Oleh: Febrima Surya
Penulis tamu untuk Gasial.id
Saparuddin Siregar memutuskan beralih ke motor listrik merek Green Tech pada tahun 2023. Saat itu, harga kendaraan roda dua ini sekitar Rp16 juta.
Berkat program subsidi pemerintah, ia hanya perlu merogoh kocek Rp9,8 juta. Motor itu ia bawa pulang, dipakai untuk aktivitas kesehariannya hingga kini.
“Kalau hitung-hitung pengeluaran, tentu jauh lebih irit,” kata pemilik kedai kopi di Jalan Mangga, Sukajadi, Pekanbaru, Riau itu, pertengahan Maret 2026 lalu.
“Sebelum ini saya pakai Honda Beat. Butuh sekitar Rp35.000 sampai Rp40.000 seminggu untuk bahan bakar. Kalau sekarang, untuk cas baterai motor paling sekitar Rp5.000 sekali cas. Itu pun tak perlu setiap hari. Ngecasnya seperti cas-an ponsel. Bisa di rumah” ujar Regar, begitu sapaan akrabnya.
Saat awal menunggangi sepeda motor listrik rasanya memang beda. Mungkin karena belum terbiasa. Jadi, masih canggung. Setelah lama, rasanya sama seperti mengendarasi sepeda motor pada umumnya. Hanya saja, tidak ada deru suara mesin. Senyap saat melaju.
Regar jadi lebih irit untuk pengeluaran transportasi. Biaya perawatanya rendah, lebih mudah, walau rata-rata kecepatannya hanya sekitar 70 kilometer per jam. “Nggak masalah. Masih awet kok, sampai sekarang,” ujarnya.
Warga di Kota Pekanbaru mulai melek dengan energi hijau—terutama di sektor transportasi. Mobil dan sepeda motor tanpa bising itu sudah mudah ditemui di banyak jalan protokol di Kota Bertuah ini. Kondisi ini cukup untuk menegaskan, bagaimana kota ini tengah bertransisi ke moda transportasi ramah lingkungan.
Data PLN UP3 menyebut, jumlah pengguna kendaraan listrik di Pekanbaru meningkat cukup tajam, hingga 150% hingga akhir 2024. Sejumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) juga sudah bermunculan, walau jumlahnya masih sangat terbatas.
Pemerintah kota, juga ikut mendorong perluasan ekosistem kendaraan listrik. Seperti mendorong penambahan SPKLU di titik-titik strategis.
“Karena jumlah pengguna kendaraan listrik sudah mulai banyak, kami harap penambahan SPKLU juga dipercepat,” kata Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho.
Bahkan, pemerintah kota sudah meluncurkan oplet listrik—sebagai angkutan kota modern yang lebih senyap dan bersih. Tapi, lagi-lagi jumlahnya masih sangat terbatas. Agung menyebut, cara-cara seperti ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya kota bersih, sehat, nyaman, tapi tetap modern.
Sekitar akhir 2025, tercatat ada hampir 300 unit kendaraan listrik yang telah mengaspal di Kota Pekanbaru. Jumlah itu didukung dengan 12 SPKLU dan tambahan 36 unit lainnya tersebar di Riau.
Suara mendesir halus terdengar dari putaran ban sepeda motor listrik yang distandar dua, saat Regar memutar pedal gas di stang kanan kendaraan itu. Ia ingin sedikit pamer kepada saya.
“Coba abang dengarkan sendiri. Tak ada suara kan,” ujarnya.
“Halus, ya,” jawab saya sambil mengangguk paham.
Dari Regar, saya mengerti, bahwa setiap individu harusnya punya tanggung jawab masing-masing, bagaimana mereka seharusnya berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan yang bersih dari polusi.
Di luar komplek ini, ada kota yang tengah berupaya untuk berubah. Atas dasar kegusaran akan kondisi lingkungan, maka semua warga harus mau berubah demi masa depan Bumi yang lebih baik. Sanggupkan Kota Bertuah ini berubah?







