Australia Siap Pimpin Ekspor Energi Bersih

Australia bersiap beralih dari ekspor bahan bakar fosil ke ekspor energi bersih, dipimpin Menteri Chris Bowen menjelang COP31 di Turki.

Australia Siap Pimpin Ekspor Energi Bersih
Panel surya merupakan salah satu energi bersih yang kini dipakai di banyak negara | Foto: Ilustrasi.

Australia ancang-ancang memperkuat posisinya sebagai eksportir ekspor energi bersih global, seiring meningkatnya tekanan internasional untuk meninggalkan bahan bakar fosil dan mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, dalam sebuah konferensi iklim di Bonn, Jerman. Bowen yang juga akan memimpin negosiasi iklim PBB pada KTT COP31 menegaskan bahwa Australia siap mengelola peralihan tersebut.

Bowen menyebut Australia telah memimpin dorongan global untuk beralih dari bahan bakar fosil, didukung pertumbuhan pesat energi terbarukan dan baterai di jaringan listrik domestiknya. Ia menekankan bahwa lebih dari 80 persen mitra dagang Australia telah berkomitmen pada target nol emisi bersih.

“Dunia sedang berubah. Kita bisa berpura-pura bahwa itu tidak terjadi, atau kita bisa bersiap,” kata Bowen dalam wawancara di sela konferensi tersebut.

Australia dikenal sebagai salah satu pengekspor batu bara dan gas terbesar di dunia. Namun Bowen mengakui bahwa bahan bakar fosil dan produk berkarbon tinggi akan menghadapi pasar yang kian menyusut ke depannya.

Pemerintahan Partai Buruh pimpinan Anthony Albanese memang masih menyetujui lebih dari 30 pengembangan dan perluasan proyek bahan bakar fosil sejak terpilih pada 2022. Kendati demikian, Bowen menegaskan bahwa Australia memiliki potensi besar untuk bertransisi ke sektor ekspor energi bersih.

“Rekam jejak kita dalam hal energi terbarukan cukup kuat sekarang. Australia dapat berperan dalam dekarbonisasi banyak negara,” ujar Bowen. “Jika kita melihat peran kita sebagai negara adidaya energi terbarukan potensial, kita dapat memainkan peran yang jauh lebih besar dalam mengurangi emisi secara internasional.”

Bowen menambahkan, Australia memiliki keunggulan ganda yang tidak dimiliki semua negara. “Ya, kami adalah pengekspor bahan bakar fosil yang besar. Tetapi kami juga memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan — kami diberkati dalam hal itu,” katanya.

Di level domestik, Australia sudah menjadi pemimpin dalam energi surya rumah tangga dan baterai. Lebih dari satu dari tiga rumah telah memasang panel surya di atap, sementara lebih dari 400.000 baterai kecil terpasang sejak program subsidi pemerintah bergulir pada Juli lalu.

Perkembangan ini mulai menekan permintaan listrik berbasis gas yang mahal dan secara bertahap menurunkan tagihan listrik masyarakat. Pencapaian tersebut memperkuat argumen Australia sebagai kandidat kuat eksportir energi bersih masa depan.

Bowen menguraikan berbagai peluang ekspor energi bersih yang bisa digarap Australia, mulai dari hidrogen hijau, transmisi elektron melalui kabel bawah laut, hingga produk berbasis energi terbarukan. Ia bahkan menyebut potensi ekspor gigabyte hijau dan kecerdasan buatan (AI) berbasis energi bersih ke negara-negara yang tidak memiliki kapasitas produksi sendiri.

“Anda dapat memiliki pusat data di Australia dan mengekspor AI ke negara-negara yang mungkin tidak bisa melakukannya sendiri,” ujar Bowen. “Kami akan bekerja sama dengan mitra dagang dan juga akan menjadi pemasok energi andal saat kami bersama-sama mengembangkan energi baru.”

Pembicaraan di Bonn ini berlangsung di tengah tekanan politik dalam negeri yang kian keras terhadap kebijakan iklim Australia. Partai One Nation yang menyangkal realitas perubahan iklim meraih 6 persen suara dalam pemilu federal tahun lalu, namun kini melonjak ke kisaran 30 persen dukungan dalam jajak pendapat terbaru.

Pada KTT COP31 di Turki bulan November mendatang, Bowen akan memimpin negosiasi formal, sementara Menteri Lingkungan Hidup Turki, Murat Kurum, bertugas sebagai tuan rumah bersama yang mengelola agenda aksi iklim. Kurum menyebut elektrifikasi sebagai instrumen paling krusial dalam memerangi krisis iklim global.

“Kecuali kita melakukan transformasi ini, kita tidak akan mampu mencapai target membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius,” tegas Kurum.

Sumber: The Guardian | Editor: Fadly Ibrahim

ARTIKEL TERKAIT

STUDI – Krisis Iklim Picu Lonjakan Banjir dan Kekeringan Ekstrem
Orangutan Tapanuli Kehilangan 7% Populasi Akibat Hujan Ekstrem
CISEM II Resmi Menyala, PGN Group Perkuat Jaringan Gas Bumi Nasional dari Timur ke Barat
Embun Upas Ubah Pemandangan Gunung Bromo Seperti Bersalju

Read Also

STUDI – Krisis Iklim Picu Lonjakan Banjir dan Kekeringan Ekstrem

Suhu bumi yang terus meningkat akibat dampak krisis iklim memicu fenomena baru bernama...

“Halaman Rumah Saya Jadi Kebun Buah Tin”

Oleh: Fadly Ibrahim | Penulis tamu untuk Glasial.id Budidaya buah tin di pekarangan...

Orangutan Tapanuli Kehilangan 7% Populasi Akibat Hujan Ekstrem

Sebanyak 58 orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dilaporkan mati akibat curah hujan ekstrem dan...