Daerah Didesak Segera Lakukan Mitigasi Kekeringan Akibat Ancaman Musim Kemarau Ekstrem 2026

Musim kemarau ekstrem 2026 diprediksi puncaknya Agustus. Kementan minta pemda segera lakukan mitigasi kekeringan mulai dari sebelum hingga saat kemarau tiba.

Daerah Didesak Segera Lakukan Mitigasi Kekeringan Akibat Ancaman Musim Kemarau Ekstrem 2026
ABRASI: Potensi gelombang laut yang tinggi akibat kemarau eksrem dapat mempercepat pengikisan bibir pantai ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Glasial.id ||| Musim kemarau ekstrem 2026 diprediksi mulai melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada April hingga Juni, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.

Kementerian Pertanian (Kementan) mendesak pemerintah daerah segera memperkuat antisipasi dan mitigasi agar sektor pertanian tidak terdampak parah akibat kekeringan.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan RI, Muhammad Agung Sanusi, menyampaikan bahwa prediksi musim kemarau ini diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap merambah ke wilayah Indonesia lainnya.

“Seluruh pemangku kepentingan harus bergerak cepat sebelum kondisi kekeringan benar-benar melanda,” ujarnya, melalui YouTube Kemendagri pada Selasa, 5 Mei 2026.

Muhammad Agung Sanusi menekankan pentingnya langkah konkret yang harus segera dilakukan mengingat waktu yang tersedia masih cukup untuk persiapan.

Selagi curah hujan masih tinggi pada April dan Mei 2026, Kementan meminta pemda berkoordinasi dengan petani untuk mengoptimalkan irigasi perpompaan dan perpipaan

Penanaman di lahan cetak sawah dan lahan siap tanam juga didorong untuk dimaksimalkan sebelum musim kemarau benar-benar tiba.

Kementan telah menjabarkan langkah mitigasi secara bertahap, mulai dari fase sebelum kemarau, saat kemarau, hingga setelah kemarau berlalu.

Sebelum kemarau, pemda diminta melakukan perencanaan musim tanam dengan memetakan wilayah langganan kekeringan, memantau prediksi curah hujan dari BMKG secara rutin, menyiagakan brigade kekeringan, serta memperkuat koordinasi dan sinergi antar pihak.

Pada fase persiapan ini, penyediaan sarana produksi juga menjadi prioritas utama.

Pemda diminta menyiapkan benih tahan kekeringan, melakukan pemupukan berimbang dan tepat waktu, serta memperkuat infrastruktur air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, sumur dangkal atau dalam, dan long storage.

Saat kemarau tiba, pengelolaan lahan hemat air melalui irigasi intermiten dan sistem gilir air menjadi langkah adaptasi utama yang dianjurkan.

Pola tanam adaptif juga perlu diterapkan dengan memprioritaskan lahan rawa, meningkatkan indeks pertanaman di lahan irigasi teknis, serta memanfaatkan pompa di lahan kering dan tadah hujan.

Untuk mengurangi dampak kerugian akibat kekeringan, Kementan mendorong pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan bantuan benih gratis bagi petani yang mengalami puso.

Penjadwalan tanam secara bertahap dan tidak serempak juga dianjurkan sebagai bagian dari manajemen risiko produksi agar dampak kekeringan tidak menghantam seluruh lahan sekaligus.

“Pemerintah juga menyiapkan sejumlah bantuan untuk mendukung petani menghadapi kemarau panjang,” ujarnya.

Bantuan pompa air irigasi, pembangunan konservasi benih, dan subsidi input pertanian lainnya disiapkan sebagai jaring pengaman agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga meski musim kemarau ekstrem mengancam.