Uni Eropa Tertarik Terlibat dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia

Indonesia merupakan rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya di bumi.

Uni Eropa Tertarik Terlibat dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia
Hutan mangrove di pesisir laut | Foto: TiSanti.

Program konservasi keanekaragaman hayati laut hasil kerja sama Uni Eropa dan Indonesia kini mengelola 21 kawasan perairan seluas lebih dari 1,63 juta hektare di empat provinsi. Di Minahasa Utara, pendapatan nelayan melonjak dari Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim berkat pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menegaskan bahwa Indonesia merupakan rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya di bumi. Melalui strategi Global Gateway, Uni Eropa mendukung pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Denis.

Sejak 2019, program yang didanai Uni Eropa dan Kementerian Lingkungan Hidup Jerman ini memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaannya melibatkan Kementerian Kehutanan melalui Ditjen KSDAE dan Wildlife Conservation Society Indonesia.

Di Desa Gangga Dua, penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati nelayan meningkatkan pendapatan secara signifikan. Program serupa juga mendorong usaha berbasis konservasi dan pengembangan ekowisata di sejumlah desa pesisir.

“Lewat strategi Global Gateway, Uni Eropa turut mendukung upaya pemulihan terumbu karang dan penguatan sektor perikanan. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan ekonomi biru Indonesia,” kata Denis.

Kawasan yang dilindungi mencakup 16.613 hektare terumbu karang, 14.318 hektare mangrove, dan 10.582 hektare padang lamun. Seluruhnya menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut di Segitiga Terumbu Karang.

“Kami berharap kunjungan lapangan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperlihatkan praktik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Sulawesi Utara,” ujar Nandang.

Program ini telah menjangkau 5.752 penerima manfaat langsung dan sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung. Peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan menjadi fokus utama pendampingan.

“Kami berkomitmen memastikan keanekaragaman hayati laut tetap menjadi pusat agenda ekonomi biru Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan publik, filantropi, dan sektor swasta akan terus diperluas,” ujarnya.

Penulis: Natasya

ARTIKEL TERKAIT

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?
Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair
Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu
ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Read Also

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkapkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali...

Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair

Coba sama-sama kita bayangkan, di suatu pagi, kita berdiri di tepi sebuah glasial...

ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Deforestasi (kerusakan hutan) di Indonesia mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025, atau melonjak 66%...