“Mesin Uang” Itu Bernama Melon Golden Alisha

Setelah berhasil menemukan formulasi rasa manis yang sempurna, produksi Melon Golden Alisha dibanjiri permintaan pasar. Bahkan, pesanan dari mal dan swalayan tidak mampu ia penuhi seorang diri.

"Mesin Uang" Itu Bernama Melon Golden Alisha
Kebun Melon Golden Alisha | Foto: Istimewa.

Sore itu, 21 Juli 2026, matahari menyinari lahan seluas 1.200 meter persegi di dekat Stasiun Pengumpul Minyak SP-7, Aceh Tamiang, tempat Chaidir Saleh mengawasi dua perempuan muda yang tengah menggemburkan tanah di polybag.

Ratusan batang Melon Golden Alisha menggantung di antara jalur tanam rapat selebar 1,5 meter, menjadi saksi bisu bagaimana seorang pensiunan berusia 62 tahun mengubah kegagalan bertani menjadi mesin ekonomi yang kini menggerakkan belasan petani milenial.

Chaidir Saleh membuktikan bahwa inovasi teknik tanam polybag hingga 22 kali pakai dan formula rahasia rasa manis mampu menekan biaya produksi menjadi hanya Rp400 per siklus per polybag.

Melalui Program Smart Agriculture Melonesia yang digagas Pertamina EP Field Rantau, pengetahuan ini ditransfer kepada petani muda agar Melon Golden Alisha menjelma sebagai komoditas premium yang memperkuat ekonomi desa sekaligus menciptakan regenerasi petani di Aceh Tamiang.

Perjalanan Chaidir dimulai tujuh tahun lalu dengan empat kali kegagalan yang nyaris mematahkan semangatnya. Ia terus belajar secara otodidak hingga akhirnya pada tahun 2020 berhasil panen, meskipun buah melon pertamanya masih terasa hambar di lidah.

Kendati rasa belum sempurna, Chaidir tetap bersyukur karena setidaknya ia berhasil membawa tanaman hingga panen. Ia kemudian menjual hasil panennya ke agen dengan harga di bawah pasar sambil terus mencari tahu rahasia di balik manisnya melon premium.

Observasi panjang membawanya pada kesimpulan bahwa masa panen harus diperpanjang dari 55 hari menjadi 60 hingga 70 hari. Perawatan dan pemupukan yang tepat sejak fase vegetatif juga menjadi kunci yang tidak bisa ditawar.

“Tujuan memangkas daun dan ruas batang agar dapat melihat buah dengan lebih baik, tahu jumlah dan bentuknya,” ujar Chaidir saat memberikan arahan kepada sejumlah anak muda di kebunnya.

Setelah berhasil menemukan formulasi rasa manis yang sempurna, produksi Melon Golden Alisha milik Chaidir langsung menanjak. Permintaan membanjir lewat media sosial, bahkan pesanan dari mal dan swalayan tidak mampu ia penuhi seorang diri.

Namun, Desember 2024 menjadi titik gelap ketika Chaidir terserang stroke ringan dan harus menggunakan kursi roda. Aktivitas pertaniannya sempat terhenti total sebelum Pertamina EP Field Rantau berinisiatif meneruskan usahanya lewat Program Smart Agriculture Melonesia.

Kini, Chaidir diminta menjadi mentor bagi Kelompok Tani Melon Mutiara dan Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau. Belasan petani milenial belajar langsung darinya tentang formula rasa manis melon serta inovasi teknik pengelolaan media tanam polybag yang bisa digunakan hingga 22 kali masa tanam.

Dengan biaya media tanam sekitar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang membuat biaya per siklus budidaya hanya berkisar Rp400 hingga Rp500. Efisiensi ini jauh melampaui praktik konvensional yang umumnya hanya mampu memanfaatkan media tanam dua hingga empat kali.

Manager Community Involvement & Development Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa Sekolah Lapang merupakan bagian dari upaya mendorong regenerasi petani. “Bapak Chaidir Saleh punya pengalaman panjang menjadi petani sehingga akan memberikan materi formula budidaya melon,” ujarnya.

Program ini dirancang dalam 12 kali pertemuan yang sepenuhnya dimentori oleh Chaidir. Generasi muda di desa diyakini akan menentukan masa depan sektor pertanian, sehingga kemampuan sumber daya mereka perlu disiapkan untuk menjawab tantangan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.

Iwan menegaskan bahwa program ini bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan. “Kami ingin melon golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang,” ungkapnya.

Lahan seluas tiga rante milik Chaidir kini menjadi laboratorium hidup yang membuktikan bahwa pertanian presisi dengan biaya rendah mampu menghasilkan komoditas bernilai jual tinggi. Jarak tanam rapat dan jalur antar baris selebar 1,5 meter memungkinkan pemanfaatan lahan optimal tanpa mengorbankan kualitas buah.

Varietas Melon Golden Alisha F1 yang dipilih Chaidir tahan terhadap penyakit dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Dari hasil panen, ia mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi.

Dampak ekonomi dari program ini mulai dirasakan oleh para petani milenial yang mengikuti Sekolah Lapang. Mereka tidak hanya mewarisi teknik budidaya, tetapi juga mengadopsi pola pikir bahwa bertani adalah bisnis yang menjanjikan jika dikelola dengan pengetahuan dan ketekunan.

PT Pertamina EP Field Rantau merupakan salah satu wilayah kerja di bawah Pertamina Hulu Rokan Zona 1 yang menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Provinsi Aceh.

Program Pengembangan Masyarakat yang inovatif ini mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan tanggap bencana untuk mendukung pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Penulis: Fadly Ibrahim

ARTIKEL TERKAIT

Potensi Ekonomi Mikroalga Spirulina yang Diproyeksi Tumbuh 10,5 Persen
Pasokan Listrik Lapangan Libo Meningkat, Produksi Migas Zona Rokan Terjaga
Prospek Bisnis Gas Sumatera Kian Menjanjikan, PGN Genjot Integrasi Jaringan Transmisi
Riau dan Jatim Bersalaman, Saling Perkuat Posisi Dagang

Read Also

Potensi Ekonomi Mikroalga Spirulina yang Diproyeksi Tumbuh 10,5 Persen

Spirulina, mikroalga dengan kandungan protein 65 persen, diproyeksikan mengalami pertumbuhan pasar global sebesar...

Pasokan Listrik Lapangan Libo Meningkat, Produksi Migas Zona Rokan Terjaga

PT Pertamina Hulu Rokan memperkuat pasokan listrik di Lapangan Libo, Kabupaten Siak, Riau,...

Prospek Bisnis Gas Sumatera Kian Menjanjikan, PGN Genjot Integrasi Jaringan Transmisi

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk menunjukkan prospek bisnis gas Sumatera yang semakin...