Menelusuri Jejak Gas dari Perut Bumi hingga ke Meja Makan di Pelalawan

Menelusuri Jejak Gas dari Perut Bumi hingga ke Meja Makan di Pelalawan
Metering Regulating Station (MRS) untuk menunjang distribusi gas rumah tangga di Pelalawan || Foto: R. Wijaya.
A-AA+A++

Oleh: R. Wijaya
Penulis tamu untuk Glasial.id


Kabupaten Pelalawan bukan sekadar hamparan hijau yang dibelah garis imajiner khatulistiwa. Jika kamu berdiri di atas tanahnya, kamu sedang berpijak di atas salah satu “dapur” energi terbesar di Pulau Sumatra. 

Selama ini, ingatan kita mungkin hanya terpaku pada deretan pohon kelapa sawit yang berbaris rapi atau hamparan hutan akasia yang menjadi bahan baku industri kertas raksasa.

Namun, jauh di kedalaman ribuan kaki di bawah akar-akar tanaman industri itu, tersimpan harta karun yang tak kasat mata namun memiliki daya ubah luar biasa: gas bumi.

Pelalawan adalah anomali yang indah. Di atas tanah, ia memberikan kemakmuran lewat sektor perkebunan dan kehutanan. Rimbanya masih lebat, menjadi benteng terakhir bagi satwa liar yang mencari perlindungan di tengah ekspansi industri.

Sektor perikanan dan kelautannya pun tetap menjadi tumpuan hidup masyarakat lokal. Namun, cerita tentang Pelalawan belum lengkap jika kita tidak menelusuri apa yang tersimpan di perut buminya.

Di sana, minyak dan gas bumi bersemayam sebagai warisan untuk generasi masa depan yang seolah tanpa batas.

Geologi yang Memberkati dan Mengapa Pelalawan Begitu Kaya?

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa Pelalawan? Mengapa bukan daerah lain? Jawabannya ada pada sejarah geologi yang terjadi jutaan tahun silam.

Kabupaten ini secara unik masuk dalam wilayah yang disebut para ahli sebagai Cekungan Sumatra Tengah. Dalam literatur geologi, kawasan ini dikenal dengan istilah “Cekungan Belakang Busur” atau Back-Arc Basin.

Metering Regulating Station (MRS) yang menjadi titik awal sebelum gas dialirkan ke rumah tangga di Pelalawan || Foto: R. Wijaya.

Secara visual, jika dipetakan dari atas, bentuk cekungan ini menyerupai segitiga bersudut. Para ahli sering mengibaratkannya seperti karet busur panah yang sedang ditarik kencang.

Ada proses tektonik dahsyat yang membentuknya. Jutaan tahun lalu, lempeng samudra Indo-Australia yang lebih berat dan padat bergerak menghujam ke bawah lempeng Eurasia.

Proses yang disebut subduksi ini menyeret material ke dalam mantel bumi di batas lempeng konvergen, menciptakan palung dan cekungan-cekungan raksasa.

Di dalam cekungan inilah, sisa-sisa organisme purba terperangkap, mengalami tekanan dan suhu ekstrem selama jutaan tahun, hingga akhirnya berubah menjadi hidrokarbon.

“…dan cekungan ini, sebagai penghasil hidrokarbon di kawasan barat Indonesia,” tulis Moh. Heri Hermiyanto Zajuli, dkk, dalam jurnal ilmiah bertajuk: Analisis Geokimia Batuan Induk dan Sejarah Pemendaman Cekungan Sumatra Tengah Daerah Indragiri Hulu dan Pelalawan, Provinsi Riau, yang diterbitkan oleh Journal of Geology and Mineral Resources, pada Mei 2024.

Secara kimiawi, apa yang kita sebut gas bumi ini adalah senyawa hidrokarbon yang didominasi oleh atom karbon dan hidrogen. Sifatnya cair, padat, atau gas sangat bergantung pada struktur molekulnya.

Metana dan propana, karena bobotnya yang ringan, berwujud gas pada suhu standar. Inilah yang kita buru. Meski penjelasan teknis ini seringkali membuat kening orang awam berkerut, satu hal yang pasti: Pelalawan adalah bukti betapa murah hatinya alam Riau kepada penghuninya.

Potensi gas di Pelalawan bukanlah sekadar mitos atau cerita pengantar tidur. Data historis dari Pemerintah Daerah setempat menunjukkan bahwa pada tahun 2012 saja, produksi gas bumi di wilayah ini sudah mencapai 5.716,76 kaki kubik (MSCF). Angka ini terus berkembang seiring dengan teknologi eksplorasi yang semakin canggih.

Kejutan besar terjadi pada Maret 2024. PT Energi Mega Persada (EMP) Tbk, salah satu pemain utama di industri hulu migas, mengumumkan penemuan cadangan gas yang signifikan di sumur eksplorasi Central East Napuh-01 (CEN-01).

Tak main-main, kandungan gas di sumur ini diperkirakan mencapai 126 miliar kaki kubik (BCF). Harta karun ini tersembunyi di kedalaman 2.093 kaki, tersimpan rapi dalam lapisan reservoir dengan ketebalan mencapai 57 kaki.

Penemuan ini menjadi angin segar bagi ketahanan energi nasional. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana gas yang berada ribuan kaki di bawah tanah ini bisa “berjalan” menembus hutan dan pemukiman, hingga akhirnya sampai ke dapur-dapur warga melalui program Jaringan Gas (Jargas) yang dikelola oleh PGN.

Petugas pengawas dari PGN Area Pekanbaru melakukan men-cek tekanan gas rumah tangga di Pelalawan || Foto: R. Wijaya.

Jantung Distribusi di Tengah Pemukiman

Di Jalan Pulau Payung, Kecamatan Pangkalan Kerinci, terdapat sebuah instalasi yang mungkin sering dilewati warga tanpa disadari kepentingannya. Namanya adalah Metering Regulating Station (MRS). Tempatnya tidak terlalu luas, namun dipagari kawat besi dengan pengamanan ketat.

Sebagai objek vital nasional, MRS adalah area terlarang bagi sembarang orang. “Ada SOP-nya,” kata Riza Fahri, salah seorang teknisi PGN Area Pekanbaru yang mengawal operasional di sana.

Di balik pagar kawat itu, tampak rangkaian pipa berwarna kuning dan silver yang meliuk-liuk secara sistematis. Pipa-pipa ini dilengkapi dengan alat ukur presisi untuk memantau tekanan dan volume gas yang melintas.

Tepat di samping MRS PGN, berdiri stasiun gas bumi (offtake station) milik PT EMP Bentu yang ukurannya jauh lebih besar.

Inilah titik hulu. Di sinilah terjadi proses serah-terima suplai gas dari sumur produksi ke jaringan distribusi. Tanpa kolaborasi di titik ini, gas di perut bumi Pelalawan hanya akan tetap menjadi deposit diam yang tak berguna bagi masyarakat.

Proses membawa gas ke rumah warga bukanlah perkara sederhana seperti menyambungkan selang air. Ada aspek keselamatan yang sangat ketat karena kita berurusan dengan energi yang mudah terbakar.

Gas yang diterima dari EMP Bentu masuk ke jaringan pipa transmisi dengan tekanan yang sangat tinggi, mencapai 50 Bar. Tekanan sebesar ini tentu akan meledakkan kompor rumah tangga jika dialirkan langsung.

Di sinilah peran krusial MRS. “Saat di MRS, diturunkan jadi 4 bar,” ujar Riza. Secara teknis, distribusi gas ini memiliki tiga tingkatan tekanan; tekanan tinggi (saat gas berada di pipa transmisi utama), tekanan menengah (saat gas melintasi pipa distribusi menuju kawasan pemukiman), dan tekanan rendah (saat gas mengalir melalui pipa dinas menuju sambungan rumah tangga).

Selain mengatur tekanan, ada proses unik yang dilakukan di MRS, yaitu pemberian bau. Secara alami, gas bumi itu tidak berbau (odorless) dan tidak berwarna.

Hal ini sangat berbahaya jika terjadi kebocoran karena tidak terdeteksi oleh indra manusia. Oleh karena itu, PGN menyuntikkan zat kimia bernama mercaptan atau jenis odoran Tetra Hydro Thiophene (THT).

“Jadi, secara alamiah gas bumi itu tidak berbau,” jelas Riza. “Odoran sengaja di-injeksikan supaya baunya khas, agar masyarakat lebih mudah menyadari kalau ada kebocoran. Ini salah satu upaya pencegahan. Misalnya, mereka dapat menjauh dari area yang bocor.”

Bau yang menusuk hidung—yang sering kita identikkan sebagai “bau gas”—sebenarnya adalah alarm keselamatan yang sengaja dibuat manusia untuk melindungi nyawa.

Area Head PT PGN Tbk Area Pekanbaru, Charly Simanullang || Foto: R. Wijaya.

Agar distribusi gas merata, PGN menggunakan struktur jaringan yang mirip dengan sistem kelistrikan. Jika dalam listrik kita mengenal trafo untuk menurunkan tegangan, dalam jaringan gas kita mengenal Regulating Station (RS).

Area Head PT PGN Tbk Area Pekanbaru, Charly Simanullang, menjelaskan bahwa RS berfungsi untuk memastikan tekanan gas tetap stabil hingga ke titik terjauh. “RS itu—kalau di listrik—fungsinya seperti trafo,” katanya.

Untuk wilayah Pelalawan, dibutuhkan setidaknya empat unit RS guna melayani ribuan pelanggan. Satu unit RS idealnya mampu mengakomodir sekitar 600 rumah. Jika dipaksakan lebih, tekanan gas di rumah yang berada di ujung pipa akan mengecil dan api kompor tidak akan maksimal.

Strategi ini terbukti efektif. Sejak dimulai pada tahun 2022, proyek Jargas di Pelalawan telah menjangkau ribuan rumah di Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota dan Pangkalan Kerinci Timur.

Dari Dapur hingga Ekonomi Daerah

Manfaat dari kekayaan gas bumi Pelalawan kini bukan lagi sekadar angka di laporan keuangan perusahaan besar. Manfaat itu sudah mengepul di panci-panci warga. Hingga saat ini, tercatat ada 3.963 rumah tangga di Pelalawan yang telah bermigrasi dari tabung gas konvensional ke Jargas.

Para penikmatnya beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga pelaku usaha mikro. Rata-rata pemakaian warga berada di angka 10 hingga 20 meter kubik per bulan.

Bagi pelaku usaha kecil seperti Ibu Sugiyem, kehadiran Jargas adalah berkah. “Kami tidak perlu lagi khawatir kehabisan gas di tengah proses produksi atau harus repot mencari tabung gas saat terjadi kelangkaan di pasar. Gas mengalir 24 jam dengan harga yang lebih kompetitif dan keamanan yang lebih terjamin,” katanya.

Namun, kehebatan Pelalawan tidak berhenti di batas administrasinya saja. Gas yang ditambang dari buminya juga menjadi tumpuan bagi wilayah tetangga.

Kebutuhan energi di ibu kota provinsi, Pekanbaru, hingga kota pelabuhan Dumai, sebagian besar disuplai dari perut bumi Pelalawan. Ini menjadikan Pelalawan sebagai “kakak asuh” bagi pembangunan ekonomi di pesisir Riau.

Kekayaan alam seringkali dianggap sebagai kutukan jika tidak dikelola dengan bijak. Namun, di Pelalawan, kita melihat sebuah model di mana sumber daya alam (gas bumi) dikelola dari hulu ke hilir untuk kepentingan domestik.

“Penemuan sumur CEN-01 oleh EMP Bentu memberikan jaminan bahwa pasokan energi ini akan bertahan untuk waktu yang sangat lama,” kata Charly.***