Menyulap Lahan Nganggur di Kompleks Perumahan Jadi Asa Ketahanan Pangan

Oleh: Fadly Ibrahim
Penulis tamu untuk Glasial.id


Mewujudkan ketahanan pangan itu, tidak melulu dimulai dari lahan luas atau proyek besar. Kadang, langkah sederhana itu bisa dimulai dari lingkungan perumahan, dan hasilnya terasa nyata bagi masyarakat sekitar.

Itulah yang terlihat di Kompleks Perumahan Griya Tika Utama, RT 02 RW 14, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru.

Di tengah kawasan hunian tersebut, berdiri sebuah kebun mini Hidroponik Urban Farming. Kebun yang tumbuh dari kolaborasi warga bersama program BRI Peduli.

Wujudkan Harapan, Menyulap Lahan Nganggur di Kompleks Perumahan Jadi Asa Ketahanan Pangan
KEBUN CABAI: Seorang petani sedang memeriksa kondisi kebun cabai. Dulu ini adalah lahan kosong di kompleks perumahan Griya Tika Utama, Bukit Raya, Pekanbaru ||| Foto: Fadly Ibrahim untuk Gasial.id.

Saya sudah berkunjung ke sana sekitar pertengan September 2025 lalu. Kebun ini hidup. Di sana, Hendrik sibuk menyiram tanaman cabai menggunakan pipa paralon yang tersambung ke selang dan tangki air di belakangnya.

Lebih kurang, begitulah rutinitasnya setiap sore menjelang magrib. Di tengah hamparan tanaman cabai setinggi pinggang, ia memastikan seluruh tanaman mendapat air yang cukup.

Luas kebun ini sekitar 24 x 20 meter persegi, kira-kira setara empat rumah tipe 36 yang disusun depan-belakang. Seluruh area dipagari kawat besi dan di sekelilingnya tumbuh tanaman labu air yang merambat di pagar.

Beberapa buah labu sudah menggantung, meski belum matang. Untuk masuk ke area kebun, tersedia gerbang besi dengan pintu setinggi dada orang dewasa.

Di sisi kiri pintu masuk terdapat saung kecil dan menara toren air. Dari gerbang, jalan setapak berbahan paving block membelah area kebun hingga ke bagian tengah.

Di tengah kebun berdiri bangunan terbuka tanpa dinding berbahan baja ringan dengan atap plastik UV. Bangunan itu difungsikan sebagai lanjaran tanaman anggur.

Sementara di bagian paling belakang terdapat greenhouse berukuran mini. Area kebun ini memang dibagi menjadi dua bagian, yakni kebun terbuka dan kebun dalam greenhouse.

Di greenhouse, berbagai jenis tanaman sudah beberapa kali dipanen, mulai dari pakcoy, sawi, selada, hingga melon segar. Belum lama ini, hasil panen melon cukup melimpah dan diminati warga.

Untuk area terbuka, tanaman utamanya adalah cabai setan atau cabai rawit besar yang biasa dipakai untuk sambal geprek. Warga sekitar menyebutnya sebagai “cabe geprek”.

Selain cabai, ada pula beberapa pohon pepaya yang tumbuh di dekat pagar. Kebun ini menjadi bukti bahwa lahan terbatas tetap bisa dimanfaatkan secara produktif.

Bermula dari Lahan Kosong

Cerita kebun ini dimulai sekitar Februari 2023. Saat itu, Kelompok Tani Wanita (KWT) RW 14 dihubungi pihak kelurahan terkait rencana PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk menjalankan program urban farming untuk mendukung ketahanan pangan.

Di kompleks tersebut kebetulan ada lahan kosong yang belum dibangun rumah. Lahan itu dipenuhi semak belukar dan belum dimanfaatkan.

Melihat peluang itu, KWT RW 14 kemudian meminta izin kepada pengembang perumahan agar lahan bisa dipinjam untuk dijadikan kebun tanaman pangan. Hasilnya, izin diberikan.

“Ternyata, sama developernya boleh. Jadi lah kebun ini,” kata Hendrik, pengelola kebun tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa sebelumnya ada dua lokasi yang disurvei pihak BRI, namun akhirnya dipilih lokasi ini.

Setelah lokasi ditetapkan, BRI mulai membangun berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari pagar kawat, gerbang, saung kecil, sumur bor, menara toren, tangki air, greenhouse lengkap, hingga penyediaan bibit tanaman.

Karena warga masih baru mengenal sistem hidroponik, BRI juga menyiapkan seorang mentor. Dari pendamping itu, warga belajar proses pembibitan, penanaman, perawatan, panen, hingga pemasaran hasil kebun.

Hasil Panen Diserbu Warga

Seiring waktu, tanaman tumbuh subur dan hasil panen cukup memuaskan. Produksi cabai dan sayur dari kebun ini bahkan mampu membantu memenuhi kebutuhan warga kompleks.

Hampir setiap sore, selalu ada warga yang datang membeli hasil panen. Bahkan, hasil kebun kerap habis dibeli warga sebelum sempat dijual ke pasar luar.

“Temen-temen dari BRI juga sering ngontak, ‘Kami mau main ke kebun’, datang mereka, banyak juga yang beli hasil dari kebun kita. Uangnya masuk ke kas,” kata Hendrik.

Menurutnya, tanaman seperti cabai membutuhkan perlakuan khusus. Cabai tidak ideal ditanam terus menerus karena dapat menurunkan hasil panen berikutnya.

Karena itu, lahan cabai perlu diselingi tanaman lain seperti jagung. Tanaman sela ini berguna memutus siklus hama, menjaga kelembapan tanah, mengontrol air, menjadi mulsa alami, dan menghemat pupuk.

Di masa itulah Hendrik meminta izin kepada KWT untuk mengelola greenhouse. Area yang sebelumnya ditanami sayur kemudian dialihkan menjadi kebun melon hidroponik.

Hasilnya cukup mengejutkan. Melon tumbuh besar, segar, dan langsung diminati warga kompleks.

“Saya sempat kewalahan,” ujar Hendrik. “Ada saja warga yang pesan lewat telepon.”

Banyak warga yang awalnya memesan satu buah, lalu menambah jumlah pesanan. Bahkan setiap melon diberi label nama pemesan agar tidak tertukar.

Memberdayakan Para Pensiunan

Selain menjaga kebun tetap produktif, Hendrik punya tujuan lain. Ia ingin mengajak para pensiunan di kompleks agar tetap aktif dan memiliki kegiatan positif.

Ia lalu merekrut empat warga pensiunan untuk ikut mengelola kebun. Menurutnya, banyak pensiunan yang lebih sering diam di rumah sehingga rentan mengalami penurunan kesehatan.

Salah satunya Mardy, pensiunan berusia sekitar 60 tahun. Kini ia rutin berkegiatan di kebun, mulai dari mencangkul, membersihkan rumput, menyemai bibit, hingga panen.

Aktivitas itu membuat tubuhnya kembali bugar. Ia merasa seperti kembali ke masa muda saat masih aktif bekerja.

“Jadi lebih sering gerak, kan,” ujarnya. Menurut Mardy, masa pensiun ternyata bisa tetap menyenangkan jika diisi kegiatan bermanfaat.

“Di usia senja seperti ini, saya merasa lebih bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Bagi warga, kebun ini bukan sekadar tempat bercocok tanam. Kebun ini juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Hendrik mengaku sering ada warga datang saat mereka sedang menyiram tanaman. Mereka meminta cabai atau sayur untuk kebutuhan memasak hari itu.

“Silahkan. Mereka boleh ambil. Nggak selalu kami jual,” katanya.

Pernah pula ada pembeli dari luar kompleks yang tidak mau mengambil uang kembalian. Uang itu kemudian dibelikan nasi bungkus untuk dimakan bersama para pengelola kebun.

Strategi Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi

Dari kebun kecil ini, pelajaran penting tentang ketahanan pangan terlihat nyata. Meski hasil panennya tidak besar, produksi kebun cukup membantu menekan pengeluaran warga untuk komoditas tertentu seperti cabai dan sayur.

Kompleks Griya Tika Utama dihuni sekitar 125 kepala keluarga. Menurut Hendrik, sekitar 200 batang cabai di kebun sudah cukup membantu kebutuhan warga.

Harga cabai di kebun juga jauh lebih murah dari harga pasar. Bahkan tidak pernah lebih dari Rp50 ribu per kilogram.

Ke depan, Hendrik ingin menggagas gerakan tanam cabai di pekarangan rumah warga. Setiap rumah direncanakan mendapat 10 bibit cabai dalam polybag.

Lima tanaman untuk kebutuhan dapur sendiri, sementara lima lainnya bisa dibeli kembali untuk dipasarkan. Cara ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Ketua Petani Milenial Riau, Ade Putra Daulay, menilai program seperti ini sangat tepat. Menurutnya, ketahanan pangan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga.

Ia juga menilai BRI telah mengambil peran penting dalam mendukung masyarakat. Program semacam ini dinilai bisa membantu pengendalian inflasi, terutama untuk komoditas sensitif seperti cabai.

“Nah, harapan kita ada pihak-pihak lain, mengambil peran sama pada komoditi lainnya,” kata Ade.

Dengan begitu, pemerintah bisa lebih fokus mengintervensi komoditas besar seperti beras, bawang, dan minyak goreng.

Kebun Hidroponik Urban Farming ini merupakan bagian dari program BRI Peduli. Program tersebut menyasar pemanfaatan lahan terbatas seperti pekarangan rumah dan lahan kosong dengan melibatkan kelompok tani wanita serta rumah tangga.

Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengapresiasi keberhasilan warga dalam menjaga program ini tetap hidup. Ia menilai pelibatan aktif masyarakat menjadi kunci perubahan berkelanjutan.

“Program ini bukan hanya sekedar menanam sayur, tapi juga menjadi gerakan bersama yang memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi keluarga,” ujarnya.

BRI menyatakan akan terus mengembangkan program serupa ke wilayah lain di Pekanbaru. Pendekatannya tetap sama, yakni pemberdayaan berbasis komunitas dan keberlanjutan.

Dari kebun kecil di tengah perumahan ini, harapan besar tentang ketahanan pangan tumbuh perlahan. Dimulai dari lahan sempit, lalu berkembang menjadi manfaat nyata bagi banyak orang.


ARTIKEL TERKAIT

FAO: Potensi Naik Tajam Minyak Nabati saat Harga Komoditas Pangan Dunia Naik Berturut-turut
Burung Ruak-ruak Berpotensi Jadi Sumber Daging Fungsional Baru
Filosofi dalam Rasa di Balik Sambal Empat Sungai
ANALISIS — Harga Emas Dunia Berpeluang Tembus USD 5.000

Read Also

Filosofi dalam Rasa di Balik Sambal Empat Sungai

Oleh: R. Wijaya | Penulis tamu untuk Glasial.id Filosofi dalam rasa di balik...

Kisah Getir di Balik Roti Manis Haga Bakery, “Kalau Ingat Anak-anak, Rasa Capek Itu Hilang Seketika”

Usaha roti manis Haga Bakery milik Oktanius tumbuh dari dapur sederhana. Kini omzetnya...

Regar dan Motor Listriknya, Sanggupkan Kota Bertuah Berubah?

Oleh: Febrima SuryaPenulis tamu untuk Gasial.id Saparuddin Siregar memutuskan beralih ke motor listrik...