Pasokan dan Permintaan Telur Bebas Sangkar Tak Seimbang, Kesenjangan Berpotensi Makin Melebar?

Permintaan terhadap telur dari sistem bebas sangkar (cage-free) di Indonesia terus meningkat, seiring dengan meningkatnya perhatian konsumen dan pelaku usaha terhadap kesejahteraan hewan dalam rantai pasok pangan.

Namun, ketersediaan pasokan dari peternak masih belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.

Kesenjangan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sektor peternakan ayam petelur untuk bertransformasi menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Untuk menjawab kesenjangan tersebut, Animal Friends Jogja (AFJ) menyelenggarakan Sarasehan Peternak Gunungkidul 2026 pada 15 April 2026, di Playen, Gunungkidul.

Sebanyak 37 peternak ayam petelur hadir. Perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul dan Perwakilan Pembina Program Ayam Merah Putih Gunungkidul, juga hadir di forum itu.

Sarasehan ini menjadi ruang bagi peternak untuk memahami penerapan kesejahteraan hewan sekaligus peluang pasar dari sistem bebas sangkar yang terus berkembang.

“Permintaan terhadap telur bebas sangkar terus tumbuh, namun tanpa dukungan yang memadai, peternak akan kesulitan mengejar kebutuhan pasar yang sudah bergerak lebih cepat,” ujar Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan, Animal Friends Jogja, Elly Mangunsong.

Prinsip kesejahteraan hewan menekankan bahwa hewan yang diternakkan harus bebas dari rasa lapar, sakit, dan stres, serta memiliki ruang untuk mengekspresikan perilaku alaminya—seperti bergerak, bertengger, dan bersarang—yang sulit terpenuhi dalam sistem kandang baterai yang masih banyak digunakan saat ini.

Di Indonesia, kesejahteraan hewan telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta diperkuat oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 32 Tahun 2025.

Dalam kegiatan ini, para peserta mendapatkan pemaparan mengenai implementasi sistem bebas sangkar.

Anom Yusuf dari Global Food Partners menjelaskan manajemen pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar untuk skala kecil hingga menengah, termasuk pengelolaan kandang, pakan, serta tantangan penerapannya di tingkat peternak.

Animal Welfare Specialist Animal Friends Jogja, drh. Aisah Nurul Fitri, menekankan bahwa penerapan sistem bebas sangkar perlu diiringi dengan pengelolaan kesehatan pada ayam petelur yang baik agar produktivitas dan kesejahteraan berjalan seiring.

Ketua Tri Manunggal Bhakti, Agung Setyoleksono, mengatakan bahwa meningkatnya perhatian konsumen terhadap kesejahteraan hewan membuka peluang bagi peternak untuk mengembangkan sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tanpa dukungan yang terarah, kesenjangan antara permintaan dan pasokan berpotensi semakin melebar.

Karena itu, AFJ menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor—mulai dari peternak, pemerintah, hingga pelaku usaha—menjadi kunci untuk memastikan transisi menuju sistem bebas sangkar dapat berjalan secara nyata dan berkelanjutan.


ARTIKEL TERKAIT

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut
Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru
Filosofi dalam Rasa di Balik Sambal Empat Sungai
ANALISIS — Harga Emas Dunia Berpeluang Tembus USD 5.000

Read Also

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut

Seorang petani membawa karung jagung usai panen di ladangnya ||| Foto: Tuấn Nguyễn...

Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru

Peneliti BRIN ungkap burung ruak-ruak punya kandungan glutamat dan asam lemak tinggi. Daging...

ANALISIS — Harga Emas Dunia Berpeluang Tembus USD 5.000

Harga emas dunia naik ke USD 4.723 per ounce. Analis prediksi emas bisa...