zoo, kita ingin mengembangkan untuk diternakkan. Kita ingin breeding supaya nanti ke depan ada hewan kurban unta. Kita jual-belikan untuk kurban. Tapi kita harus menyesuaikan dengan umur unta yang sudah cukup tua,” tuturnya.
Salah satu hal yang membuat publik kagum adalah kemampuan unta beradaptasi dengan iklim tropis Mojokerto yang jauh berbeda dari habitat aslinya di gurun. Unta-unta itu bahkan sering dilepas mencari makan di sekitar persawahan sore hari dan bisa kembali sendiri ke kandang tanpa perlu diawasi peternak.
Faisal menegaskan, breeding unta di peternakan kampung seperti miliknya belum pernah ada sebelumnya di Jawa Timur. Selama ini pengembangbiakan unta hanya dikenal di lingkungan kebun binatang.
“Makanya mau kita kembangkan untuk di sini, di-breeding. Ini sementara belum, mungkin tahun depan ya. Masih fokus di breeding. Supaya berkembang di unta kalau untuk zoo itu kan sudah biasa, sudah banyak, sudah bertahun-tahun tapi kalau untuk di ternak, di peternakan kampung belum ada,” ujarnya.







