Glasial.id ||| Bayangkan, seseorang menyodorkan sepiring camilan berwarna hijau keemasan, renyah, dan harum. Lalu, Anda memakannya. Rasanya gurih, krispi. Lalu orang itu tersenyum dan berkata, “Itu dari buah pare.”
Pengunjung, selalu mengernyitkan dahi. Kadang-kadang mereka tertawa — karena ini sulit dipercaya. Tapi, ada juga yang malah nambah satu bungkus lagi.
Itulah momen yang selalu terulang setiap kali Suryani membuka stan di pameran UMKM di banyak bazar di Pekanbaru. Pertengahan Mei 2026 lalu, saya mampir ke stan UMKM Suryani di sebuah bazar yang digelar Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, dan menyicip keripik pare itu.
“Banyak yang tidak percaya kalau ini dari buah pare. Coba saja dulu,” kata Suryani.
Buah pare (peria), merupakan sayur hijau bergerigi. Semua dari kita tahu, kalau selama ini, sayuran itu lebih sering disisihkan di pinggir piring. Sayur yang namanya saja sudah membuat anak-anak bergidik.
Tapi di tangan Suryani, pare berubah menjadi sesuatu berbeda. Menjadi sebungkus keripik renyah bernama “Bigone”, yang kini perlahan menapaki pasar, bahkan hingga ke luar negeri.
Kisah ini dimulai jauh sebelum nama itu lahir.
Sekitar akhir 2019, Suryani dan suaminya, Jefri, masih tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Mereka mencoba peruntungan dengan berjualan keripik singkong dan keripik tempe. Rasanya memang Enak. Tapi saingannya, luar biasa banyak.
“Setelah dari Batam, kami pindah ke Taluk Kuantan dan mulai coba buka usaha keripik. Tapi melihat Pekanbaru lebih berpotensi, akhirnya kami pindah, han tercetuslah keripik pare,” kenang Suryani.
Ide mengolah pare menjadi keripik juga bukan datang tiba-tiba.
Suryani dan Jefri sadar bahwa untuk bertahan di tengah produk serupa, mereka butuh sesuatu yang berbeda, yakni produk yang membuat orang mau untuk mampir, penasaran, akhirnya mencoba.
Memilih pare untuk dijadikan keripik bukan perkara mudah. Tapi, di sinilah tantangannya. Tidak semua orang berani mencoba, dan Suryani berhasil mengubah buah pahit itu menjadi keripik yang gurih dan renyah.
Ia bercerita, awal mula mengolah pare menjadi keripik, tidak sekali dua mereka gagal. Kadang-kadang gosong di penggorengan, kadang-kadang rasa pahit masih terasa, tektur tang tidak pas. “Macam-macamlah tantangannya,” kata Suryani.
“Tapi kami tak menyerah. Coba terus, meski beberapa kali gagal. Sampai akhirnya kami berhasil membuat keripik pare Bigone seperti sekarang ini,” kata Suryani.
Kuncinya, kata dia, telah pare di potong tipis, harus direndam dalam air garam selama sekitar empat jam sebelum dicampur tepung dan bumbu alami. Proses ini mungkin terlihat sederhana, tapi sejatinya butuh waktu, kesabaran, dan ratusan kali percobaan untuk benar-benar sempurna.
“Kami tidak menggunakan bahan pengawet. Kami cuma pakai tepung dan bumbu,” ujarnya.
Saat ini, keripik pare Suryani dikenal pelanggannya dengan nama “Bigone”. Suryani tertawa saat saya menanyakan asal-usul nama itu. Sebab kata ini diambil dari bahasa Inggris “Big One”. Yang dimaksud Suryani juga bukan arti “yang besar”. Tapi, “besar satu”.
“Kami berharap, ini bisa menjadi sesuatu yang besar. Itu memang cita-cita kami dari awal,” ungkapnya. Tapi, jika nama ini yang dipakai, mungkin semua orang yang mendengarnya akan tertawa. Apa yang besar. Persepsinya mungkin bisa negatif.
“Sebagai kita orang timur, nama itu kemudian diplesetkan menjadi ‘Bigone’ (dibaca: Bigone) — sederhana, akrab, dan mudah diingat,” ujarnya.
Kini, dari dapur yang sama, Suryani mampu memproduksi sekitar 100 bungkus keripik pare per hari, dijual seharga Rp15 ribu untuk kemasan 75 gram.
Selain keripik pare, lini produknya juga berkembang ke keripik tempe, keripik bronis, hingga kerupuk kulit ikan salmon.
Saat mengikuti berbagai pameran UMKM di Pekanbaru, stannya selalu ramai oleh pengunjung yang penasaran. Banyak yang datang hanya ingin tahu, bagaimana caranya sayur sepahit pare bisa berubah menjadi camilan serenyah itu?
“Karena banyak yang penasaran, pare jadi keripik. Ada juga yang tanya-tanya tips pembuatannya,” katanya sambil tertawa kecil.
Keripik pare Bigone kini mulai dilirik oleh buyer dari Malaysia. “Kalau kita siap saja, karena untuk kapasitas produksi kita mampu,” katanya,
Sambil berjalan pulang meninggalkan stan yang dijaga Suryani, saya ingat suatu ungkapan; rasa pahit adalah rasa yang paling jujur.
Saya jadi berpikir kalau kalimat itu ada benarnya. Rasa pahit itu tidak menipu. Memang tidak menyenangkan di awal, tapi justru itulah yang membuatnya tak terlupakan.
Mungkin itulah filosofi paling pas untuk kisah Suryani dan Jefri. Dua orang ini memilih jalan yang tidak mudah. Mengolah sesuatu yang tidak disukai banyak orang, menjadi sesuatu yang digemari. Mereka berhasil membuktikan bahwa sesuatu yang pahit selalu ada kemungkinan untuk menjadi gurih.
Made Waruwu | Penulis tamu untuk Glasial.id







