Kisah Mie Sagu Bengkalis ke Panggung Nasional

Kisah Mie Sagu Bengkalis ke Panggung Nasional
Produk mie sagu khas Bengkalis merk Makcio || Foto: IG @makcio_pekanbaru.
A-AA+A++

Oleh: Rivo Wijaya
Penulis Tamu untuk Glasial.id


SIANG itu, Minggu 22 November 2025, cuaca Pekanbaru begitu bersahabat. Sinar matahari yang tak terlalu terik memantul redup di deretan ruko di Jalan Teratai, nomor 202A, Kecamatan Sukajadi.

Di antara bangunan itu, terdapat sebuah ruko yang kerap diperbincangkan para pecinta kuliner, yakni Roemah Miso & Misagu Bengkalis Makcio. 

Begitu saya melangkah masuk, Nur Fitria (42), pemilik usaha itu, menyambut dengan senyum hangat. Sambil duduk, Ia bercerita tentang bagaimana mi sagu menjadi jejak perjalanan yang menuntunnya hingga sampai ke titik sekarang. 

“Kalau bicara perjalanan cukup panjang,” sebut Nur Fitria sambil tersenyum lirih, disela aroma cabai tumis dari dapur yang sesekali menyelinap keluar terbawa angin. 

Di dapur yang tak begitu luas, 20 kilogram cabai setiap kali proses berubah menjadi sambal-sambal yang menjadi andalan Makcio.

Bau pedas yang menguar bukan hanya wangi bumbu, melainkan wangi ketekunan yang sudah bertahan lebih dari satu dekade.

Bahkan dari sini jugalah lahir inovasi yang kini dikenal luas, mi sagu instan dan sambal lauk sepinggan, dua produk lokal yang pelan-pelan bergerak menembus pasar nasional. 

Kalau dilihat, dapur Makcio itu mungkin kecil, tetapi cerita yang keluar darinya tidak pernah sempit.

Di balik setiap kemasan mi sagu instan yang kini melanglang ke luar Pekanbaru, tersimpan cerita dari dapur yang simpel namun kokoh. 

Wanita paruh baya yang akrab disapa Fitri ini masih mengingat benar hari ia menanggalkan kartu identitas kantornya. Setelah 14 tahun bekerja di sebuah perusahaan konsorsium di Bengkalis, ia memutuskan mundur pada 2014.

Saat pindah ke Pekanbaru mengikuti suami, ia justru diterpa kebingungan. Karier yang sudah dibangunnya menghilang dalam semalam. Hari-harinya terasa seperti kertas kosong.

“Awalnya saya sempat tidak tahu mau ngapain,” sebutnya lirih mengingat masa lalu. 

Hingga suatu saat, Fitri teringat pada resep keluarganya, yaitu mi sagu Melayu yang turun temurun diwariskan dan menjadi hidangan istimewa di Bengkalis dan Kepulauan Meranti.

Ditambah hobi memasaknya, serta kenyataan bahwa kuliner khas itu belum banyak ditemukan di Pekanbaru, ide itu menjelma menjadi keberanian kecil untuk berjualan mi sagu. 

“Ini merupakan resep keluarga turun temurun. Dan kebetulan saya juga hobi masak, dan dari situlah saya mulai mencoba untuk berjualan mi sagu khas Melayu, Bengkalis pada 2015,” ucap Fitri seraya mengingat perjalanannya. 

Ia memasak, menimbang rasa, dan menjualnya sendiri dari dapurnya. Tak disangka, mi sagunya viral. Orang berdatangan bukan hanya sekadar untuk makan, tetapi untuk bernostalgia dengan masa kecil, dengan kampung halaman, dan dengan sagu yang mengikat identitas. 

Selain itu, nama “Makcio” sendiri diambil dari nama anak pertamanya, kemudian karena dirasa cocok, diresmikan menjadi merek usaha. Nama yang hangat, akrab, dan terasa seperti rumah.

“Jadi Makcio itu diambil dari nama anak pertama saya,” bebernya sambil tersenyum.


Lahirnya Mi Sagu Instan

Inovasi itu datang tanpa diketuk, tanpa rencana, tanpa rapat panjang yang biasanya penuh angka dan strategi.

Suatu hari di kedai Makcio, ketika aroma kuah pedas gurih memenuhi ruangan, seorang pelanggan setia menghampiri Fitri sambil membungkus beberapa porsi mi sagu untuk dibawa pulang.

“Kak, bikinkanlah mi sagu mentah sama bumbunya. Biar kami bisa masak sendiri di rumah,” katanya santai meminta, tapi justru mengendap lama di kepala Fitri.

Ia memikirkan hal itu berhari-hari. Namun, sesuatu dalam dirinya terus mendorong. Dan mungkin inilah cara agar mi sagu, makanan Melayu yang mulai tenggelam di tengah kota bisa kembali hidup di banyak dapur.

Dari sana, akhirnya ia mulai melakukan uji coba tanpa henti di dapur kecilnya. Fitri kembali meracik bumbu dari awal, menyesuaikan takaran satu per satu. Ada hari ketika bumbunya terlalu asin, esoknya terlalu ringan.

Tekstur mi pun ia coba berulang-ulang. Ada yang terlalu keras kemudian dibuang, dan ada yang terlalu lembek kemudian diulang kembali. Akan tetapi ia tidak patah arang, tetap gigih mencoba. 

Hari-hari bergulir, dan akhirnya Fitri menemukan formula yang ia cari, mi yang lentur namun tidak mengembang, bumbu yang aromanya langsung naik saat terkena panas, dan rasa yang setia pada akar tradisinya. Dari proses panjang itu, lahirlah mi sagu instan Makcio.

Tak ada yang menyangka bahwa produk sederhana ini akan menjadi bintang. Bahkan kini, Makcio harus datangkan sagu rutin dua kali sebulan sebanyak 50 kilogram sekali kirim dari Selat Panjang dan Bengkalis. 

Pada bulan-bulan tertentu, pesanan bisa menembus 5.000 bungkus. Pada hari biasa pun, ratusan mi sagu tetap meluncur ke tangan pelanggan. Rasanya seperti melihat tradisi yang dulu hanya hadir di meja Makcio, kini perlahan menyebar ke rumah-rumah, ke luar daerah, bahkan ada yang keluar negeri. 

“Untuk bahan, kita rutin datangkan dua kali sebulan dari Selat Panjang dan Bengkalis,” ucapnya. 

Semua berawal dari satu kalimat ringan seorang pelanggan. Namun dari celoteh itu, Fitri menemukan pintu baru, bahwa makanan daerah tidak harus kuno, tidak harus menunggu dilupakan, tidak harus disajikan di tempat yang sama. Ia bisa hidup kembali, dalam rupa yang lebih praktis, lebih modern, tanpa kehilangan jiwanya.

Dan disetiap bungkus mi sagu instan itu, tersimpan cerita tentang seorang perempuan yang percaya bahwa rasa, ketika dirawat dengan kesungguhan, akan menemukan jalannya sendiri menuju lebih banyak orang.

Kini, Makcio bersiap merilis inovasi baru, mi sagu goreng instan dengan cita rasa pedas-gurih-manis, lengkap dengan kemasan terbaru. Audit BPOM sudah dijadwalkan pada 10 Desember 2025, sebuah langkah besar sebelum melangkah ke pasar yang lebih luas. 

“Kita tengah mempersiapkan produk baru. Dan tanggal 10 Desember mendatang, kita akan melakukan pengujian BPOM,” ucapnya semangat.


Sambal Lauk Sepinggan, Kekuatan Rasa yang Tahan Waktu

Sebelum dunia mengenal mi sagu instan Makcio, sambal-sambalnya lebih dulu menggugah banyak lidah sejak 2015. Sambal cakalang, teri, cumi, ebi, ayam suir, hingga kerang keluar dari wajan yang dimasak di api kecil, lama, sabar, dan telaten.

Sambal cakalang Makcio juga punya tiga varian, yaitu original, petai, dan jengkol. “Kita bukan sambal dilaukin, tapi lauk disambelin,” sebut Fitri tertawa kecil saat bercerita. 

Tekstur sambalnya padat dan gurih, mampu bertahan hingga enam bulan tanpa pengawet. Dengan kemasan 200 gram, produk Makcio telah dikirim ke berbagai kota, dari Pekanbaru hingga luar provinsi.

Selain sambal, Makcio juga merilis bumbu serbaguna kuning, bumbu merah, dan bumbu nasi goreng kampung, semuanya untuk memudahkan siapa pun memasak tanpa kehilangan rasa tradisional Melayu.

Kini, Makcio bisa dikatakan salah satu UMKM di kota Pekanbaru yang tengah berkembang. Yang dulu hanya dapur rumah kini telah berubah menjadi perusahaan berbadan hukum, bernama PT Makcio Riau Rasa. Meski tetap mempertahankan sentuhan rumahan, Makcio kini memadukan rasa tradisional dengan mesin modern.

“Saat ini sekitar 50 persen produksi sambal kita sudah pakai mesin. Kita ada mesin filling dan vacuum sealer untuk pengisian otomatis,” tutur Fitri.

Makcio tidak besar dalam jumlah karyawan. Hanya lima orang, dua pekerja tetap yang menjaga toko, dan tiga tenaga lepas yang datang saat produksi melonjak.

Namun pilihannya menahan tim kecil bukan tanpa alasan, Makcio sedang mempersiapkan diri untuk standar produksi skala besar. Kemasan ramah lingkungan dan kontrol kualitas ketat disiapkan untuk menyambut peluang ekspor.

Sudah ada beberapa calon buyer internasional yang melirik. Kapasitas produksi memang masih menjadi tantangan, tapi langkah menuju ke sana sudah dimulai.


Ketika Sesama UMKM Memilih untuk Saling Menguatkan

Di balik aroma masakannya, Makcio tidak berdiri sendiri. Mereka tergabung dalam jaringan UMKM Warisan Rasa, kumpulan pelaku usaha sambal dan olahan dari berbagai daerah yang memilih untuk tidak bersaing secara diam-diam, tetapi tumbuh bersama.

“Kalau ada permintaan besar, kami bagi produksi. Kalau satu kewalahan, yang lain bantu,” ujar Fitri dengan senyum yang tulus.

Bagi Fitri, warisan rasa menjadi ruang belajar bersama, mulai dari pendampingan, promosi, hingga edukasi QRIS untuk para pelaku UMKM. Jejaring ini menghidupkan semangat kolaborasi, bahwa UMKM bisa besar jika saling menopang, bukan saling menutup diri.

“Kita tidak melihat UMKM lain sebagai penghambat. Justru kita mengedepankan kolaborasi untuk saling membantu,” ungkapnya penuh keyakinan.


BRI dan Jalan Menuju Panggung Nasional

Tak banyak yang tahu, di awal usaha Makcio sempat terkendala modal. Salah satu penyelamatnya adalah pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp25 juta, yang digunakan Fitri untuk membeli meja, kursi, dan peralatan dapur.

“Ya, awal merintis tahun 2015 itu, saya memanfaatkan program KUR dari BRI. Dan alhamdulillah bisa berkembang hingga saat ini,” terangnya. 

Kerja keras bertahun-tahun itu pun kini membuahkan hasil. Bahkan Fitri juga terpilih mewakili Riau dalam BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD City Kabupaten Tanggerang, Banten. Semua akomodasi ditanggung. Ia membawa ratusan produk mi sagu instan, sambal, bumbu serbaguna, dan semuanya ludes.

Di sana ia bertemu banyak buyer, belajar manajemen bisnis, dan memperluas jaringan. Meskipun ekspor belum bisa dilakukan karena kapasitas yang terbatas, minat dari luar negeri menjadi dorongan besar bahwa jalan yang ia pilih sudah benar. 

“Saya sangat senang bisa terpilih mengikuti BRI UMKM EXPO 2025. Dan kesempatan itu saya manfaatkan untuk belajar dan memperkenalkan produk kepada orang-orang di luar Riau,” sebutnya bersemangat.

Nur Fitria masih mengingat betul bagaimana langkah kecil itu membuka pintu menuju panggung besar BRI UMKM EXPO(RT) 2025. Semuanya terjadi begitu sederhana, nyaris tanpa rencana, hanya dari sebuah tautan pendaftaran yang dikirimkan teman lewat pesan singkat. Rasa penasaran membuatnya mencoba. Ia mengisi formulir, mengirim data, lalu menunggu sambil terus sibuk di dapurnya. 

Namun, sebuah kabar baik justru datang dari perjalanan yang tampak sepele itu. Dari tujuh UMKM Riau yang mengikuti kurasi, Makcio yang merupakan brand kecil dengan memadukan tradisi dan inovasi dipilih sebagai wakil Riau untuk kategori food and beverage.

Ketika sampel produknya dinyatakan lolos dan Makcio resmi melaju ke panggung nasional, Fitri hanya bisa menatap suaminya sambil berkata pelan, “Kita benar-benar berangkat”.

Di arena pameran, ia melihat sendiri bagaimana produk olahan sagunya diserbu pengunjung. Seratus pices mi sagu instan, seratus pices bumbu serbaguna, dan seratus pices sambal ludes diburu pembeli yang penasaran.

“Pameran ini luar biasa, animo pengunjung tinggi sekali,” ujar Fitri, matanya berbinar mengenang hari-hari penuh riuh itu.

Yang membuatnya lebih terkejut, perhatian tak hanya datang dari masyarakat lokal. Calon buyer internasional ikut mampir ke booth Makcio dan bertanya, mencicipi, lalu meminta penjelasan detail tentang kapasitas produksi dan kemungkinan kerja sama.

“Mereka ingin tahu kemampuan produksi. Untuk kebutuhan ekspor, satu kontainer per bulan itu syarat minimal,” tuturnya. Sebuah tantangan besar, namun bukan mimpi yang mustahil baginya.

Di tengah derasnya peluang, Fitri menyadari satu hal, rasa autentik adalah kekuatan. Produk Makcio mi sagu instan dan bumbu serbaguna diterima bukan karena kemasan semata, tetapi karena ia membawa cerita kuliner tradisional yang tetap setia pada akarnya.

Justru label “kuliner tradisional Riau” itulah yang membuka banyak pintu. Pada 2022 dan 2023, Makcio bahkan dipercaya menjadi delegasi Riau dalam Festival Kuliner Aceh, menampilkan ragam masakan khas berbahan sagu.

Setiap kali tampil di panggung pameran, Fitri memilih tidak sekadar memajang produk. Ia membawa kompor, wajan, dan bahan-bahan mentah, lalu memasak langsung di depan pengunjung.

“Supaya mereka tahu, mi sagu ini bukan sekadar enak, tapi juga sehat, bebas gluten, tanpa penyedap,” ujarnya. Edukasi menjadi bagian dari misinya, sebab baginya, mengenalkan makanan tradisional tidak cukup hanya dengan menjualnya.

Tak sampai disitu, kini di Pekanbaru, Roemah Miso dan Mi Sagu Bengkalis Makcio telah menjadi buah tangan favorit. Perusahaan BUMN dan BUMD kerap memesan khusus untuk hampers tamu penting.

“Seringnya mereka minta mi sagu Bengkalis. Katanya rasanya paling khas,” cerita Fitri menjelaskan. 

Perjalanan Makcio memang tidak selalu mulus. Ada masa ketika produksi tersendat, ada hari ketika pesanan menumpuk, sementara tenaga terbatas. Tapi pelan-pelan, dari dapur kecil di rumahnya, Fitri membangun brand yang kini mulai dilirik pasar nasional hingga mancanegara.

Ia membuktikan bahwa ketika tradisi dirawat, cita rasa dipoles dengan cinta, dan keberanian terus dijaga, kuliner daerah mampu melampaui batas, menembus kota, pulau, bahkan negara.

Dan dari satu tautan kecil yang dibuka tanpa rencana, Makcio kini melangkah menuju peluang-peluang besar yang dulu hanya berani ia bayangkan.

Terkait omzet, pendapatan Makcio setiap bulan terbilang mengesankan. Dari dapur kecil yang dulu hanya melayani pesanan orang-orang terdekat, kini Fitri mampu menggerakkan usaha yang bernilai puluhan juta rupiah.

“Alhamdulillah, omzet kita lumayan. Bisa sampai Rp75 juta per bulan,” ujar Fitri dengan senyum bangga yang sulit disembunyikan.

Januari mendatang, Makcio akan genap 11 tahun. Perjalanan yang dimulai dari resign penuh keraguan itu kini telah menjelma menjadi kisah besar tentang tekad, tradisi, dan keberanian untuk bertahan.

Perjalanan Makcio ini bisa kita jadikan contoh. Dari mi sagu instan hingga sambal lauk sepinggan. Dari kepulan dapur rumah hingga deru mesin-mesin modern.

Dari seorang perempuan yang dahulu penuh ragu, menjelma menjadi sosok pengusaha yang bukan hanya bertahan, tetapi menumbuhkan ekosistem, menghidupkan banyak cerita, dan membuka jalan bagi lahirnya peluang-peluang baru.

Di ruko kecil itu, setiap pagi aroma pedas masih mengepul, seolah mengabarkan bahwa rasa Melayu tidak pernah padam. Bahwa kuliner tradisional tidak hanya layak hidup, tetapi dapat terus berkembang, berinovasi, dan menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Dan dari Jalan Teratai 202A itulah, rasa kecil yang lahir dari dapur rumahan perlahan menjejak jauh ke banyak meja makan, banyak kota, dan mungkin kelak, banyak negara.

Makcio bukan sekadar makanan. Ia adalah jejak rasa yang membawa pulang kenangan, menghangatkan cerita, dan meneguhkan bahwa dari dapur sederhana pun, sebuah kisah besar bisa tumbuh.


BRI dan Nafas Pancasila di Tanah Melayu

Di tengah geliat ekonomi yang terus bergerak dan tantangan digitalisasi yang semakin dinamis, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menegaskan perannya sebagai penyangga ekonomi kerakyatan.

Dari Pekanbaru, komitmen itu menyeruak kuat melalui tangan para insan BRILian yang bekerja hingga ke pelosok desa. Dan semuanya bernaung di bawah satu falsafah yang menjadi napas bangsa, yakni Pancasila.

RCEO BRI Region 2 Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, menyampaikan bahwa nilai-nilai Pancasila bukan hanya menjadi identitas negara, tetapi hidup dalam denyut nadi setiap layanan BRI.

“Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi menjadi pedoman moral dan semangat kemandirian bagi bangsa. Di BRI, kami mengimplementasikannya melalui dukungan kepada UMKM, penyaluran KUR, pemberdayaan masyarakat desa, hingga perluasan akses keuangan ke pelosok Riau melalui Agen BRILink. Semua ini adalah wujud nyata pengamalan Pancasila,” ujar Dian. 

Ucapan itu tidak berhenti sebagai jargon. Di lapangan, langkah-langkah konkret BRI Region 2 Pekanbaru memperlihatkan bagaimana nilai-nilai itu menjelma menjadi perubahan yang dirasakan ribuan warga Riau.

Selama ini, Riau dikenal sebagai provinsi kaya sumber daya. Namun di balik megahnya industri besar, denyut ekonomi rakyat tetap menjadi fondasi utama. Di sinilah BRI menempatkan dirinya, hadir sebagai bank yang merangkul yang kecil, menguatkan yang rapuh, dan membuka jalan bagi mereka yang ingin naik kelas.

Melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada puluhan ribu pelaku UMKM, BRI membantu pedagang kecil, petani, dan pelaku perikanan untuk terus tumbuh. Bagi mereka, KUR bukan sekadar angka kredit, melainkan peluang memperbaiki kehidupan, mengembangkan usaha, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Di saat yang sama, ribuan Agen BRILink tersebar hingga sudut-sudut desa di Riau. Di tempat-tempat yang bahkan bank konvensional enggan menjangkau, Agen BRILink menjadi “jembatan finansial” masyarakat, membantu mereka bertransaksi, menabung, atau sekadar menarik uang dengan lebih mudah.


Pancasila dalam Gerak, Bukan dalam Kata

Dari lima sila, BRI menghadirkannya dalam bentuk yang paling terukur, seperti keadilan sosial diwujudkan melalui kredit mikro dan KUR yang memberi ruang bagi masyarakat kecil untuk tumbuh. Persatuan Indonesia tampak dalam layanan digital BRImo dan kehadiran Agen BRILink yang menyatukan masyarakat dalam ekosistem keuangan modern.

Kerakyatan hadir melalui jaringan Rumah BUMN, termasuk yang ada di Riau, sebagai pusat pembinaan dan inkubasi UMKM. Kemanusiaan yang adil dan beradab tercermin dari layanan tanpa diskriminasi, baik melalui kantor cabang, ATM/CRM, maupun kanal digital. Ketuhanan Yang Maha Esa terpancar melalui komitmen menjaga integritas dan etika dalam seluruh aktivitas bisnis.

“BRI ingin memastikan bahwa filosofi Pancasila bukan hanya slogan yang terpajang di dinding kantor, tetapi nilai yang hidup di setiap layanan, keputusan, dan langkah pemberdayaan,” jelas Dian tegas. 

Program Desa BRILiaN menjadi salah satu wujud nyata bagaimana BRI menghidupkan potensi desa. Di berbagai kabupaten di Riau, desa-desa binaan tumbuh menjadi pusat inovasi ekonomi berbasis komunitas. Mereka tidak hanya belajar berbisnis, tetapi juga mengelola dana, mengembangkan produk, dan memasarkan hasil secara digital.

BRI juga memberikan perhatian khusus kepada pekerja migran asal Riau, mereka yang bekerja ribuan kilometer dari rumah. Melalui fasilitas keuangan yang aman dan terintegrasi, BRI memberi rasa tenang bagi para pahlawan devisa dan keluarganya.


Menjawab Tantangan Masa Depan

Dian menyadari bahwa tantangan ke depan tidak akan mudah. Persoalan digitalisasi, transisi ekonomi hijau, dan inovasi berkelanjutan menuntut perbankan untuk terus berubah. Namun BRI telah menegaskan langkahnya, untuk adaptif, inovatif, dan tetap berakar pada nilai Pancasila.

“Setiap kredit yang disalurkan, setiap layanan yang diberikan, dan setiap inovasi yang diciptakan adalah bentuk kontribusi kami untuk masyarakat Riau dan Indonesia,” tegas Dian.

Ia juga mengajak seluruh insan BRILian di wilayah Riau untuk terus menjadikan Pancasila sebagai energi pemersatu. Karena dalam dunia perbankan sekalipun, nilai-nilai itu mampu menjadi cahaya penuntun dalam pelayanan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dari desa terpencil di pesisir hingga ruang-ruang digital yang digunakan jutaan masyarakat, BRI terus menapaki jalan panjang pengabdian. Langkah yang mungkin tidak selalu kasat mata, namun nyata dirasakan.

Dengan menghidupkan Pancasila dalam setiap denyut layanannya, BRI Region 2 Pekanbaru tak hanya menjadi institusi keuangan, tetapi pilar kokoh ekonomi kerakyatan yang menegakkan persatuan bangsa melalui pelayanan yang merata, ramah, dan berkeadilan.***


Tulisan ini sudah tayang di harian Metro Riau dan berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi BRI Jurnalis Award 2025.