“Halaman Rumah Saya Jadi Kebun Buah Tin”

Budidaya buah tin di pekarangan rumah kian populer. Petani asal Pekanbaru berbagi metode, media tanam, hingga peluang bisnis buah tin di Riau.

Kebun Buah Tin
Imron, pemilik green house Kebon Tin Pekanbaru | Foto: Fadly Ibrahim.

Oleh: Fadly Ibrahim | Penulis tamu untuk Glasial.id

Budidaya buah tin di pekarangan rumah ternyata bukan sekadar hobi, melainkan peluang bisnis yang jarang dilirik banyak orang. Imron, pemilik Green House Kebon Tin Pekanbaru di wilayah Rumbai, Riau, membuktikannya dengan berhasil memasok buah tin segar ke sejumlah supermarket di Pekanbaru dan wilayah Sumatera Utara.

Imron mulai mengenal buah tin sejak 2014 melalui komunitas petani di media sosial, mulai dari paguyuban hingga grup budidaya buah tin. Usaha budidaya ini baru ia jalankan secara serius sekitar tahun 2018–2019, setelah melihat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap buah tin segar yang kala itu masih sangat sulit ditemukan.

Perjalanannya, tentu saja tidak mulus. Saat pindah dari Duri ke Pekanbaru, puluhan tanaman tin yang ia bawa terserang hama penggerek batang dan seluruhnya mati. “Saya belum punya pengalaman yang cukup tentang tanaman tin ketika itu,” ujarnya.

Tidak putus asa, Imron kembali membeli bibit dan membiakkan bibit-bibit tin yang baru di halaman rumahnya. “Beginilah. Saya bisa menyulap halaman rumah ini menjadi kebun tin,” katanya sambil tertawa. Ia, lalu mendaftarkan green house itu di Google Maps dengan nama “Kebon Tin Pekanbaru.”

Respons masyarakat ternyata luar biasa, banyak yang menghubunginya karena memang buah tin segar sangat sulit didapatkan di pasar lokal.

“Orang Jawa memiliki ungkapan ‘alon-alon waton kelakon’, artinya pelan-pelan asalkan terlaksana. Dari jumlah tanaman yang awalnya sedikit, lambat laun berkembang hingga saat ini. Alhamdulillah, kini kami sudah dapat memasok buah tin ke beberapa supermarket di Pekanbaru maupun wilayah Sumatera Utara.”

Dalam budidaya buah tin di pekarangan rumah, Imron menjelaskan ada tiga metode perbanyakan tanaman yang bisa dipilih, yakni cangkok, stek, dan sambung pucuk atau grafting.

Metode sambung pucuk biasanya menggunakan batang bawah dari varietas umum dan batang atas dari varietas langka atau bernilai tinggi, sehingga cocok untuk memperbanyak varietas unggul lebih cepat.

Kunci keberhasilan budidaya ini terletak pada media tanam. Imron sangat menyarankan penggunaan sekam dalam porsi dominan, dicampur tanah hitam dan kotoran hewan yang telah difermentasi, agar media tetap gembur, porous, dan tidak memadat saat disiram.

“Tanaman tin juga tidak boleh terlalu basah atau terlalu kering. Jika kelebihan air, akar akan membusuk dan tanaman layu; sebaliknya, jika kekurangan air, daun akan mengering dan tanaman bisa mati,” jelasnya.

Salah satu tantangan budidaya buah tin di Pekanbaru adalah sulitnya mendapatkan sekam karena kota ini minim area persawahan. Imron harus mencarinya hingga ke Bangkinang atau Kampar — daerah yang bertetangga dengan Kota Pekanbaru. Ia juga tidak merekomendasikan penggantian media tanam berupa serbuk gergaji karena justru dapat memicu pertumbuhan jamur.

Budidaya pohon buah tin
Buah tin segar hasil panen di green house Kebon Tin Pekanbaru | Foto: Fadly Ibrahim.

Pada musim hujan, pertumbuhan jamur meningkat dan pH media tanam cenderung turun. Untuk mengatasinya, Imron menggunakan dolomit guna menetralkan pH agar akar tanaman tetap optimal menyerap unsur hara.

Buah tin berasal dari keluarga Ficus. Ini bukan tanaman asli Indonesia. Imron meyakini keistimewaan buah ini tidak hanya dari sisi ilmiah, tapi juga spiritual, mengingat buah tin disebut secara khusus dalam Al-Qur’an pada Surat At-Tin.

Dari sisi bisnis, harga bibit buah tin dijual mulai Rp50.000 (tergantung ukuran dan usia tanam). Sementara tanaman yang sudah berbuah atau berusia lebih tua dihargai lebih tinggi sesuai kondisi fisiknya. 

“Saya masih mengandalkan pemasaran lewat media sosial dan rekomendasi mulut ke mulut dari pelanggan yang telah merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Imron melihat peluang budidaya buah tin di Riau masih sangat terbuka lebar karena jumlah petaninya masih sedikit dan masyarakat masih banyak yang penasaran. Ia berharap ke depan semakin banyak orang yang mengenal dan merasakan manfaat buah tin, bukan sekadar membelinya sebagai komoditas.

Media tanam dan bibit pohon tin siap tanam | Foto: Fadly Ibrahim.

Read Also

Australia Siap Pimpin Ekspor Energi Bersih

Australia ancang-ancang memperkuat posisinya sebagai eksportir ekspor energi bersih global, seiring meningkatnya tekanan...

Dolar Naik, Rupiah Tergerus, “Fondasi Rumah Kita Sedang Banyak Rayap”

Oleh: Fadly Ibrahim | Penulis tamu untuk Glasial.id Dolar naik menembus angka psikologis...

Purbaya Sebut APBN Masih Terkedali Meski Defisit hingga Rp180 Triliun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, defisit APBN hingga 31 Mei 2026 tercatat...