Jaga Warisan Lewat Tangan Generasi Muda — Rumah Batik Tekat Tiga Dara

Jaga Warisan Lewat Tangan Generasi Muda — Rumah Batik Tekat Tiga Dara
Tiara, seorang pembatik muda di Rumah batik Candafa Tekat Tiga Dara ||| Foto: R Wijaya.

Rumah batik Tekat Tiga Dara berhasil membuktikan bahwa kerajinan tradisional tetap hidup di tangan generasi muda dengan semangat budaya. Bagaimana kisahnya?

Oleh: R. Wijaya | Penulis tamu untuk Glasial.id

Tiara—seorang remaja putri kidal itu—tengah fokus pada selembar kain biru yang membentang luas di hadapannya. Tangan kirinya memegang benda seperti lidi, lalu di oret ke kain itu mengikuti pola sketsa yang sudah terbentuk. Sedang tangan kanannya memegang sebuah wadah berisi pewarna.

Sebagian pola bermotif pucuk rebung sudah terbentuk di kain itu. Kombinasi dasar biru dengan pola hitam berhias relung kuning emas, mempertegas kesan mewah dan elegan pada hasil karyanya. Ya, ia sedang membatik, dan memperlihatkan hasil karya setengah jadi itu kepada saya.

“Seru aja, mencolek warna-warna di atas kain,” ujarnya.

Tiara tidak sendiri. Ia membatik bersama teman-teman remaja wanita lain di Rumah batik Candafa Tekat Tiga Dara, yang berlokasi di Jalan Dahlia Gang Jati Nomor 5, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, pada Jumat 24 April 2026 lalu.

Bagi saya, aktivitas mereka sangat berkesan. Pemandangan seperti ini jarang terlihat di tengah masifnya sosial media di kalangan remaja masa kini.


Rumah batik Tekat Tiga Dara bukan sekadar usaha kerajinan biasa — di sinilah tradisi wastra Riau dijaga dengan tangan, bukan mesin, dan diwariskan kepada generasi muda.

Seperti Tiara, remaja 19 tahun itu awalnya hanya magang dari sekolah. Kemudian ia justru menemukan jalan hidupnya di antara lembaran kain dan canting.

“Awalnya magang dari sekolah, setelah itu direkrut sama Ibu Tengku Syarifah untuk bekerja di sini,” katanya.

Ketelatenannya menarik perhatian Owner Batik Candafa Tekat Tiga Dara, Tengku Syarifah Nurila Zahara, hingga ia diminta menetap sebagai pekerja tetap.

Meski terbilang baru terjun ke dunia batik, hasil goresan warna Tiara tidak kalah dari pengrajin senior. Setiap motif yang ia sentuh menyimpan ketelitian, semangat muda, dan cerita tentang anak sekolah yang perlahan menemukan jalannya sendiri.

Upah dari membatik pun nyata membantu kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya. “Lumayanlah buat bantu kebutuhan sehari-hari,” ucapnya lirih.

Kisah Tiara hanyalah satu dari sekian cerita yang tumbuh di dalam Rumah batik Tekat Tiga Dara.

Sentra kerajinan khas Riau ini membuktikan bahwa kerajinan tradisional masih mampu memikat hati generasi muda sekaligus membuka pintu rezeki sejak bangku sekolah.

Usaha ini bermula pada 2006 dari hobi sederhana Tengku Syarifah dan ruang kecil di samping rumahnya.

Kala itu, ia hanya membuat sulaman tekat dan kerajinan berbahan akrilik bersama segelintir orang di lingkungan sekitar, tanpa modal besar dan tanpa fasilitas mewah.

“Saya memang suka kerajinan tangan. Awalnya kecil-kecilan saja di sebelah rumah,” kenang Syarifah. Yang mendorongnya bukan keuntungan semata, melainkan keinginan kuat menjaga budaya Riau tetap hidup lewat karya tangan.

Dua dekade berlalu, usaha itu berkembang menjadi sentra produksi batik, tenun, hingga aneka suvenir dan cenderamata khas Riau.

Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah cara pengerjaannya — semuanya handmade, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga batik abstrak.

“Tidak ada printing di sini. Semua dikerjakan tangan,” tegas Syarifah.

Baginya, mempertahankan proses tradisional adalah bentuk tanggung jawab budaya, bukan sekadar pilihan produksi.

Ia ingin generasi muda mengenal wastra Riau bukan hanya sebagai pakaian adat, tetapi sebagai identitas yang terus hidup mengikuti zaman.

Semangat itulah yang mengantarkan usahanya meraih penghargaan inovasi, bukan karena produknya saja, melainkan karena dampaknya bagi masyarakat sekitar.

Dari awal merintis, Syarifah memang melibatkan warga untuk ikut bekerja dan belajar membatik dari nol.

Kini ada 10 pekerja tetap yang aktif berproduksi, dan saat pesanan besar datang dari instansi pemerintah atau perusahaan, jumlah tenaga kerja bisa melonjak hingga 20 orang dengan melibatkan pelajar dan masyarakat sekitar.

Sistem kerja berbasis hasil yang diterapkan membuat para pengrajin semakin bersemangat karena pendapatan dan bonus menyesuaikan jumlah produksi.

“Kalau orderan banyak, mereka juga dapat bonus,” sebut Syarifah.

Produk yang dihasilkan pun kini semakin beragam, mulai dari kain batik dan tenun, pelakat, tanjak Melayu, hingga suvenir pernikahan yang mulai dikenal luas.

Di balik perkembangan itu, Syarifah mengaku pernah melewati masa sulit ketika kebutuhan bahan produksi meningkat sementara modal sangat terbatas.

Titik balik datang saat ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) Regional Office Pekanbaru.

Pada 2022, ia memperoleh pinjaman sebesar Rp25 juta untuk membeli bahan kain dan kebutuhan produksi.

“Kami terbantu sekali berkat KUR BRI. Pinjamannya juga tidak dipersulit,” ujarnya. Suntikan modal itulah yang mendorong usahanya tumbuh lebih stabil dan produktif.

Hari ini, Rumah batik Tekat Tiga Dara masih kokoh berdiri, menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional Riau bisa terus bernapas di tengah gempuran produk massal — selama ada tangan yang mau merawatnya dan hati yang mau mewariskannya.


ARTIKEL TERKAIT

Pria Asal Berlin Ubah Kemacetan Jakarta Jadi Board Game yang Seru
Tradisi Potong Jari Suku Dani Papua, Ritual Ekstrem yang Menyimpan Makna Kasih Sayang dan Kepercayaan
Suku Maori: Salah Satu Suku Tercantik di Dunia yang Kaya Warisan Budaya
Suku Sakai Terancam Kehilangan Hutan Adat dan Tergeser dari Tanah Leluhur Mereka

Read Also

Si Penyulap Buah Pahit Jadi Camilan Renyah

Glasial.id ||| Bayangkan, seseorang menyodorkan sepiring camilan berwarna hijau keemasan, renyah, dan harum....

Filosofi dalam Rasa di Balik Sambal Empat Sungai

Sambal Empat Sungai bukan sekadar produk olahan dari cabai semata. Ada makna “kebangkitan...

Pria Asal Berlin Ubah Kemacetan Jakarta Jadi Board Game yang Seru

Board Game Jakarta Traffic karya Simon Schmieder ubah kemacetan ibu kota jadi pengalaman...