Rancangan transisi energi Indonesia meliputi PLTS 100 GW, biodiesel B50, dan kendaraan listrik. Prabowo dorong ASEAN percepat diversifikasi energi kawasan.

Rancangan transisi energi Indonesia kini melangkah lebih jauh dari sekadar agenda nasional, menjadi bagian dari strategi ketahanan energi kawasan ASEAN di tengah gejolak geopolitik global.
Pemerintah Indonesia mempercepat sejumlah program besar sekaligus mendorong negara-negara Asia Tenggara bergerak lebih cepat membangun sistem energi yang berkelanjutan.
Indonesia menilai diversifikasi energi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Fluktuasi harga minyak, gangguan rantai pasok internasional, dan ketidakpastian geopolitik global membuat ketergantungan pada satu sumber energi semakin berisiko.
Pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 Gigawatt sebagai bagian dari agenda transisi energi besar-besaran.
Program lain yang berjalan paralel mencakup peningkatan mandatori biodiesel menuju B50 dan percepatan adopsi kendaraan listrik nasional.
Langkah-langkah itu selaras dengan pernyataan tegas Presiden Prabowo dalam forum pleno KTT ASEAN yang menyerukan seluruh negara anggota bersiap menghadapi kemungkinan gangguan energi berkepanjangan.
Presiden menegaskan ketahanan energi kawasan tidak bisa dibangun dengan pendekatan reaktif semata.
“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin ASEAN.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia ingin memainkan peran sentral dalam arsitektur energi baru ASEAN.
Indonesia tidak hanya menjaga kepentingan nasional, tetapi juga mendorong penguatan kerja sama regional dalam menghadapi ancaman krisis energi global.
Solidaritas ASEAN dalam urusan energi kembali diuji di tengah ketidakpastian yang terus meningkat. Kawasan ini harus memilih antara tetap bergantung pada pola lama atau bersama-sama membangun kemandirian energi yang lebih adaptif.
Ketahanan energi ASEAN, menurut perspektif Indonesia, bukan hanya soal memastikan pasokan listrik dan bahan bakar tetap mengalir. Ini juga menyangkut solidaritas kawasan, kemandirian ekonomi, dan masa depan bersama yang lebih stabil bagi seluruh negara Asia Tenggara.





