Double Cuan Sawit-Sapi Terintegrasi, Pemilik Kebun Dapat Pupuk Gratis, Peternak Dapat Pakan Gratis

Double Cuan Sawit-Sapi Terintegrasi, Pemilik Kebun Dapat Pupuk Gratis, Peternak Dapat Pakan Gratis
Perkebunan kelapa sawit terintegrasi || Foto: Dok. Glasial.id.
A-AA+A++

Oleh: R. Wijaya
Penulis tamu untuk Glasial.id


Provinsi Riau selama ini memang kondang dengan hamparan “emas hijau” alias perkebunan kelapa sawit, yang luasnya sejauh mata memandang. Namun, bagaimana jika di bawah rimbunnya pelepah sawit itu, ada ribuan ekor sapi gemuk siap jual? Inilah yang sedang digarap oleh Pemerintah Provinsi Riau.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau sedang menyiapkan program Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). Program ini bukan cuma soal membangun ekosistem ekonomi baru bagi peternak, tapi memberikan arah yang lebih terukur terhadap konsep peternakan dan perkebunan produktif di daerah.

Lewat program ini, sudah tujuh klaster SISKA yang terbentuk, tersebar di lima kabupaten sebagai pilot project. Klaster itu nantinya dapat dievaluasi sebelum diperluas ke wilayah lain. Dengan kata lain, program ini harus diuji dulu tingkat keberhasilannya, sebelum digulirkan.

telah membentuk tujuh klaster SISKA yang tersebar di lima kabupaten sebagai pilot project.

Mengintip Peta Kekuatannya

Di Kabupaten Rokan Hulu, yang memang dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan, terdapat dua titik utama yaitu Klaster Sangkir Jaya di Desa Sangkir Indah dan Klaster Ternak Barokah di Desa Tandun.

Kedua wilayah ini menjadi ujung tombak untuk melihat bagaimana sapi-sapi bisa tumbuh maksimal di area perkebunan rakyat yang padat.

Bergeser sedikit ke wilayah pesisir dan tengah, Kabupaten Pelalawan mengandalkan Klaster Ternak Maju Bersama di Desa Rawang Sari, sementara Kabupaten Kampar memiliki Klaster Jaya Abadi di Desa Tapung Lestari.

Tak mau ketinggalan, di Kabupaten Siak yang punya sejarah panjang soal integrasi lahan, terdapat dua klaster strategis yakni Klaster Talago Samsam di Kandis dan Klaster Mutiara Indah di Tualang. Sedangkan untuk wilayah selatan, Klaster Sinar Bakti berdiri di Desa Pontian Mekar, Kabupaten Indragiri Hulu.

Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, bilang kalau keberadaan klaster percontohan ini sangat krusial sebagai langkah awal membangun model bisnis yang lebih modern. Beliau menekankan bahwa ini bukan sekadar melepas sapi di kebun, tapi ada hitungan bisnis dan teknologi di baliknya.

Melalui pilot project ini, pemerintah daerah dapat menyempurnakan pola integrasi yang paling efektif, sehingga produktivitas dan nilai tambah bagi sektor perkebunan maupun peternakan dapat dirasakan secara nyata oleh para pelaku usaha.

“Bayangkan, pemilik kebun dapat pupuk organik gratis dari kotoran sapi, sementara peternak dapat lahan ternak dan pakan gratis,” katanya.

Program ini sebenarnya lahir dari kegelisahan melihat potensi lahan yang “mubazir”. Bayangkan saja, Riau punya jutaan hektare lahan sawit, tapi kita masih sering mendatangkan daging sapi dari luar daerah. 

Berdasarkan data Pemprov Riau, populasi ternak sapi saat ini berada di angka 206.205 ekor. Namun, angka tersebut dinilai masih kecil jika dibandingkan dengan total kapasitas lahan sawit yang diproyeksikan mampu menampung hingga 500.000 ekor sapi jika sistem SISKA dijalankan secara optimal.

Ada selisih sekitar 300 ribu ekor yang menunggu untuk diisi. Inilah yang membuat pemerintah Riau begitu bersemangat.

“Populasi eksisting saat ini masih jauh di bawah potensi daya tampung lahan sawit kita yang bisa mencapai 500.000 ekor. Ini adalah peluang emas yang harus kita tangkap untuk meningkatkan populasi ternak nasional dari Riau,” tambah Mimi.

Angka 500 ribu ekor itu bukan sekadar mimpi di siang bolong, tapi hitungan matematis berdasarkan luas lahan dan ketersediaan pakan alami di bawah tegakan sawit.

Bicara soal sapi, tentu kita bicara soal kualitas. Jangan bayangkan sapi-sapi ini kurus kering karena dilepas liar. Justru sebaliknya! Dari sisi kualitas genetik, ternak sapi di Riau diklaim memiliki mutu yang baik berkat dukungan 195 petugas Inseminasi Buatan (IB) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Selain itu, pola pemeliharaan di perkebunan yang umumnya menggembalakan betina dan melakukan pergantian pejantan secara berkala terbukti efektif dalam mencegah inbreeding atau kawin sedarah, sehingga kualitas keturunan tetap terjaga.

Keunggulan lain yang membuat para peternak di luar Riau bakal iri adalah soal pakan. Biaya terbesar dalam beternak sapi biasanya habis di urusan perut alias pakan. Namun di Riau, masalah itu selesai berkat limbah kelapa sawit yang melimpah ruah.

Keunggulan lain yang memperkuat optimisme ini adalah melimpahnya ketersediaan pakan alternatif yang berasal dari limbah kelapa sawit. Pemanfaatan bahan seperti solid (lumpur sawit), bungkil, hingga pelepah sawit dinilai sangat layak dan ekonomis sebagai pakan ternak.

Limbah yang biasanya bikin pusing perusahaan sawit karena menumpuk, kini justru jadi rebutan peternak karena kandungan nutrisinya yang oke punya. Sinergi ini tidak hanya menekan biaya operasional peternak hingga titik terendah, tetapi juga membantu perusahaan perkebunan dalam mengelola limbah organik secara produktif. Lingkungan jadi bersih, sapi jadi gemuk, dan peternak jadi kaya. Benar-benar solusi cerdas!

Namun, tentu saja tidak ada jalan yang selalu mulus. Meski memiliki prospek cerah, Mimi tidak menampik adanya tantangan besar dalam koordinasi lintas sektor. Mengubah pola pikir dari “kebun hanya untuk sawit” menjadi “kebun untuk sawit dan sapi” ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. 

Hingga saat ini, keterlibatan perusahaan perkebunan kelapa sawit besar dalam skema integrasi formal masih tergolong minim. Banyak perusahaan yang masih khawatir keberadaan sapi akan merusak struktur tanah atau mengganggu proses panen.

Selain itu, tantangan juga datang dari sisi sosial. Menyatukan pekebun kecil untuk mengelola lahan secara kolektif dalam satu manajemen klaster membutuhkan upaya pendampingan yang intensif dan berkelanjutan.

Memang butuh kesabaran ekstra untuk meyakinkan masyarakat bahwa dengan berkelompok dalam klaster, daya tawar mereka akan jauh lebih kuat dan akses bantuan akan lebih mudah masuk.

Sebagai langkah antisipasi agar program ini tidak “layu sebelum berkembang”, Dinas PKH Riau tidak hanya bekerja sendiri, tapi merangkul para ahli dengan menggaet berbagai perguruan tinggi, lembaga riset seperti BRIN, hingga Wageningen University melalui forum ilmiah internasional. Bahkan, universitas bergengsi dari Belanda pun ikut memberikan masukan untuk pengembangan sapi di Riau.***