Telur Ayam Kampung Setengah Matang, Iiih… Sehat Nggak?

Telur Ayam Kampung Setengah Matang, Iiih… Sehat Nggak?
Telur ayam kampung setengah matang || Foto: Dok. Glasial.id.
A-AA+A++

Oleh: Natasya
Penulis tamu untuk Glasial.id


“Telur ayam kampung setengah matang satu, Bang…” Kalimat ini sering kita dengar, di kedai sarapan pagi, misalnya. Banyak orang sependapat kalau rasa telur ayam kampung setengah matang itu lezat, lebih krimi, lumer, rasa khasanya lebih alami.

Tak sedikit juga yang percaya, mengonsumsi telur ayam kampung setengah matang itu bagus untuk stamina. Ia dianggap punya manfaat kesehatan lebih tinggi dibanding telur matang sempurna.

Cara mengonsumsinya juga beragam. Ada yang dicampur dengan jamu, ada juga langsung diseruput. Menu ini acap jadi menu pendamping sarapan pagi karena lebih praktis.

Namun di balik popularitasnya, apakah benar telur ayam kampung setengah matang itu sehat? atau justru berisiko bagi tubuh?

Telur setengah matang adalah telur yang dimasak tanpa benar-benar matang sempurna. Banyak orang memilih mengonsumsinya karena percaya telur dalam kondisi ini menyimpan manfaat gizi yang lebih baik.

Padahal, pada dasarnya telur — baik matang maupun setengah matang — sama-sama kaya nutrisi penting bagi tubuh, mulai dari protein, mineral, hingga berbagai vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.

Dilansir dari laman Alodokter, terkait soal kandungan gizi, cara memasak telur memang berpengaruh. Memasak telur dengan suhu terlalu tinggi bisa mengurangi beberapa nutrisi seperti vitamin A, vitamin B5, fosfor, dan kalium.

Karena alasan itu, sebagian orang menganggap telur setengah matang lebih sehat. Selain itu, telur setengah matang juga sering dipercaya mengandung antioksidan yang baik bagi tubuh.

Namun ada hal penting yang sering luput diperhatikan. Protein dalam telur justru tidak terserap maksimal jika telur tidak dimasak hingga matang. Artinya, tubuh bisa mendapatkan manfaat protein lebih optimal dari telur yang dimasak sempurna dibanding telur yang masih setengah matang.

Risiko lain yang perlu diketahui adalah potensi kontaminasi bakteri Salmonella. Mengonsumsi telur setengah matang yang terkontaminasi bakteri ini dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, hingga nyeri perut. Karena itu, konsumsi telur setengah matang tidak dianjurkan bagi ibu hamil, anak-anak, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Jika tetap ingin mengonsumsi telur setengah matang, pastikan telur yang digunakan berasal dari telur yang sudah melalui proses pasteurisasi untuk menekan risiko bakteri.

Meski begitu, perlu diingat bahwa manfaat gizi antara telur matang dan setengah matang sebenarnya tidak jauh berbeda, sementara risiko kesehatan pada telur setengah matang cenderung lebih tinggi.

Karena itu, penting mempertimbangkan manfaat dan potensi dampaknya sebelum menjadikannya kebiasaan konsumsi harian.***


Ada banyak artikel menarik lainnya di
ETALASE