Suasana yang teduh, di bawah kanopi lebat hutan Taman Nasional Betung Kerihun, lima individu orangutan mengakhiri masa rehabilitasi yang panjang. Mereka melangkah ke alam liar, rumah mereka sendiri, pada 30 Juni 2026.
Kelima orangutan itu adalah satu jantan dewasa bernama Benazir serta dua induk betina, Jamilah dan Sinta, bersama bayi mereka Ulin dan Sabine, kini mengayun bebas di Sub-DAS Mendalam yang kaya pakan alami.
Kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon dan benteng keanekaragaman hayati ini menyambut kepulangan mereka rumah yang sesungguhnya bagi primata endemik Kalimantan yang masih berstatus terancam punah itu.
Pelepasliaran tahap ke-18 ini merupakan bukti nyata bahwa sinergi konservasi multipihak mampu mengembalikan satwa langka ke habitatnya dengan dukungan ilmiah, pemantauan ketat, dan penguatan fungsi ekologis hutan. Seluruh proses menegaskan bahwa perlindungan spesies tidak bisa dipisahkan dari kelestarian bentang alam yang menopang hidup mereka.
Kelima orangutan itu telah melalui proses rehabilitasi intensif di Sekolah Hutan Jerora serta karantina medis selama satu bulan penuh. Perjalanan darat dan air sejauh 10 hingga 12 jam dari Sintang menuju Putussibau mereka tempuh dengan persiapan matang guna meminimalkan stres.
Setibanya di stasiun pelepasliaran, mereka diistirahatkan di kandang habituasi untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis sebelum benar-benar dilepas.
Sub-DAS Mendalam dipilih berdasarkan kajian ekologi komprehensif yang menunjukkan 52 persen vegetasi di kawasan itu merupakan pakan alami orangutan. Kondisi ini menjamin ketersediaan makanan yang cukup sekaligus memperkuat agenda FOLU Net Sink 2030 melalui penguatan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan penyangga ekosistem.
Pasca-pelepasliaran, tim monitoring beranggotakan 8 hingga 12 personel langsung diterjunkan untuk memantau adaptasi kelima orangutan.
Metode nest-to-nest akan mereka gunakan selama tiga bulan, mengikuti setiap individu dari bangun pagi hingga kembali membuat sarang di sore hari, memastikan mereka mampu hidup mandiri tanpa campur tangan manusia.
Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Titik Wurdiningsih, melihat keberhasilan ini sebagai langkah awal membangun pusat pengetahuan orangutan di kawasan konservasi.
“Camp Mentibat diharapkan ke depan dapat dikembangkan sebagai pusat riset dan pusat edukasi khususnya terkait orangutan,” ujarnya.
Dengan pelepasliaran ini, populasi orangutan di TN Betung Kerihun terus bertambah sejak kerja sama dimulai pada 2017. Hingga Desember 2025, sebanyak 39 individu telah dikembalikan ke alam, terdiri dari 37 hasil rehabilitasi dan 2 translokasi dari subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus serta Pongo pygmaeus wurmbii.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan bahwa kembalinya satwa ini bukan sekadar akhir dari masa rehabilitasi.
“Ini adalah sebuah awal baru bagi penguatan populasi orangutan kalimantan di alam liar,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara BKSDA, Balai Besar TNBKDS, dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang harus terus diperkuat. Selain pelepasliaran, perlindungan habitat dan edukasi publik menjadi kunci menekan ancaman terhadap satwa liar dilindungi.
Kolaborasi multipihak ini membuktikan bahwa konservasi tidak berhenti pada seremoni pelepasan satwa.
Pengamanan kawasan dan keterlibatan masyarakat sekitar akan menentukan apakah generasi mendatang masih bisa menyaksikan orangutan bergelantungan di alam liar Kalimantan Barat.
- Penulis: Fadly Ibrahim
- Kategori: Lingkungan
- Sumber: Kementerian Kehutanan RI






