Frengki dan Jejak Rezeki Cacing Sutra

Frengki dan Jejak Rezeki Cacing Sutra
Frengki, pengusaha dan pencari cacing sutra || Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.
A-AA+A++

Oleh: Fadly Ibrahim
Penulis tamu untuk Glasial.id


Air Sungai Sail mengalir pelan di tepian Gang Kuantan, Pekanbaru, Riau, sekitar akhir tahun 2025 lalu. Di balik warna keruh itu, tersimpan sumber penghidupan.

Bukan ikan yang besar atau hasil tambang yang berharga di dalam sungai itu, melainkan cacing sutra—organisme kecil yang justru mampu menggerakkan ekonomi kecil di sudut kota.

Franki, berdiri mematung di tepian sungai itu. Matanya cekat mengamati arus air yang bergerak agak tenang, namun deras.

Bagi sebagian besar warga Pekanbaru, air sungai ini cukup kotor, warnanya keruh, kadang-kadang berbau tak sedap. Tapi bagi Frengki, Sungai Sail ini adalah ladang usahanya, yang sudah belasan tahun menghidupi anak dan istrinya.

Dulu sekali, Frengki pernah bekerja di sebuah pabrik pembuatan papan. Tapi dia berhenti karena gaji tak sesuai. Dia memilih menjadi pengangguran beberapa bulan. “Awal mulanya sih dari nganggur,” ujarnya singkat.

Dari situlah ia mulai menekuni usaha yang bagi sebagian orang dianggap sepele. Ia tidak langsung berdiri sendiri. Awalnya, Franki bergabung sebagai anggota kelompok pencari cacing sutra di sekitar sungai itu.

Namun, penghasilan sebagai anggota tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Untuk dapur cukup, untuk angsuran tidak cukup,” katanya.

Keputusan untuk mandiri pun ia ambil. Dengan modal pengalaman dan keberanian, Frankie mulai membangun jaringan pemasaran sendiri.

Ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Hasilnya mulai terlihat.

Permintaan tidak hanya datang dari Kota Pekanbaru, bahkan pesanan pernah datang dari Medan hingga Pulau Jawa.

Dalam ekosistem perikanan, cacing sutra memegang peranan penting. Ia menjadi pakan utama untuk ikan air tawar seperti lele dan patin.

Selain itu, cacing ini juga digunakan untuk ikan hias di akuarium, meski volumenya lebih kecil.

Kata Franki, pasar cacing sutra masih sangat terbuka. “Permintaannya ada terus,” katanya. Di Pekanbaru, pelaku usaha seperti Franki umumnya sudah memiliki pasar masing-masing.

Cacing sutra hasil tangkapan dari sungai || Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Rantai distribusi berjalan sederhana namun efektif. Ada pencari di sungai, pengepul, hingga agen yang mendistribusikan ke peternak ikan.

Dalam sehari, Franki mampu menjual lebih dari 50 kaleng cacing sutra. Bahkan, dalam kondisi permintaan tinggi, angka itu bisa meningkat signifikan. “Kalau tidak keluar aja itu 50 kaleng, itu pun sudah pening saya,” ujarnya.

Harga jual pun bervariasi, tergantung sistem distribusi. Untuk pembelian langsung (jemput), harga berkisar Rp15.000 per kaleng. Jika diantar, harga bisa lebih tinggi.

Dari Lumpur ke Rupiah

Proses mendapatkan cacing sutra tidak sesederhana yang dibayangkan. Para pencari harus turun langsung ke sungai sejak pagi hingga siang hari. Mereka mengandalkan alat sederhana seperti ember, saringan, dan tangguk.

Cacing sutra hidup di lumpur dasar sungai. Lumpur tersebut diambil, kemudian disaring untuk memisahkan cacing dari material lain. Namun, hasilnya belum bisa langsung dijual.

Setelah diangkat, cacing harus diendapkan terlebih dahulu. Dalam kondisi tertentu, cacing akan naik ke permukaan air secara alami. Proses ini memudahkan pembersihan dari sisa lumpur.

Franki menekankan bahwa tahap ini sangat krusial, terutama jika cacing akan dikirim ke luar kota. Tanpa penanganan yang tepat, risiko kematian sangat tinggi. “Kalau langsung dikirim, cacing masih lemah,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas, ia menggunakan pompa air seperti mesin akuarium agar oksigen tetap tersedia. Tanpa itu, cacing bisa mati sebelum sampai ke tangan pembeli.

Meski menjanjikan, usaha cacing sutra bukan tanpa risiko. Faktor alam menjadi tantangan utama. Saat debit air sungai meningkat atau terjadi banjir, aktivitas pencarian menjadi jauh lebih sulit.

“Kalau air tinggi, kita harus nyelam-nyelam,” kata Frankie.

Selain itu, ancaman lain datang dari lingkungan sungai itu sendiri. Para pencari harus siap menghadapi lintah hingga ular air. Tidak semua orang berani menjalani pekerjaan ini.

Kondisi ini membuat tidak banyak pemain baru yang bertahan lama. Namun, bagi yang sudah terbiasa, risiko tersebut menjadi bagian dari rutinitas.

Di tengah fluktuasi ekonomi, bisnis cacing sutra justru menunjukkan ketahanan. Biaya produksi relatif rendah karena bahan baku berasal dari alam. Permintaan stabil karena terkait langsung dengan sektor budidaya ikan yang terus berkembang.

Franki mengaku, penghasilannya saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Alhamdulillah, mencukupi,” katanya.

Cacing sutra siap jual || Foto: Fadly Ibrahim untuk Glasial.id.

Ia bahkan menyebut omzet bulanannya berada di atas upah minimum regional (UMR). Angka ini cukup signifikan untuk skala usaha mikro yang berbasis sumber daya lokal.

Menariknya, dalam satu hari, ia bisa menampung hingga ratusan kaleng dari para pencari. Dalam kondisi tertentu, stok bisa mencapai 300 kaleng.

Namun, sebagian besar hasil tersebut langsung habis terjual di hari yang sama. Hanya sedikit yang disimpan untuk pengiriman ke luar daerah.

Rantai Ekonomi di Pinggir Sungai

Usaha cacing sutra tidak berdiri sendiri. Ia menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari pencari, pengepul, hingga agen distribusi.

Para pencari biasanya menjual hasil tangkapan mereka ke pengepul seperti Frankie dengan harga sekitar Rp12.000 per kaleng. Dari situ, pengepul mengambil margin sebelum menjual ke pasar.

Model ini menciptakan perputaran uang yang cepat di tingkat lokal. Meski nilainya tidak besar per transaksi, volumenya membuat bisnis ini tetap hidup.

Frankie sendiri mengaku memiliki beberapa anggota atau mitra pencari yang rutin menyuplai cacing kepadanya.

Di era digital, Frankie tidak ketinggalan memanfaatkan teknologi. Ia menggunakan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Strategi ini terbukti efektif menarik pembeli dari luar daerah.

Namun, ia tetap selektif dalam menerima pesanan jarak jauh. Faktor ongkos kirim dan risiko kematian menjadi pertimbangan utama.

“Kalau dari luar kota masuk ke sini untuk dijual lagi, tidak masuk,” katanya.

Ia lebih memilih fokus pada suplai lokal dan pengiriman terkontrol ke daerah tertentu seperti Duri, Dumai, hingga Ujung Batu.

Meski terlihat sederhana, bisnis cacing sutra menyimpan potensi besar. Permintaan yang stabil dan pasokan yang bergantung pada alam menciptakan keseimbangan pasar yang unik.

Frankie melihat peluang ini masih terbuka lebar bagi siapa saja yang berani mencoba. “Selagi kita mau bergerak, rezeki itu ada,” ujarnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa usaha ini membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Bukan hanya soal mencari cacing, tetapi juga menjaga kualitas, membangun jaringan, dan memahami pasar.|||