Perjanjian Antartika akan membahas masa depan riset ilmiah dan konservasi lingkungan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Glasial.id ||| Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antartika diprediksi akan diwarnai diskusi panas soal masa depan penelitian ilmiah dan pelestarian lingkungan di Benua Es.
Satoshi Imura, Wakil Direktur Jenderal Institut Penelitian Kutub Nasional (NIPR) Jepang sekaligus anggota delegasi pemerintah Jepang, menegaskan komitmennya mendorong pembicaraan produktif dalam wawancara dengan The Yomiuri Shimbun.
“Antartika adalah wilayah tanpa batas dan surga bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Imura, seperti dikutip dari The Yomiuri Shimbun. Ia berharap pertemuan ini menghasilkan diskusi mendalam agar penelitian ilmiah di sana tetap berjalan lancar.
Perjanjian Antartika yang berlaku sejak 1961 mewajibkan pembekuan klaim teritorial, kebebasan riset ilmiah, dan kerja sama internasional antarnegara. Namun, pertemuan kali ini akan mempertemukan negara-negara yang tengah bersitegang, termasuk Amerika Serikat dengan Tiongkok, serta Rusia dengan Ukraina.
Imura memperingatkan pertemuan ini bisa “menyimpang dari semangat fundamental perjanjian” jika hanya mencerminkan ketegangan global. Ia menegaskan pentingnya dialog konstruktif demi menjaga Antartika sebagai “warisan bersama umat manusia.”
Salah satu agenda mendesak dalam Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antartika adalah lonjakan jumlah wisatawan yang kini mencapai sekitar 120.000 orang per tahun pada musim November 2024 hingga Maret 2025.

Imura menekankan perlunya pembahasan serius soal penanganan kecelakaan dan dampak lingkungan dari arus wisata yang terus meningkat ini.
Risiko kecelakaan melibatkan kapal pesiar dan pesawat kian besar seiring bertambahnya aktivitas di kawasan tersebut. Tumpahan minyak, misalnya, bisa menimbulkan kerusakan parah karena bakteri pengurai minyak tidak aktif di suhu dingin, sehingga kontaminasi bisa bertahan bertahun-tahun.
Selain itu, jejak kaki dari ribuan wisatawan yang mendarat di benua ini juga berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan. Ini menjadi perhatian serius para ilmuwan dan delegasi yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Di sisi lain, perubahan iklim turut memberikan tekanan nyata pada kondisi Antartika. Meski kenaikan suhu di Stasiun Showa milik Jepang terbilang kecil, penilaian menyeluruh atas seluruh benua menunjukkan tren pemanasan yang tidak bisa diabaikan.
Es mencair semakin cepat, dan lebih banyak tanaman kini tumbuh di Semenanjung Antartika bagian barat yang suhunya relatif lebih hangat. Dampak perubahan iklim di kawasan ini, kata Imura, sudah sangat jelas terlihat.
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga mulai merembes ke ranah penelitian Antartika. Ukraina secara terbuka mengecam agresi Rusia dengan menyebut konflik tersebut berdampak negatif pada kegiatan observasi di Antartika, padahal keduanya adalah pihak konsultatif dalam perjanjian ini.
Imura menyebut gesekan itu bertentangan dengan semangat dasar perjanjian yang mengedepankan perdamaian dan kerja sama. Ia berharap pertemuan ini tetap menjadi forum ilmiah, bukan ajang perpanjangan konflik geopolitik.
Isu perlindungan penguin kaisar juga kembali masuk agenda, meski prospeknya belum cerah. Tiongkok dan Rusia secara konsisten menolak penetapan penguin kaisar sebagai spesies yang dilindungi secara khusus berdasarkan Protokol Perlindungan Lingkungan Perjanjian Antartika, dan kemungkinan besar sikap itu tidak akan berubah kali ini.
Kedua negara juga menunjukkan kehati-hatian dalam penetapan kawasan lindung laut di sekitar Antartika. Mereka khawatir langkah itu akan memicu pembatasan berlebihan atas pemanfaatan Antartika dan perairan di sekitarnya.
Tahun ini menandai 70 tahun perjalanan penelitian Antartika oleh Jepang sejak dimulai pada 1956, dengan sejumlah pencapaian monumental. Salah satu yang paling bersejarah adalah penemuan lubang di lapisan ozon melalui akumulasi data observasi jangka panjang di kawasan ini.
Peringatan dini dari Jepang soal penipisan ozon itu mendorong komunitas internasional bertindak dan akhirnya membatasi produksi klorofluorokarbon perusak ozon — sebuah warisan ilmiah nyata dari komitmen terhadap Perjanjian Antartika.
Jepang juga menorehkan prestasi gemilang dalam pengumpulan meteorit dan penelitian inti es dari hasil pengeboran jauh ke dalam lapisan es Antartika.






