Kearifan Lokal Warga Madagaskar Sulap Pohon Ini Jadi Tangki Air

Warga Desa Autoutak di Madagaskar menyimpan air di dalam batang pohon baobab untuk bertahan hidup di tengah kekeringan ekstrem Dataran Tinggi Mahafaly.

Kearifan Lokal Warga Madagaskar Sulap Pohon Ini Jadi Tangki Air
Pohon Baobab | Foto: Wikipedia.

Dataran Tinggi Mahafaly di barat daya Madagaskar dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di dunia.

Hujan hanya turun beberapa kali dalam setahun. Di sana, hamparan batu kapur yang membentang hampir 150 kilometer. Yang ada hanya hutan berduri dan pohon baobab.

Pohon Baobab (ki tambleg) juga dikelan dengan istilah pohon kaki gajah (Adansonia). Setidaknya teridentifikasi delapan spesies pohon asli Madagaskar, Afrika daratan dan Australia.

Nama lain dari ponon ini adalah boab dan boaboa. Tingginya bisa mencapai 5–25 m. Pohon ini mampu menyimpan air di batangnya—bahkan hingga kapasitas 120.00 liter lebih. Air itu lah yang digunakan untuk bertahan dalam kondisi kekeringan.

Warga Desa Ambutak yang berpenduduk sekitar 400 orang mengandalkan cara luar biasa untuk bertahan hidup. Mereka mengandalkan pohon ini untuk menyimpan cadangan air di dalam batang pohon—menjadikannya tangki alami yang mampu bertahan selama musim kemarau panjang.

Kolam dan mata air di sekitar desa hanya tersedia beberapa bulan saat musim hujan berlangsung dari Desember hingga Maret. Kini, ketika April menandai awal musim kemarau, warga mulai mencari sumber air tambahan dari tanaman.

Air dari buah semangka serta umbi-umbian seperti ubi dan babuk dimanfaatkan untuk diminum langsung atau digunakan memasak. Umbi babuk dikenal bergizi dan memiliki kandungan air yang tinggi sehingga menjadi incaran saat paceklik.

Kebutuhan air yang sangat terbatas memaksa warga Autoutak mengembangkan berbagai cara sederhana untuk menghemat.

Mereka menggunakan sedikit abu sebagai pengganti sabun serta botol dengan tutup berlubang dan pedal kayu untuk mencuci dengan air sesedikit mungkin.

Pengetahuan itu diwariskan secara turun-temurun melalui peran para tetua desa.

Masindia, yang telah berusia 82 tahun, masih mengingat bagaimana masyarakat Desa Ambutak menghadapi kekurangan air dan kelaparan, terutama yang berdampak pada anak-anak.

Pada musim kemarau, hewan ternak pun kesulitan mendapatkan air. Warga memberikan tanaman berkandungan air tinggi, salah satunya daun kaktus, yang sangat disukai zebu atau sapi khas Madagaskar. Sebelum diberikan, duri-duri pada daun kaktus dibakar terlebih dahulu di atas api.

“Desa ini dikelilingi ratusan pohon baobab yang batangnya tebal dan besar sehingga mampu menyimpan air dalam waktu lama,” ujarnya.

Nama baobab dipercaya berasal dari bahasa Arab “bu hibab” yang berarti buah dengan banyak biji, dan setiap buah dapat memiliki hingga 100 biji berlapis daging putih.

Daging buah baobab yang kaya kalsium dan vitamin C sangat disukai anak-anak karena rasanya manis dengan sedikit asam. 

Biji baobab yang keras dihancurkan menggunakan dua batu, lalu dihaluskan dengan alu dan lesung sebelum dicampur daun singkong tumbuk untuk membuat saus.

Eugenie mengolah bahan itu di dapurnya, sebuah rumah kecil dari tanah berpintu rendah dan sempit.

Cairan masakan disaring memakai saringan dari daun rafia, sejenis tanaman palem lokal, lalu dimasak perlahan dan disantap bersama singkong rebus.

Mammudi, yang berusia 50 tahun, lahir di Autoutak dan tinggal bersama istrinya, Eugenie, serta putra mereka, David.

“Selama bertahun-tahun kami mengandalkan salah satu tangki air milik mereka yang berada di dalam pohon baobab,” ujarnya.

Untuk mengambil air, Mammudi memasang potongan kayu sebagai perancah agar bisa mencapai bagian atas tangki.

Di balik pintu logam kecil beberapa meter di atas permukaan tanah, tersimpan cadangan air yang sangat berharga, dan Mammudi menurunkan ember demi ember untuk istrinya setiap hari selama berbulan-bulan.

Warga juga memanfaatkan serat tanaman agave yang diperoleh dengan menjepit daun di antara papan dan potongan kayu.

Serat itu terutama digunakan untuk membuat tali, sementara pada puncak musim kemarau, mandi dan mencuci harus dilakukan dengan air yang sangat sedikit.

Di tempat lain, Fiflora dan istrinya, Fulandi, mencari tanaman pachypodium yang bentuknya menyerupai baobab kecil. 

Setelah batangnya dipotong, Fulandi menumbuk bagian serat dengan alu dan memerasnya hingga keluar getah kental yang dipercaya berkhasiat melembapkan kulit.

Sebelum menggali tangki baru, Mammudi terlebih dahulu membuat perancah dari kayu kuat yang dirangkai dan diperkuat liana, tanaman merambat dari hutan.

Lubang tangki dibuat sekecil mungkin agar air yang tersimpan tidak cepat menguap.

Masyarakat Autoutak memiliki alat khusus berupa parang atau sekop kecil khas Malagasy untuk mengikis bagian dalam batang baobab.

Pohon ini memiliki kemampuan regenerasi luar biasa sehingga mampu bertahan dari luka dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Tangki-tangki baobab biasanya memiliki kedalaman antara dua hingga lima meter.

Salah satu tangki tertua di desa itu digali sekitar 120 tahun lalu, sementara tangki lain bernama Anzamitun sudah lama tidak digunakan karena letaknya jauh dan kapasitasnya terlalu kecil.

Sekitar 30 kilometer dari Autoutak berdiri salah satu pohon baobab tertua di Madagaskar yang disebut “Sang Nenek” karena kulit batangnya menyerupai kulit keriput seorang leluhur.

Meski ukurannya tidak terlalu besar, pohon itu diperkirakan telah berusia sekitar 1.600 tahun, dan keberadaan nodul di sepanjang batang menjadi tanda usia yang sangat tua.

Tradisi menggali baobab diwariskan dari ayah kepada anak, dan menurut adat setempat, seorang penggali baru boleh mengosongkan baobab pertamanya setelah ayahnya meninggal. Secara keseluruhan, proses penggalian sebuah tangki dapat memakan waktu antara satu hingga tiga minggu.

Tangki baru milik Mammudi yang bernama Zatellu memakan waktu enam hari dan mampu menampung sekitar 5.000 liter air, sementara tangki baobab yang lebih besar dapat menyimpan hingga 15.000 liter.

ARTIKEL TERKAIT

Warga di Tegalgede Jember Krisis Air Bersih, 40 KK Terdampak

Read Also

Perjalanan Osman Bersama Ular dari Semenanjung Malaya ke Hutan Langkawi

Warga Pulau Langkawi, Malaysia, hanya memiliki satu nama yang selalu mereka hubungi ketika...

Seluruh Elemen Negeri Liang Didorong Kawal Perneg Hak Tenurial Pesisir

Wakil Ketua Saniri Negeri Liang, Abdul Samad Lessy, menegaskan proses penyusunan Peraturan Negeri...

Indonesia Sumbang 40% Emisi Karbon Global akibat Karhutla, Ini Datanya

Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia tercatat sebagai yang...