Di atas Gurun Mojave, pesawat udara mata-mata SR-71 Blackbird berubah jadi laboratorium terbang yang menggendong mesin roket aerospike sepanjang 12 meter. Misi berbahaya itu gagal, namun teknologinya bangkit lewat prototipe pesawat udara Jerman yang sukses menyalakan mesin aerospike di langit Baltik.
Eksperimen berisiko tinggi bernama LASRE itu tak pernah menyalakan mesin di udara dan akhirnya dihentikan, namun cetak biru mesin aerospike kini dihidupkan kembali oleh perusahaan rintisan Jerman.
Dikutip dari Vietnam.vn, prototipe pesawat udara ringan MIRA II berhasil melakukan penyalaan mesin aerospike linier pertama dalam sejarah penerbangan pada Oktober 2024, membuka jalan bagi wahana antariksa yang lebih efisien.
Pada 31 Oktober 1997, pesawat udara SR-71 Blackbird lepas landas dari Pangkalan Udara Edwards dengan konfigurasi aneh: kapsul uji sepanjang 12 meter dan berbobot 6,5 ton menempel di punggungnya, membuatnya tampak mengangkut bus kecil.
Alih-alih melesat di atas Mach 3 seperti misi intai, pesawat udara legendaris itu hanya terbang sekitar Mach 1,2 karena menggendong beban eksperimental dan model pesawat ruang angkasa X-33.
NASA menjuluki proyek ini LASRE (Linear Aerospike SR-71 Experiment) untuk mempelajari interaksi gas buang panas dengan badan pesawat dalam kondisi terbang nyata. Dalam tujuh penerbangan uji, sistem mencapai kecepatan hampir Mach 1,8 sementara sensor merekam data aerodinamis yang tak bisa disimulasikan di darat.
Jantung eksperimen ini adalah mesin aerospike, yang tidak menggunakan nosel berbentuk lonceng seperti roket konvensional. Desainnya mengarahkan gas buang di sepanjang “tulang punggung” pusat dan memanfaatkan tekanan udara luar untuk membentuk nosel virtual, menjanjikan efisiensi tinggi dari permukaan laut hingga ruang hampa, mengatasi keterbatasan roket tradisional yang hanya optimal pada ketinggian tertentu.
Dr. Arthur Kellerman, mantan insinyur propulsi di Marshall Space Flight Center yang terlibat langsung dalam LASRE, menggambarkan misi itu sebagai terowongan angin terbang paling berbahaya.
“Kami benar-benar membawa bom terbang; hidrogen cair dan oksigen cair di kapsul bisa meledak hanya dengan satu percikan,” kenangnya.
NASA membekali SR-71 dengan sensor kebocoran oksigen dan hidrogen, sistem pemompaan gas inert, sensor suhu, serta penyemprot air darurat, tetapi kebocoran oksigen cair yang berulang memaksa mereka membatalkan rencana penyalaan mesin di udara. Program LASRE resmi berakhir pada November 1998 tanpa satu pun mesin aerospike menyala dalam penerbangan.
Tak lama kemudian, proyek induk X-33 juga kolaps: tangki hidrogen cair kompositnya gagal uji pada 1999, dan NASA menghentikan pendanaan $1,3 miliar pada Maret 2001.
Prototipe yang baru 85% jadi itu menyisakan 22 mesin aerospike yang sukses diuji di darat, tetapi terlambat menyelamatkan ambisi pesawat ruang angkasa yang sepenuhnya dapat digunakan kembali.
“Kegagalan NASA mengajarkan kami bahwa material komposit canggih dan sistem kendali adaptif adalah kuncinya,” kata Dr. Ingrid Fischer, kepala teknik Polaris Spaceplanes, perusahaan rintisan Jerman yang menghidupkan kembali aerospike.
Pada 29 Oktober 2024, prototipe MIRA II sepanjang 5 meter lepas landas dari Peenemünde, situs bersejarah kelahiran roket V-2, dan menyalakan mesin aerospike linier selama tiga detik di atas Laut Baltik—menjadi penyalaan pertama di udara dalam sejarah.
Ironisnya, kamera di dalam pesawat justru merekam kebocoran oksigen cair serupa yang dulu menggagalkan LASRE, tetapi sistem modern bekerja sempurna.
Polaris telah melakukan ratusan uji terbang dengan berbagai prototipe, dan pada awal 2025 militer Jerman meneken kontrak pengembangan kendaraan riset hipersonik berbasis aerospike.
Meski begitu, penyalaan singkat pada prototipe seberat 240 kg itu masih jauh dari target mesin besar seperti X-33, dan tantangan berat, pendinginan, serta produksi massal tetap membayangi.
- Penulis: Natasya






