Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair

Sekitar 2,3 miliar tahun lalu, Bumi diduga pernah membeku hampir seluruhnya.

Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair
Foto: Ilustrasi / Niserin

Coba sama-sama kita bayangkan, di suatu pagi, kita berdiri di tepi sebuah glasial atau gletser raksasa. Di depan terbentang hamparan es berwarna putih kebiruan yang tampak tak berujung. Sekilas, glasial itu terlihat seperti bongkahan es yang diam dan tak bernyawa.

Namun, kita tidak pernah menyangka bahwa glasial sebenarnya adalah salah satu saksi bisu terbesar perjalanan Bumi selama jutaan tahun. Di dalam setiap lapisan esnya tersimpan kisah tentang perubahan iklim, letusan gunung api, hingga naik turunnya permukaan laut yang membentuk dunia seperti yang kita kenal sekarang.

Glasial merupakan istilah yang merujuk pada kondisi atau periode ketika suhu Bumi menurun dalam waktu yang sangat lama sehingga lapisan es di kawasan kutub dan pegunungan berkembang semakin luas. Periode ini dikenal sebagai zaman glasial, yaitu fase ketika iklim Bumi jauh lebih dingin dibandingkan saat ini.

Semuanya berawal dari salju. Setiap musim dingin, salju turun sedikit demi sedikit dan menumpuk di atas lapisan salju sebelumnya. Selama ribuan tahun, tekanan dari tumpukan salju yang terus bertambah membuat butiran salju berubah menjadi es yang sangat padat.

Prosesnya begitu lambat hingga membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk membentuk sebuah glasial yang sangat besar. Meski tampak kokoh dan diam, lapisan es tersebut sebenarnya terus bergerak perlahan karena pengaruh gravitasi, layaknya sungai yang mengalir dalam kecepatan yang hampir tak terlihat.

Saat ini, sebagian besar glasial berada di Antartika, Greenland, dan pegunungan tinggi di berbagai belahan dunia. Wilayah-wilayah itu merupakan bagian dari kriosfer, yaitu kawasan Bumi yang suhunya selalu berada di bawah titik beku sehingga salju dan es dapat bertahan sepanjang tahun. Namun, luasnya lapisan es di Bumi tidak pernah benar-benar tetap. Glasial terus bertambah atau menyusut mengikuti perubahan iklim planet kita.

Banyak orang mengira zaman es adalah masa ketika seluruh Bumi membeku. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Para ilmuwan menyatakan bahwa hingga hari ini kita masih hidup dalam sebuah zaman es yang dimulai sekitar 2,5 juta tahun lalu. Bedanya, sekarang kita sedang berada pada fase yang lebih hangat, yang disebut periode interglasial. Sebelumnya, Bumi telah berkali-kali mengalami fase glasial yang jauh lebih dingin, ketika lapisan es meluas dan menutupi sebagian besar Amerika Utara, Eropa, hingga Asia.

Bayangkan jika seluruh es di Antartika dan Greenland mencair. Air yang selama ini terkunci dalam lapisan glasial akan mengalir ke lautan dan menyebabkan permukaan laut naik lebih dari 60 meter. Kota-kota pesisir di berbagai negara bisa tenggelam, garis pantai berubah total, dan jutaan manusia terpaksa mencari tempat tinggal baru. Itulah sebabnya para ilmuwan begitu serius memantau kondisi glasial di seluruh dunia.

Namun, pengaruh glasial ternyata tidak berhenti di situ. Lapisan es yang sangat tebal memiliki berat luar biasa sehingga mampu menekan kerak Bumi ke bawah. Ketika zaman es berakhir dan glasial mencair, tekanan itu perlahan menghilang. Kerak Bumi kemudian mulai terangkat kembali dalam proses yang dikenal sebagai isostatic rebound. Bahkan hingga sekarang, beberapa wilayah seperti Kanada dan Skandinavia masih terus mengalami pengangkatan daratan akibat peristiwa yang dimulai ribuan tahun lalu.

Lalu, mengapa Bumi bisa mengalami pergantian antara masa dingin dan masa hangat? Jawabannya ternyata tidak hanya berasal dari atmosfer, tetapi juga dari perjalanan Bumi mengelilingi Matahari.

Seorang ilmuwan asal Serbia bernama Milutin Milanković mengemukakan bahwa perubahan kecil pada orbit dan kemiringan sumbu Bumi mampu mengubah jumlah sinar Matahari yang diterima planet ini. Bentuk orbit Bumi perlahan berubah dari hampir bulat menjadi sedikit lonjong dalam siklus sekitar 100 ribu tahun. 

Kemiringan sumbunya juga berubah selama sekitar 41 ribu tahun, sementara arah sumbu rotasinya berputar perlahan seperti gasing dalam siklus sekitar 26 ribu tahun. Ketiga perubahan ini, yang dikenal sebagai Siklus Milankovitch, memengaruhi distribusi panas Matahari dan menjadi salah satu penyebab bergantinya periode glasial dan interglasial selama jutaan tahun.

Meski demikian, sejarah Bumi menunjukkan bahwa ada pula zaman-zaman glasial yang jauh lebih ekstrem. Sekitar 2,3 miliar tahun lalu, Bumi diduga pernah membeku hampir seluruhnya.

Para ilmuwan menyebut gagasan ini sebagai teori “Snowball Earth”, atau Bumi Bola Salju. Bayangkan sebuah planet yang hampir seluruh permukaannya tertutup es, dari kutub hingga wilayah dekat khatulistiwa. Dunia yang kita kenal sekarang tentu akan terlihat sangat berbeda.

Ratusan juta tahun kemudian, Bumi kembali mengalami beberapa zaman glasial besar, seperti Sturtian, Marinoan, Andean-Saharan, dan Karoo. Menariknya, penyebabnya tidak selalu sama.

Ada yang dipicu oleh pergeseran lempeng tektonik, ada yang berkaitan dengan aktivitas gunung api, dan ada pula yang diduga dipengaruhi oleh berkembangnya tumbuhan darat yang menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar sehingga suhu Bumi menurun.

Lalu, bagaimana para ilmuwan bisa mengetahui semua peristiwa yang terjadi jutaan tahun lalu? Jawabannya tersembunyi di dalam lapisan glasial itu sendiri.

Mereka mengebor glasial hingga kedalaman ribuan meter untuk mengambil inti es, atau ice core. Setiap lapisan es menyimpan catatan tentang kondisi atmosfer saat salju pertama kali jatuh. 

Gelembung udara kecil yang terperangkap di dalamnya menjadi kapsul waktu yang masih menyimpan karbon dioksida, metana, bahkan jejak debu dan abu vulkanik dari masa lampau.

Dari kandungan isotop oksigen di dalam es, para ilmuwan bahkan mampu memperkirakan suhu Bumi pada saat lapisan tersebut terbentuk ratusan ribu tahun yang lalu.

Penelitian terhadap inti glasial menunjukkan pola yang sangat jelas. Ketika kadar karbon dioksida dan metana meningkat, suhu Bumi ikut menghangat.

Sebaliknya, ketika kadar gas-gas tersebut menurun, iklim menjadi lebih dingin dan glasial berkembang. Hubungan inilah yang membantu para ilmuwan memahami bagaimana perubahan komposisi atmosfer dapat memengaruhi iklim global.

Kini, dunia menghadapi tantangan baru. Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer melalui pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan berbagai aktivitas industri. Dampaknya mulai terlihat dari mencairnya glasial di berbagai belahan dunia, naiknya permukaan laut, hingga semakin seringnya cuaca ekstrem.

Karena itulah, mempelajari glasial bukan sekadar mempelajari bongkahan es. Setiap lapisan es adalah halaman dari buku sejarah Bumi yang belum selesai dibaca. Semakin dalam para ilmuwan menggali, semakin banyak pula rahasia tentang masa lalu yang terungkap.

Dan dari kisah jutaan tahun itu, kita memperoleh satu pelajaran penting: iklim Bumi memang selalu berubah, tetapi tindakan manusia hari ini akan sangat menentukan seperti apa wajah planet ini bagi generasi yang akan datang.

Penulis: Natasya

Referensi

  • EBSCO: Ice Ages and Glaciations
  • Dawson, Alastair G. Ice Age Earth: Late Quaternary Geology and Climate. New York: Routledge, 1992.
  • Grotzinger, John P., and Thomas H. Jordan. Understanding Earth. 7th ed., New York: Freeman, 2014.
  • Hambrey, Michael J., and Jürg Alean. Glaciers. 2nd ed., New York: Cambridge UP, 2004.
  • Hickey, Hannah. “Ice Age Climate Analysis Reduces Worst-Case Warming Expected from Rising CO2.” University of Washington, 17 April 2024, www.washington.edu/news/2024/04/17/ice-age-climate-analysis-reduces-worst-case-warming-expected-from-rising-co2. Accessed 18 Dec. 2025.
  • Levy, Adam. “The History of Climate Change Offers Clues to Earth’s Future.” Knowable Magazine, 15 Mar. 2022, knowablemagazine.org/content/article/food-environment/2022/history-climate-change-offers-clues-earths-future. Accessed 18 Dec. 2025.
  • Monroe, James S., Reed Wicander, and Richard Hazlett. Physical Geology: Exploring the Earth. 6th ed., Belmont: Thomson, 2007.
  • Ralls, Eric. “Ice Age Data Analysis Offers Good News for Earth’s Current Climate Woes.” Earth.com, 20 Apr. 2024, www.earth.com/news/ice-age-data-analysis-reshapes-climate-future-lowers-warming-estimates. Accessed 18 Dec. 2025.
  • Rapp, Donald. Ice Ages and Interglacials: Measurements, Interpretations, and Models. New York: Springer, 2009.
  • Shakun, Jeremy. “Explainer: How the Rise and Fall of CO2 Levels Influenced the Ice Ages.” Carbon Brief, 2 July 2020, www.carbonbrief.org/explainer-how-the-rise-and-fall-of-co2-levels-influenced-the-ice-ages. Accessed 18 Dec. 2025.
  • Stanley, Steven M., and John A. Luczaj. Earth System History. New York: Freeman, 2015.
  • Stanley, Steven M., and John A. Luczaj. Earth System History. New York: Freeman, 2015.

ARTIKEL TERKAIT

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?
Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu
ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?
Gadget dan Lingkungan, Seberapa Ramah Ponsel yang Kita Pakai?

Read Also

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkapkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali...

Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu

Di antara rimbun pepohonan Desa Bongkasa Pertiwi, enam pasang Jalak Bali mengepakkan sayap...

ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Deforestasi (kerusakan hutan) di Indonesia mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025, atau melonjak 66%...