PEMERINTAH Rusia mengambil langkah tegas dengan menghentikan total pasokan minyak ke seluruh negara yang mematuhi kebijakan pembatasan harga (price cap). Keputusan ini menjadi respons langsung Moskow terhadap tekanan kelompok G7 yang dianggap merusak mekanisme pasar bebas dan mengancam stabilitas rantai pasok energi global.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada skema yang dianggap sebagai tindakan anti-pasar tersebut. Menurutnya, kebijakan Barat hanya akan memicu ketidakpastian yang lebih besar di tengah situasi geopolitik yang kian memanas.
“Rusia tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung skema provokatif ini,” kata Andrey Rudenko dalam wawancara dengan harian Rusia Izvestia, dikutip dari Anadolu Ajansi.
Langkah keras Moskow ini muncul saat pasar energi dunia sedang berada dalam titik didih. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah sejak akhir Februari telah menyebabkan lonjakan harga minyak yang signifikan. Situasi semakin kritis setelah Iran melakukan aksi balasan dengan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang mengangkut seperlima pasokan minyak harian dunia.
Kepala Ekonom JP Morgan, Bruce Kasman, memperingatkan bahwa pemblokiran Selat Hormuz dapat membawa dunia ke krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia memprediksi angka di papan harga akan segera menembus level psikologis baru.
“Jika Selat Hormuz tetap ditutup, maka harga minyak kemungkinan akan tembus mencapai US$ 150 per barel atau setara Rp 2,55 juta per barel dan diprediksi bisa lebih tinggi lagi,” ujar Bruce Kasman mengutip laporan Russia’s Pivot to Asia.
Menghadapi ancaman inflasi energi, Departemen Keuangan Amerika Serikat sebenarnya sempat melunakkan posisi dengan memberikan pengecualian sementara terhadap transaksi minyak Rusia hingga 12 April mendatang. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai upaya darurat untuk meredam gejolak harga yang dipicu ketegangan di Timur Tengah.
“Langkah itu bertujuan menjaga stabilitas harga energi. Terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang dipicu konflik di Iran,” jelas Scott Bessent.
Namun, Rusia tampaknya sudah membulatkan tekad untuk mengubah arah komoditas energinya. Moskow kini secara aktif mempercepat pengalihan fokus ekspor gas alam cair (LNG) dan minyak mentah ke pasar Asia, terutama ke negara-negara yang dinilai kooperatif seperti Cina, India, dan Vietnam. Langkah strategis ini sekaligus menjadi jawaban atas rencana Uni Eropa yang ingin menyetop total impor LNG Rusia pada tahun 2027, dengan memposisikan negara-negara Barat di urutan terakhir dalam daftar distribusi energi mereka.***





