Hutan Mangrove, Benarkan Benteng Pesisir Indonesia Itu Kian Rentan?

Hutan mangrove di Indonesia menghadapi ancaman alih fungsi lahan, pencemaran, dan reklamasi yang memicu kerusakan pesisir.


Hutan Mangrove, Benarkan Benteng Pesisir Indonesia Itu Kian Rentan?
MANGROVE: Menanam bibit mangrove di bibir pantai ||| Foto: Mike Mijares

Hutan mangrove menjadi salah satu ekosistem pesisir paling penting karena menopang keanekaragaman hayati, menjaga garis pantai, dan menyerap karbon biru dalam jumlah besar.

Namun di Indonesia, kawasan ini terus menghadapi tekanan serius akibat aktivitas manusia dan perubahan tata ruang pesisir.

Mangrove tumbuh di wilayah peralihan darat dan laut dengan kondisi ekstrem. Struktur akar yang rapat menciptakan habitat alami bagi ikan, udang, kepiting, moluska, serta berbagai biota laut lainnya.

Fungsi itu menjadikan mangrove sebagai area pembesaran atau nursery ground bagi banyak spesies muda.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut keberadaan mangrove sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan perikanan pesisir.

Selain menopang biodiversitas, hutan mangrove juga berperan besar dalam menjaga kualitas lingkungan.

Studi terbaru di Indonesia mencatat potensi karbon biru mangrove mencapai 3.267,87 MtC, menjadikannya aset penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Akar mangrove mampu menahan lumpur, menyaring partikel pencemar, serta mengurangi erosi.

The Nature Conservancy menjelaskan vegetasi ini juga efektif meredam gelombang dan menekan abrasi di kawasan pantai.

Di Indonesia, luas mangrove berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025 tercatat mencapai 3.455.628 hektare.

Data tersebut menunjukkan betapa strategisnya posisi ekosistem ini bagi ketahanan wilayah pesisir nasional.

Namun ancaman terbesar terhadap hutan mangrove datang dari alih fungsi lahan.

Kawasan mangrove banyak berubah menjadi tambak, permukiman, perkebunan, hingga proyek reklamasi yang menghilangkan tutupan hutan secara permanen.

Konversi lahan ini tidak hanya memangkas luas kawasan hijau, tetapi juga memecah habitat satwa pesisir.

Dampaknya, rantai makanan terganggu dan hasil tangkapan nelayan ikut menurun.

Penebangan liar juga masih terjadi di sejumlah daerah. Pengambilan kayu untuk bahan bangunan, arang, atau pembukaan lahan membuat struktur akar rusak dan menurunkan daya tahan pohon terhadap gelombang laut.

Ancaman lain datang dari limbah domestik, industri, tumpahan minyak, serta sampah plastik.

Pencemaran tersebut merusak sedimen dan menghambat pertumbuhan vegetasi mangrove maupun biota yang hidup di sekitarnya.

Reklamasi dan pembangunan infrastruktur pesisir turut memperparah kondisi.

Perubahan aliran air pasang surut sering memutus konektivitas habitat dan membuat mangrove sulit berkembang secara alami.

Saat mangrove rusak, wilayah pantai menjadi lebih rentan terhadap abrasi, banjir rob, hingga gelombang tinggi.

Karena itu, hilangnya mangrove bukan sekadar kehilangan hutan, tetapi ancaman langsung bagi keselamatan masyarakat pesisir.

Berbagai riset menegaskan mangrove yang utuh dan kaya spesies memberi layanan ekosistem lebih baik dibanding kawasan rusak atau monokultur. 

Perlindungan mangrove karena itu tidak cukup hanya dengan penanaman, tetapi juga menjaga kualitas air dan keseimbangan habitat.

Pemerintah dan pemangku kepentingan didorong memprioritaskan perlindungan kawasan yang masih sehat.

Rehabilitasi berbasis ekosistem, penegakan hukum, dan penghentian alih fungsi lahan menjadi langkah penting untuk menyelamatkan pesisir Indonesia.

Referensi
– Jurnal Geografi: peran mangrove sebagai penopang keanekaragaman hayati
– FAO: hubungan mangrove, padang lamun, dan perikanan melalui fungsi nursery
– The Nature Conservancy: mangrove untuk perlindungan pesisir dan penahan sedimen
– ANTARA/KLH: luas mangrove Indonesia dalam Peta Mangrove Nasional 2025
– Studi terbaru tentang blue carbon dan pengelolaan mangrove di Indonesia


ARTIKEL TERKAIT

Perubahan Iklim Hancurkan Lapisan Salju, Puncak Terjal Sierra Nevada “Gundul”
Program Penghijauan China Ubah Distribusi Air Tawar Nasional
PENDAPAT — Open Dumping Sampah Ancam Bencana, Apa Solusinya?
Kunci Ekonomi Hijau Kita Ada di Energi Terbarukan, Mengapa Potensi Besar Itu Belum Tergarap?

Read Also

Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Momentum HUT ke-61

PT PGN terus menjaga resiliensi bisnis demi memastikan ketersediaan energi mandiri dan berkelanjutan...

Faisal Beternak Unta untuk Kurban Idul Adha

Ternak unta untuk kurban mulai dikembangkan di Mojokerto. Peternak datangkan 32 ekor dari...

Glasial, Zaman Ketika Bumi Membeku dan Manusia Terpaksa Mengembara

Glasial adalah era pembekuan Bumi yang mengubah wajah peradaban awal manusia. Ini fakta...