Kok Bisa Kelapa Kopyor di Bantul Panen Nggak Kenal Musim?

Kok Bisa Kelapa Kopyor di Bantul Panen Nggak Kenal Musim?
Kelapa kopyor jenis kelapa dengan daging buah hancur, tapi nilai ekonominya tinggi || Foto: Tangkapan layar Youtube Capcapung.
A-AA+A++

Buat kamu yang mengira jadi petani itu cuma soal nunggu harapan semu, coba deh main ke Jalan Parangtritis KM 13, tepatnya di Patalan, Bantul.

Di sini ada “Kampus Tani Desa Nomik” milik Arif—sebuah kebun riset yang menyulap kelapa kopyor jadi “mesin uang organik” yang nggak ada matinya.

Kelapa kopyor kultur embrio di sini punya nilai ekonomi tinggi dan kerennya lagi, mereka bisa panen tiap bulan tanpa peduli musim.

Arif memulai kebun riset ini buat kasih liat ke masyarakat desa kalau potensi lokal itu bisa diukur pakai angka yang nyata.

Salah satu primadonanya adalah Kelapa Kopyor Kultur Embrio yang bibitnya divalidasi langsung oleh Prof. Nandar.

Beda sama kelapa biasa, kopyor punya tekstur daging yang hancur di dalam dengan rasa unik yang super segar.

Selain sehat buat badan, satu pohon kelapa kopyor ini sudah mulai belajar berbuah di usia 18 sampai 20 bulan saja.

“Satu janjang ini kita hitung kurang lebih ada 25 tapi proporsi ideal itu 15 butir lah kalau ini 25 dikalikan Rp45.000 monggolah silakan dikalikan ada berapa duit yang ada satu janjang,” kata Arif sambil menunjukkan buah kelapanya yang lebat.

Arif pemilik Kampus Tani Desa Nomik || Foto: Tangkapan layar Youtube Capcapung.

Bayangkan saja, kalau satu janjang dihargai segitu dan pohonnya panen terus setiap bulan—setelah masuk tahun ketiga—tentu ini jadi bisnis yang sangat menjanjikan buat anak muda maupun warga desa.

Rahasia sukses kebun ini ternyata ada pada perpaduan teknologi dan hati. 

Arif memakai sistem precision farming dengan instalasi sprinkle di tiap titik pohon untuk injeksi nutrisi dan pengairan secara otomatis.

Tapi bagi dia, teknologi saja nggak cukup. Petani harus punya ikatan batin sama tanamannya.

Menurutnya, kita perlu mengamati dan “mengajak ngomong” tanaman supaya tahu kapan mereka butuh nutrisi ekstra atau saat lagi diserang hama kwawung (kumbang sagu) yang mematikan.

Nggak cuma soal cuan pribadi, Arif juga mendedikasikan kebun ini sebagai tempat belajar atau sedekah ilmu.

Saat ini, banyak banget end user hingga toko modern yang antre minta produknya, tapi barang selalu ludes.

Saking suksesnya sistem yang dia bangun, Arif sering diminta jadi konsultan di berbagai daerah mulai dari Gunungkidul, IKN, sampai Batam untuk membantu warga setempat membangun identitas produk pertanian mereka sendiri sebagai penyangga wisata.

Buat teman-teman yang pengen belajar SOP pertanian yang benar atau sekadar pengen tahu gimana rasanya kelapa kopyor premium, Kampus Tani Desa Nomik terbuka lebar untuk siapa saja.***

Sumber
— Youtube Capcapung —