Gadget dan Lingkungan, Seberapa Ramah Ponsel yang Kita Pakai?

Limbah elektronik global mencapai 65 juta ton pada 2017, cukup untuk mengubur San Francisco sedalam empat meter.

Gadget dan Lingkungan, Seberapa Ramah Ponsel yang Kita Pakai?
Foto: Ilustrasi

Gadget dan lingkungan terikat dalam rantai pasok yang menyumbang 80% polusi karbon sebelum perangkat dinyalakan. Evaluasi terhadap 17 produsen menunjukkan rata-rata nilai D+ dengan Fairphone meraih B tertinggi.

Untuk mendapatkan 100 gram mineral dalam ponsel, penambang harus menggali lebih dari 340 bebatuan. Limbah elektronik global mencapai 65 juta ton pada 2017, cukup untuk mengubur San Francisco sedalam empat meter.

Gary Cook dalam artikel ulasannya di laman resmi Greenpeace, menjelaskan bahwa, sektor TI bertanggung jawab atas 7-12% permintaan listrik global dan terus bertambah cepat. Transisi ke energi terbarukan menjadi area kritis pertama dalam evaluasi keberlanjutan.

Apple menjadi satu-satunya perusahaan yang berkomitmen menggunakan 100% energi terbarukan di seluruh rantai pasoknya. Samsung, Huawei, dan Amazon bahkan tidak mempublikasikan data emisi gas rumah kaca dari rantai pasok mereka.

Area kritis kedua adalah pengurangan konsumsi sumber daya yang mendorong model perangkat tahan lama. Fairphone, Dell, dan HP memimpin dengan desain produk yang mudah diperbaiki dan menggunakan bahan daur ulang.

Gary menjelaskan, Samsung, Apple, dan Microsoft justru berada di arah sebaliknya dengan strategi yang masih bergantung pada siklus penggantian cepat. Siklus ini memperparah tumpukan limbah elektronik global setiap tahun.

Eliminasi bahan kimia berbahaya menjadi fokus ketiga, melanjutkan kampanye yang dimulai sejak 2007. Apple menunjukkan kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir pada area ini.

Samsung dan beberapa perusahaan lain belum merealisasikan komitmen penghapusan PVC dan BFR yang dibuat pada 2009/2010. Bahan kimia penyebab kanker dan pengganggu hormon masih digunakan dalam proses manufaktur.

Secara keseluruhan, perjalanan menuju perangkat berkelanjutan masih sangat panjang. Kebanyakan perusahaan belum mengubah model bisnis “ambil-pakai-buang” secara fundamental.

Fairphone layak diapresiasi dengan nilai B atas komitmen kuat pada perangkat yang bisa diperbaiki dan di-upgrade. Perusahaan ini membuktikan bahwa desain modular dan berkelanjutan layak secara bisnis.

Perusahaan teknologi harus merespons tekanan publik yang semakin sadar akan jejak lingkungan. Tanggung jawab atas emisi, limbah, dan bahan kimia tidak bisa lagi diabaikan dalam laporan keberlanjutan.

“Transformasi dari model take-make-waste menuju sirkularitas membutuhkan perubahan radikal dalam desain produk. Konsumen membutuhkan perangkat yang lebih awet, bukan sekadar lebih tipis dan beresolusi tinggi,” jelasnya dalam ulasan itu.

Penulis: Fadly Ibrahim

ARTIKEL TERKAIT

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?
Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair
Kisah Jalak Bali dalam Perlindungan Si Pemburu
ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Read Also

WALHI: 74 Persen Hotspot di Kalimantan Ada di Konsesi Perusahaan, Bagaimana di Riau?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkapkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali...

Glasial, Arsip Iklim Bumi yang Mulai Mencair

Coba sama-sama kita bayangkan, di suatu pagi, kita berdiri di tepi sebuah glasial...

ULASAN — Deforestasi di Indonesia Melonjak Hingga 66%, Terparah dalam Satu Dekade?

Deforestasi (kerusakan hutan) di Indonesia mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025, atau melonjak 66%...