EFEK domino konflik di Timur Tengah mulai bikin pusing warga dunia, terutama di Jepang. Kenaikan harga energi yang makin ugal-ugalan nggak cuma nyerang dompet pribadi, tapi sudah mulai melumpuhkan layanan publik—mulai dari bus kota, penyeberangan feri, sampai fasilitas kesehatan yang sangat krusial.
Pemerintah Metropolitan Tokyo baru saja dibuat pening saat mencoba mencari pasokan 5,4 juta liter diesel untuk bus Toei melalui lelang terbuka pertengahan Maret lalu.
Hasilnya? Zonking.
Semua tawaran dari perusahaan melampaui budget yang diharapkan, bahkan ada yang harganya naik 50% sampai 80% dibanding Desember tahun lalu. Alhasil, biro transportasi terpaksa beralih ke pengadaan tanpa tender demi memastikan bus tetap jalan di bulan April ini.
“Situasi seperti ini dapat berlanjut (beberapa waktu). Baik pemerintah pusat maupun daerah harus cepat dalam meneliti bagaimana menanggapi situasi ini,” tegas seorang pejabat senior pemerintah Tokyo yang mulai khawatir situasi bakal memburuk.
Nggak cuma Tokyo, kota-kota seperti Kawasaki dan Kitakyushu juga mengalami nasib serupa. Lelang diesel mereka gagal total.
Enam kota besar di Jepang sampai harus kirim surat darurat ke pemerintah pusat. Minta tolong agar pasokan bahan bakar diamankan dan dompet pemerintah daerah disuntik bantuan finansial.
Sektor transportasi laut juga kena hantam. Segawa Kisen di Nagasaki terpaksa memotong jadwal ferinya karena stok diesel yang makin langka dan mahal.
Mereka bahkan harus “ngungsi” beli bahan bakar ke koperasi nelayan setempat sebelum akhirnya beralih pakai minyak berat.
Sementara itu, Suo-Nada Ferry di Prefektur Yamaguchi sudah pasang ancang-ancang bakal menaikkan tarif tiket mulai Juni nanti setelah menangguhkan layanan malam mereka.
Dampak paling ngeri justru merayap ke sektor kesehatan. Banyak alat medis, seperti mesin dialisis untuk cuci darah, menggunakan komponen berbahan dasar minyak mentah. Kelompok pendukung pasien memperingatkan kalau pasokan ini terhenti, nyawa pasien jadi taruhannya.
Di sudut lain Tokyo, sebuah klinik gigi mulai was-was karena stok sarung tangan karet makin sulit didapat dari pemasok.
“Jika situasi ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, kami mungkin harus mempertimbangkan untuk menangguhkan layanan kami,” ujar seorang dokter gigi yang stok sarung tangannya cuma cukup buat sebulan ke depan.
Menteri Kesehatan Jepang, Kenichiro Ueno, memang bilang kalau saat ini pasokan masih terpantau aman. Namun, para ahli ekonomi nggak mau kecolongan.
Hideo Kumano dari Daiichi Life Research Institute mengingatkan bahwa pemerintah nggak boleh santai dan harus segera nyiapin skenario terburuk sebelum stok darurat benar-benar ludes.
Strategi pencegahan harus matang biar layanan publik nggak sampai kolaps total.***
Sumber: The Japan News






