Sebahaya Apa Ancaman El Nino Godzila, Benarkah Bisa Meluluhlantahkan Lahan Gambut?

Sebahaya Apa Ancaman El Nino Godzila, Bisakah Meluluhlantahkan Lahan Gambut?
Kebakaran di lahan gambut || Foto: Anupan.
A-AA+A++

Natasya
Penulis tamu untuk Galsial.id


El Nino Godzila diperkirakan akan melanda Indonesia mulai April ini. Ini sama dengan kemarau ektrem—bahkan lebih ekstrem dari musim panas pada umumnya—menurut perkiraan para ahli.

Setiap tahun, Provinsi Riau dan Kalimantan, selalu menjadi perbincangan nasional saat musim panas tiba. Daerah ini punya lahan ganbut yang luas. Meningkatnya intensitas kemarau membuatnya harus selalu waspada dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kebakaran di lahan gambut memicu krisis yang besar atas ancaman kabut asap. Dampaknya kemana-mana, pendidikan lumpuh, ekonomi anjlok, lingkungan rusak, udara tercemar, ancaman ISPA bisa lebih ganas dari yang diperkirakan. Itulah kenapa El Nino Godzila tahun ini, benar-benar sangat menakutkan.

Apa itu El Nino Gozila?

El Nino dengan kekuaran “kekeringan” yang sangat besar, itulah yang disebut dengan istilah El Nino Godzila. Salah satu tanda yang peling mencolok, yakni naiknya suhu permukaan air laut secara ekstrem di Samudera Pasifik. 

Dampaknya akan memicu kemarau panjang, suhu panas meningkat, kekeringan yang ekstrem, serta ancaman gagal panen di sektor pertanian akan semakin besar. Di Indonesia, El Nino Godzila diperkirakan terjadi mulai April hingga Oktober 2026.

Menurut Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Prof Bayu Dwi Apri Nugroho, El Nino itu bagian dari siklus iklim. Ini bukan barang baru, dan sudah berlangsung lama.

Tapi, kondisi perubahan iklim global membuatnya lebih sering muncul, semakin kuat, “dan semakin sulit dipreduksi,” ujarnya. Adapun istilah “El Nino Godzila”, kata Bayu, merujuk pada intensitasnya yang jauh lebih kuat dari biasanya.

Matahari terik saat musim panas di Pekanbaru, Riau || Foto: Natasya.

Ancaman Karhutla Meningkat?

Menurut data yang dirilis Lapor Iklim, dalam lima tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan serius di Indonesia.

Total luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 3,67 juta hektare. Angka terbesar terjadi pada 2019 dengan luas 1,65 juta hektare, disusul 2023 yang juga tinggi, yakni 1,61 juta hektare.

Jika dirata-ratakan, setiap tahun Indonesia kehilangan sekitar 734 ribu hektare hutan akibat kebakaran. Ini bukan angka kecil—setara dengan ratusan ribu lapangan sepak bola yang hilang setiap tahunnya.

Dampaknya tidak hanya soal hilangnya hutan, tetapi juga lonjakan emisi karbon. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, total emisi karbon dari karhutla selama periode 2019 hingga 2023 mencapai 917 juta ton.

Untuk gambaran yang lebih mudah, jumlah tersebut setara dengan emisi dari sekitar 16,67 juta mobil. Angka ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi karhutla terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan mencatat, hingga Oktober 2025, luas area yang terbakar mengalami penurunan signifikan, berada di kisaran 213 ribu hingga 359 ribu hektare. Angka ini diklaim lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 376 ribu hektare.

Fenomena El Nino Godzila tahun 2026, tentu saja menjadi kabar buruk jika pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak punya trategi dalam upaya penanganannya.

“Dalam konteks kebijakan, langkah strategis perlu dilakukan secara terintegrasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait,” ujar Bayu.

El Nino Godzila, atau kondisi kekeringan seperti ini akan terjadi dalam rentang siklus 30 tahunan, kata Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, dalam sebuah pertemuan di Pemprov Riau, pada 13 April 2026.

“Kekeringan seperti ini pernah kita alami sekitar tahun 1997, atau 30 tahun yang lalu,” katanya, terlebih Super El Nino ini ternyata datang sesuai preduksi.

Sejak awal 2026, ancaman Karhutla di kawasan gambut kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Data dari Pantau Gambut mencatat, sebanyak 23.546 titik panas terdeteksi mengelilingi wilayah gambut di berbagai daerah.

Lonjakan ini tergolong drastis jika dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Pada Desember 2025, jumlah titik panas masih berada di angka 141 titik. 

Namun memasuki Januari 2026, angka tersebut melonjak menjadi 5.114 titik, kemudian relatif stabil di Februari dengan jumlah yang sama, sebelum akhirnya memuncak tajam pada Maret hingga mencapai 12.942 titik panas.

Kebakaran lahan saat cuaca panas melanda ||| Foto: Viesinsh

Jika dilihat dari sebarannya, titik panas paling banyak muncul di kawasan Fungsi Ekosistem Gambut (FEG) lindung, yakni sebanyak 15.424 titik. 

Sementara itu, di kawasan FEG budidaya tercatat 8.122 titik. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena gambut lindung umumnya memiliki lapisan yang lebih dalam, sehingga berpotensi menghasilkan emisi karbon jauh lebih besar saat terbakar.

Dari sisi wilayah, Riau menjadi daerah dengan jumlah titik panas tertinggi, mencapai 8.930 titik. Disusul Kalimantan Barat dengan 8.842 titik.

Sementara itu, Aceh mencatat 1.975 titik, Sumatera Barat sebanyak 533 titik, dan Sulawesi Tengah mencapai 526 titik.

Juru kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menyebut konsentrasi titik panas ini menunjukkan pola yang belum berubah. “Konsentrasi ini menunjukkan bahwa wilayah dengan bentang gambut luas di Sumatera dan Kalimantan masih menjadi episentrum kerawanan karhutla,” ujarnya,

Temuan ini menegaskan bahwa kawasan gambut, terutama yang berada di Sumatera dan Kalimantan, masih menjadi titik paling rentan terhadap kebakaran.

Tanpa upaya pengendalian yang lebih serius dan terukur, lonjakan titik panas ini berpotensi memicu kebakaran besar yang berdampak luas, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.***