Perjalanan Osman Bersama Ular dari Semenanjung Malaya ke Hutan Langkawi

Kisah Osman, warga Langkawi yang mendedikasikan hidupnya menyelamatkan ular berbisa dan menjaga hutan hujan di pulau warisan UNESCO Geopark itu.

Perjalanan Osman Bersama Ular dari Semenanjung Malaya ke Hutan Langkawi
Foto: Tangkapan layar youtube Slice.

Warga Pulau Langkawi, Malaysia, hanya memiliki satu nama yang selalu mereka hubungi ketika seekor ular muncul di rumah atau pekarangan mereka. Nama itu adalah Osman.

Selama bertahun-tahun, ia menjadi sosok andalan warga untuk menangkap dan melepaskan kembali ular-ular tersebut ke hutan, jauh dari permukiman.

Pulau yang dihuni beragam jenis ular—termasuk yang berbisa seperti krait belang—membuat pekerjaan Osman tak pernah sepi permintaan.

Ia mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari ular sekaligus ekosistem tempat mereka tinggal, yakni hutan hujan yang menyelimuti Langkawi.

Dalam salah satu penyusuran hutan, Osman berhasil menemukan seekor sanca batik Malaysia yang baru saja berganti kulit.

“Saya awalnya hanya berkonsentrasi menunjukkan sarang rayap kepada Anda, tapi kita berkesempatan melihat… ya, ular sanca batik Malaysia,” ujarnya.

Sanca batik dikenal sebagai ular terpanjang di dunia. Spesimen dewasa dapat mencapai panjang 10 meter dengan bobot lebih dari 130 kilogram, dan mampu membunuh mangsa dengan melilit hingga lemas sebelum menelan babi hutan atau bahkan macan tutul.

Osman menegaskan bahaya sanca batik tidak bisa dianggap enteng, terutama saat digigit dalam kondisi panik.

Ia menyebut gigitannya bisa merobek daging, sehingga pakaian pelindung wajib digunakan saat berhadapan dengan sanca berukuran 3,5 hingga 4 meter.

Momen menangkap sanca besar tersebut menjadi pengalaman langka bagi Osman meski telah lima tahun berkecimpung di hutan.

“Untuk pertama kalinya dalam lima tahun di hutan, saya melihat ular sanca besar di depan saya dan menangkapnya dengan tangan kosong,” katanya.

Setelah berinteraksi singkat, Osman melepaskan kembali sanca tersebut ke habitatnya. Ia menjelaskan prinsip kerja timnya dalam setiap penyelamatan satwa: “Temukan, selamatkan, dan bagikan keindahan alam semesta kita.”

Selain sanca batik, Osman juga menangani pelepasan ular kobra biasa berukuran sedang yang di alam liar umumnya memakan katak atau tikus.

Ia menjelaskan cara kobra mendeteksi lingkungan sekitar melalui lidah yang dijulurkan, sebelum mengirim sinyal ke organ sensorik di otaknya.

Ular lain yang turut dilepasliarkan Osman adalah pit viper bakau, spesies yang belakangan diidentifikasi berbeda dari pit viper di Thailand Selatan.

Meski tergolong kecil dan bertubuh tersamar, racun ular ini dikenal sangat berbahaya, dan spesimen tersebut telah dipelihara timnya lebih dari sebulan sebelum dilepas kembali ke hutan.

Kehidupan Osman di Langkawi berawal dari sebuah perjalanan wisata yang mengubah arah hidupnya sepenuhnya. Ia lahir di Semenanjung Malaysia, di seberang Selat Malaka, sebelum akhirnya menetap dan membesarkan tujuh anak bersama istrinya, Au, di pulau yang kini menjadi rumahnya.

Pengetahuan tentang ular ia peroleh dari ayah mertuanya, dan kini ia menurunkannya kepada anak-anaknya yang turut membantu menunjukkan kekayaan alam Langkawi kepada pengunjung.

Bagi Osman, memahami perilaku ular adalah syarat mutlak sebelum melakukan penanganan langsung.

“Ketika saya mengamati gerakannya, saya memahami perilaku ular. Saya mulai tahu bagaimana mereka akan bergerak,” ujarnya.

Menurutnya, penguasaan sebuah keahlian tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat, melainkan lewat pengamatan panjang terhadap hewan yang ditangani.

ARTIKEL TERKAIT

Biodiversity Safeguard, Listrik Tersedia, Alam Terjaga

Read Also

Seluruh Elemen Negeri Liang Didorong Kawal Perneg Hak Tenurial Pesisir

Wakil Ketua Saniri Negeri Liang, Abdul Samad Lessy, menegaskan proses penyusunan Peraturan Negeri...

Kearifan Lokal Warga Madagaskar Sulap Pohon Ini Jadi Tangki Air

Dataran Tinggi Mahafaly di barat daya Madagaskar dikenal sebagai salah satu kawasan paling...

Indonesia Sumbang 40% Emisi Karbon Global akibat Karhutla, Ini Datanya

Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia tercatat sebagai yang...