Naik Hingga 150 Persen, Harga Kantong Plastik Mulai Pukul Saku Masyarakat Indonesia

Naik Hingga 150 Persen, Harga Kantong Plastik Mulai Pukul Saku Masyarakat Indonesia
Plastik kresek biasa dipakai untuk membungkus belanjaan || Foto: Ilustrasi.

KONFLIK di Timur Tengah yang — berujung pada blokade Selat Hormuz — mulai memukul kantong masyarakat Indonesia.

Bukan cuma urusan bahan bakar, krisis ini membuat industri plastik nasional menjerit karena sulit mendapatkan naphtha, turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama.

Akibatnya, harga kantong plastik di pasar tradisional pun meroket gila-gilaan hingga menyentuh angka 150 persen.

Ketua Bidang Infokom Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, membenarkan bahwa kenaikan harga plastik belakangan ini sudah sangat mencekik para pedagang kecil.

Menurut pantauannya di lapangan, tren kenaikan ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak memasuki bulan suci Ramadan dan mencapai puncaknya saat ini dengan kenaikan minimal 50 persen.

“Kami pantau sudah cukup lama. Saat memasuki bulan suci Ramadan, harga plastik mulai naik. Puncaknya sekarang, kenaikannya minimal 50 persen,” kata Reynaldi, Minggu (5/4/2026).

Lonjakan harga ini terlihat jelas pada plastik kresek yang biasanya dibanderol Rp10.000, kini melesat jadi Rp15.000 per kemasan.

Bahkan untuk jenis plastik lain yang tadinya Rp20.000, sekarang sudah nangkring di harga Rp25.000. Kondisi di luar Jakarta pun tak kalah ngeri; di Bengkulu, harga plastik yang semula Rp28.000 per kilogram kini melonjak drastis hingga menembus Rp60.000 per kilogram.

“Ini risiko jika kita masih bergantung pada impor. Dampak perang di Timur Tengah berimplikasi serius ke dalam negeri, sehingga kenaikan harga terus terjadi. Kami lihat kenaikannya sangat signifikan,” imbuh Reynaldi lagi.



Kenaikan yang terjadi sejak sepekan sebelum Lebaran ini langsung mengubah perilaku konsumen di pasar. Karena harga plastik yang mahal, banyak pedagang yang terpaksa menjual plastik secara eceran atau “ketengan”.

Di sisi lain, para pembeli pun mulai rajin membawa kantong belanja sendiri dari rumah demi menghemat pengeluaran.

Efek domino ini juga menghantam para penjual minuman atau pedagang es yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Mau tidak mau, mereka harus menyesuaikan harga jual ke pelanggan.

Es yang biasanya dijual seharga Rp5.000, kini terpaksa naik kelas menjadi Rp6.000 hingga Rp7.000 per kemasan plastik karena biaya bungkus yang tak lagi bersahabat.***

ARTIKEL TERKAIT

Soal Kesejahteraan Masyarakat Lewat Perdagangan Karbon, Siapa yang Benar-benar Diuntungkan?
Bagaimana Kulit Ikan Patin Berbalik Menjadi Camilan Premium Lewat Melayu Crackers?
Pertamina Drilling Gandeng ANP Timor Leste Kembangkan SDM Pengeboran
“Mesin Uang” Itu Bernama Melon Golden Alisha

Read Also

Eks Lahan Karhutla di Dumai Disulap Jadi Kebun Kopi Robusta oleh Pokmas Alam Tani

Lahan tidur bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Tanjung Palas, Dumai,...

Kabut Asap, Gangguan Transportasi, dan Tekanan Inflasi, Rangkaian Biaya Karhutla

Ancaman El Niño yang memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membawa konsekuensi ekonomi...

Soal Kesejahteraan Masyarakat Lewat Perdagangan Karbon, Siapa yang Benar-benar Diuntungkan?

Wilayah pesisir yang mangrove-nya telah rusak, satu hektar lahan basah yang dipulihkan mampu...