Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu

Ini adalah bentuk tanggung jawab untuk mengembalikan apa yang pernah mereka ambil dari alam.

Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu
Burung Jalak Bali | Foto: Universitas Airlangga

Di antara rimbun pepohonan Desa Bongkasa Pertiwi, enam pasang Jalak Bali mengepakkan sayap sebagai simbol transformasi yang nyaris tak masuk akal. Para lelaki yang dulu menggenggam senapan dan jerat kini justru menjadi benteng terakhir pelestarian satwa endemik paling terancam di Pulau Dewata.

Kelompok Kehati Pertiwi Lestari membuktikan bahwa perubahan dari pemburu menjadi konservasionis bukanlah utopia. Keberhasilan mereka mengembangbiakkan lebih dari 60 ekor Jalak Bali dari enam pasang indukan, melepasliarkan 10 pasang ke alam liar, hingga menarik perhatian delegasi KTT G20 menjadi bukti bahwa konservasi berbasis masyarakat adalah strategi paling efektif menyelamatkan spesies dari kepunahan.

I Made Sulendra, salah satu anggota kelompok, mengenang masa lalunya sebagai pemburu dengan nada reflektif. Aktivitas menangkap burung dan mengambil tanaman dari alam pernah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar di desanya.

Namun semuanya berubah ketika program edukasi lingkungan mulai menyentuh desa mereka pada tahun 2019. Awalnya, ajakan untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian justru menuai penolakan keras dari para pemburu.

“Awalnya memang berat. Kami semua dulunya hunter, sehingga ketika diajak ikut kegiatan pelestarian lingkungan, banyak yang menolak karena bertentangan dengan kebiasaan kami,” ujar Sulendra, Selasa, 21 Juli 2026.

Penanaman kesadaran yang dilakukan secara berulang-ulang akhirnya membuka mata mereka. Perlahan, mereka memahami bahwa aktivitas berburu tidak hanya mengurangi populasi satwa tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Dari kesadaran itulah para mantan pemburu sepakat membentuk kelompok konservasi yang fokus pada Jalak Bali. Dukungan program CSR mengalir dalam bentuk enam pasang indukan Jalak Bali sebagai modal awal penangkaran.

Jalak Bali dikenal sebagai burung yang sangat sensitif dan memerlukan penanganan khusus. Ketekunan dan kesabaran para anggota kelompok akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2020 ketika anakan pertama berhasil menetas.

“Keberhasilan itu menjadi kebanggaan bagi kami. Dulu kami mengambil burung dari alam, sekarang kami justru berhasil mengembangbiakkannya,” ujar Sulendra.

Enam pasang indukan yang diterima kini telah berkembang menjadi lebih dari 60 ekor Jalak Bali. Sebagian di antaranya dilepasliarkan secara bertahap ke kawasan Desa Bongkasa Pertiwi melalui program habituasi dan konservasi.

Pelepasliaran dilakukan bertahap agar burung mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hingga kini, sekitar 10 pasang Jalak Bali telah kembali menghuni alam liar di sekitar desa.

Tidak hanya mengembangbiakkan, kelompok ini juga aktif menjaga habitat alami burung. Mereka mengajak masyarakat menghentikan perburuan liar, mengurangi sampah plastik, serta menanam pohon buah dan tanaman pakan alami Jalak Bali.

Edukasi berkelanjutan dilakukan melalui pertemuan banjar, pemasangan papan larangan berburu, hingga kampanye media sosial. Jika menemukan warga yang masih berburu, mereka memilih pendekatan persuasif sebelum melaporkan kepada aparat desa.

Komitmen kelompok ini bahkan mendapat perhatian internasional. Saat penyelenggaraan KTT G20 di Bali, utusan dari berbagai negara berkunjung ke Bongkasa Pertiwi untuk melihat langsung upaya konservasi Jalak Bali berbasis masyarakat.

Kini kawasan penangkaran juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi. Wisatawan dapat mempelajari proses penangkaran, pelepasliaran, hingga mengikuti program adopsi Jalak Bali yang kemudian dilepas kembali ke habitat alaminya.

Bagi Sulendra dan rekan-rekannya, perubahan dari pemburu menjadi pelestari bukan sekadar mengganti aktivitas. Ini adalah bentuk tanggung jawab untuk mengembalikan apa yang pernah mereka ambil dari alam.

Harapan mereka sederhana, melihat Jalak Bali kembali hidup bebas di seluruh wilayah Bongkasa Pertiwi. Jika masyarakat bersama-sama menjaga alam, bukan hanya satwa yang lestari, tetapi desa juga memiliki potensi wisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Sumber: baliprawara.com.

ARTIKEL TERKAIT

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?
Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair
ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?
Gadget dan Lingkungan, Seberapa Ramah Ponsel yang Kita Pakai?

Read Also

Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair

Coba sama-sama kita bayangkan, di suatu pagi, kita berdiri di tepi sebuah glasial...

ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Deforestasi (kerusakan hutan) di Indonesia mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025, atau melonjak 66%...

Pesawat Udara SR-71 Blackbird Uji Aerospike NASA Kembali Bangkit

Di atas Gurun Mojave, pesawat udara mata-mata SR-71 Blackbird berubah jadi laboratorium terbang...