Silvo-aquaculture, “Perisai” Alam untuk Pesisir dari Ancaman Krisis Iklim

Silvo-aquaculture, metode budidaya ikan ramah lingkungan yang memulihkan mangrove sekaligus memperkuat ketahanan pangan pesisir hadapi krisis iklim.

Silvo-aquaculture, “Perisai” Alam untuk Pesisir dari Ancaman Krisis Iklim
Bibit mangrove yang mulai tumbuh ||| Foto: Pramod Kanakath

Hamparan mangrove yang kian tergerus abrasi kini mengancam kehidupan jutaan masyarakat pesisir Indonesia. Di tengah krisis iklim yang memicu degradasi ekosistem, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengangkat silvo-aquaculture sebagai solusi berbasis alam yang memadukan budidaya ikan dengan konservasi bakau.

Dalam sebuah forum riset bertajuk Ocean Farms ke-8, pada 23 Juni 2026, BRIN berusaha meyakinkan bahwa pendekatan terpadu ini mampu meningkatkan produksi pangan berkelanjutan sekaligus memperkuat perlindungan garis pantai.

Sistem itu diyakini menjadi kunci untuk memulihkan ekosistem yang rusak tanpa harus mengorbankan mata pencaharian para nelayan tradisional.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menyebut kawasan pesisir sebagai lini strategis yang kini terhimpit degradasi lingkungan dan konflik lahan.

Silvo-aquaculture menawarkan jalan terpadu dengan mengintegrasikan praktik budidaya, konservasi, dan restorasi,” ujarnya di hadapan puluhan peserta webinar.

Ia menjelaskan, praktik itu tidak hanya menyelamatkan pesisir dari hantaman ombak, tetapi juga secara alami meningkatkan kualitas air. Lebih jauh, karbon biru yang terserap oleh ekosistem mangrove berkontribusi langsung pada mitigasi perubahan iklim.

Pernyataan itu diperkuat oleh pengalaman praktis yang dibawa dari Jepang. Dr. Hiroshi Imai, Konsultan JIN Corporation, memaparkan hasil eksperimen penanaman mangrove dalam sistem silvo-aquaculture yang ia lakukan di Sulawesi Selatan.

Ia menyebut, kehadiran mangrove di area pertambakan berhasil menjaga stabilitas ekosistem air. “Kami melihat langsung bagaimana ikan dan udang tumbuh lebih sehat di bawah naungan mangrove,” kata Hiroshi, menggambarkan temuannya.

Sementara itu, perspektif domestik disampaikan oleh peneliti BRIN, Dr. Hidayat Suryanto Suwoyo. Ia menyoroti sejumlah tantangan implementasi, terutama terkait persepsi masyarakat dan kebutuhan investasi awal yang kerap menjadi hambatan.

Meski begitu, Hidayat optimistis silvo-aquaculture bisa menjelma menjadi model bisnis baru bagi petani tambak tradisional. “Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat bisa merasakan langsung manfaat ekonomi dari ekosistem yang sehat,” ucapnya.

Silvo-aquaculture dinilai sebagai instrumen paling rasional untuk menjawab kerentanan pangan dan ekologi secara bersamaan di Indonesia.

ARTIKEL TERKAIT

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?
Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair
Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu
ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Read Also

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkapkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali...

Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair

Coba sama-sama kita bayangkan, di suatu pagi, kita berdiri di tepi sebuah glasial...

“Mesin Uang” Itu Bernama Melon Golden Alisha

Sore itu, 21 Juli 2026, matahari menyinari lahan seluas 1.200 meter persegi di...