Tanaman Bambu dinilai sebagai salah satu solusi nyata pengendalian perubahan iklim. Satu hektar bambu mampu serap 50 ton gas rumah kaca per tahun sekaligus tingkatkan ekonomi warga.

Oleh: Fadly Ibrahim
Penulis tamu untuk Glasial.id
Arief Rabik yakin betul bahwa tanaman bambu, bisa diandalkan sebagai “garda terdepan” dalam upaya pengendalian perubahan iklim di Indonesia.
Arif adalah Pendiri Yayasan Bambu Lestari. Menurutnya, selain efektif merehabilitasi lahan terdegradasi dan menyerap karbon, bambu juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi jutaan masyarakat desa di Tanah Air.
Tanaman ini cukup unik, karena bisa tumbuh di berbagai kondisi lahan. Termasuk lahan kritis yang sulit ditanami komoditas lain.
Keunggulan itu menjadikan bambu pilihan utama untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara masif. “Bambu lah juaranya,” katanya dalam keterangan tertulis yang disiarkan oleh Kementerian Kehutanan.
Satu rumpun bambu mampu menyimpan hingga 5.000 liter air sehingga sangat andal sebagai tanaman pengatur tata air.
Di sisi lain, satu hektar hamparan bambu sanggup menyerap 50 ton gas rumah kaca setara karbon dioksida setiap tahunnya — angka yang jauh melampaui kemampuan banyak jenis pohon lain.
Keunggulan bambu Indonesia tak berhenti di situ. Produktivitas spesies bambu lokal bahkan empat kali lebih tinggi dibanding bambu dari negara-negara beriklim subtropis, sehingga menjadikannya komoditas yang sangat kompetitif. Termasuk di pasar global.
“Produktivitas bambu juga sangat tinggi mencapai 50 ton per hektar per tahun,” tambahnya.
Meski potensinya luar biasa, nilai ekonomi bambu di tingkat masyarakat masih jauh tertinggal dibanding kebutuhan industri yang terus tumbuh.
Padahal, dari tanaman ini bisa lahir beragam produk bernilai tinggi, mulai dari serat tekstil hingga panel konstruksi bangunan.
“Masyarakat lebih mudah mengolah bambu ketimbang kayu yang ukurannya besar-besar,” katanya.
Setiap desa ditargetkan menanam minimal 70.000 bibit bambu di lahan seluas 2.000 hektare atau setara 35 rumpun per hektare.
Program itu juga disertai pembinaan intensif agar masyarakat mampu mengolah bambu hingga tahap setengah jadi.
Langkah ini diprediksi mendongkrak pendapatan petani dari 40 dolar AS per ton menjadi 200 dolar AS per ton — lonjakan lima kali lipat yang sangat signifikan.
“Masyarakat lebih mudah mengolah bambu ketimbang kayu yang ukurannya besar-besar,” katanya.
Di sisi riset, Desi Ekawati dari Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi LHK, mengembangkan teknik pembibitan bambu yang lebih efisien.
Metode yang dikembangkan menggunakan sistem Spartan seedling, di mana bibit ditanam setelah terbentuk rumpun dari beberapa tunas bambu sekaligus.
Dengan Spartan seedling, rumpun bambu sudah mulai bisa dipanen secara selektif setelah 2-3 tahun. Padahal kalau penanaman konvensional yang hanya satu bibit, butuh 8-9 tahun.
Solusi Nyata Selamatkan DAS dari Ancaman Erosi dan Longsor
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023, di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Semaka, Tanggamus, Lampung, membuktikan bahwa pelestarian bambu mampu menahan erosi, menstabilkan tanah, sekaligus menjaga ketersediaan air bagi masyarakat sekitar.

Peneliti Agus Sujarwanta dari Program Studi Magister Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Metro bersama Suharno Zen, itu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan field experiment dan survei lapangan.
Jurnal yang diterbitkan pada 2023, berjudul: Pelestarian Tanaman Bambu Sebagai Upaya Konservasi Daerah Aliran Sungai Way Semaka Lampung itu, menyimpulkan bahwa, “Bambu adalah tanaman juara untuk memperbaiki kondisi lahan.”
DAS Way Semaka masuk kategori kritis karena sekitar 30 persen tutupan hutan di bagian hulu telah berubah menjadi kebun kopi, lahan pertanian kering, dan semak belukar.
Kondisi itu membuat aliran sungai tak lagi berfungsi optimal — debit air melonjak saat hujan, erosi meluas, dan warna air berubah keruh kecoklatan yang menandakan tingginya laju sedimentasi.
Bambu hadir sebagai jawaban atas persoalan itu berkat sistem perakaran serabutnya yang rapat, kuat, dan menyebar ke segala arah secara horizontal maupun vertikal.
Akar rimpang bambu mampu mengikat lapisan tanah atas agar tidak terbawa aliran permukaan, sekaligus menjaga sistem hidrologis yang menjadi tulang punggung ekosistem tanah dan air di sepanjang bantaran sungai.
“Partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi tanaman bambu di daerah aliran sungai Way Semaka dalam kategori tinggi,” tulis peneliti dalam kesimpulan akhir riset ini.
Tim peneliti menanam dua jenis bambu dalam demplot percobaan, yakni bambu tali atau apus (Bambusa sp.) yang bisa tumbuh hingga 15 meter, serta bambu kuning (Bambusa vulgaris) dengan batang berwarna kuning dan diameter tebal.
Bibit dikembangkan dengan teknik stek batang — metode yang dipilih karena cepat, sederhana, ekonomis, dan tidak membutuhkan banyak lahan persemaian.
Proses pembibitan dilakukan dengan memotong batang bambu berusia satu hingga dua tahun sepanjang 20 sentimeter, lalu merendamnya dalam larutan hormon perangsang akar selama satu jam sebelum ditanam di polybag.
Dalam waktu tiga bulan, bibit sudah menghasilkan tunas dan akar yang cukup kuat untuk dipindahkan langsung ke lokasi DAS.
Antusiasme warga sekitar DAS Way Semaka dalam program ini mencapai 100 persen — angka yang mencerminkan kesadaran kolektif bahwa bambu bukan sekadar tanaman, melainkan investasi ekologi untuk generasi mendatang.

Masyarakat memahami bahwa rumpun bambu di tepi sungai adalah benteng alami yang melindungi permukiman mereka dari ancaman banjir dan longsor setiap musim hujan tiba.
Hasil penelitian itu pun merekomendasikan agar sosialisasi konservasi bambu diperluas menjangkau komunitas di luar kawasan DAS Way Semaka, termasuk edukasi tentang pengolahan bambu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Langkah itu dinilai penting agar upaya pelestarian tidak berhenti di tataran lingkungan semata, tetapi juga memberi dampak nyata pada kesejahteraan masyarakat sekitar.





