Eksplorasi Bulan dianggap lebih realistis dibanding asteroid sebagai tahap awal infrastruktur sebelum misi jangka panjang menuju Mars.
Glasial.id ||| Eksplorasi Bulan kini menjadi fokus utama strategi misi antariksa global sebagai tahap awal pembangunan infrastruktur sebelum manusia melangkah lebih jauh menuju Mars. Kajian terbaru menunjukkan bahwa pola investasi global sangat menentukan arah riset dan inovasi teknologi antariksa ke depan.
Hal ini mengemuka dalam Kolokium Series 5 bertema: Penerapan Model Based System Engineering (MBSE) pada Proyek Ruang Angkasa, yang digelar secara hybrid di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, pada 12 Mei 2026. Forum ini mempertemukan para peneliti dan praktisi untuk mendiskusikan masa depan teknologi antariksa.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eriko Nasemudin Nasser, mengatakan Bulan menyimpan beragam sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk misi jangka panjang.
“Bulan lebih realistis untuk dieksplorasi dan dikembangkan karena memiliki berbagai sumber daya, seperti oksigen, aluminium, silikon, ilmenit, dan unsur tanah jarang, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan dasar misi jangka panjang, termasuk air, oksigen, dan bahan bakar roket,” terang Eriko.
Ia menyebut betapa pentingnya systems engineering untuk mengintegrasikan seluruh komponen misi sekaligus menyeimbangkan performa, risiko, jadwal, dan anggaran. Ia mencontohkan rover penambang di Bulan yang dirancang dari berbagai subsistem seperti roda, navigasi, komunikasi, serta perlindungan terhadap suhu ekstrem dan radiasi agar seluruh komponen bekerja secara optimal.
Dibandingkan eksplorasi asteroid, eksplorasi Bulan dinilai jauh lebih realistis dan efisien dari sisi biaya maupun teknologi. Eriko menjelaskan, eksplorasi asteroid menghadapi tantangan besar mulai dari biaya tinggi hingga paparan radiasi di luar perlindungan medan magnet Bumi yang membutuhkan komponen elektronik berketahanan sangat tinggi.
“Komponen elektronik umum hanya mampu bertahan pada 5 hingga 20 kilorad, sedangkan misi antariksa memerlukan ketahanan yang jauh lebih tinggi,” jelasnya. Perbedaan spesifikasi teknis inilah yang membuat pengembangan misi asteroid jauh lebih mahal dan kompleks.
Soal biaya, Eriko mencontohkan misi OSIRIS-REx milik NASA yang menghabiskan sekitar USD 1,1 miliar hanya untuk pengambilan sampel asteroid Bennu. Angka fantastis itu turut menjadi alasan mengapa perusahaan rintisan di bidang asteroid mining berhenti beroperasi sejak 2018 dan fokus industri pun bergeser ke pemanfaatan sumber daya di Bulan.
Untuk membaca arah perkembangan teknologi antariksa, Eriko memperkenalkan pendekatan hype cycle. Konsep ini menggambarkan tahapan perkembangan suatu teknologi, mulai dari kemunculan, lonjakan popularitas, hingga fase produktif, dan bisa diterapkan di berbagai industri, tidak hanya antariksa.
“Dasarnya adalah ke mana investor menginvestasikan dananya. Ketika investasi bergerak, arah riset ikut mengikuti,” ujar Eriko. Pernyataan ini menegaskan bahwa dinamika pasar modal global sesungguhnya turut membentuk peta teknologi antariksa masa depan.
Sejumlah teknologi antariksa masih berada di tahap awal pengembangan, seperti space elevator, in-space recycling, dan in-space construction yang belum menemukan momentum investasi besar. Sementara itu, teknologi observasi bumi seperti optical observation dan synthetic aperture radar (SAR) diperkirakan akan mencapai fase produktif dalam dua hingga lima tahun ke depan.
“Jika dilihat dari kurva hype cycle, beberapa teknologi observasi bumi sudah mendekati fase produktif,” kata Eriko. Tren ini membuka peluang besar bagi negara-negara yang sedang mengembangkan kapasitas satelit observasi, termasuk Indonesia.
Berbeda dengan observasi bumi, asteroid mining justru mengalami penurunan minat sebelum sempat berkembang optimal. Teknologi ini sempat menarik banyak perhatian karena potensi ekonominya yang luar biasa besar, bahkan sejumlah perusahaan rintisan pernah menyusun basis data asteroid lengkap dengan estimasi nilai berdasarkan ukuran dan kandungan materialnya.
“Setiap asteroid diberi valuasi, mulai dari miliaran hingga triliunan dolar Amerika Serikat, tergantung pada komposisi materialnya, seperti air, hidrogen, logam, besi, dan nikel,” ungkap Eriko. Namun tingginya risiko dan biaya misi membuat minat investor akhirnya surut sebelum teknologi ini sempat dibuktikan secara komersial.
Salah satu misi asteroid yang banyak dikaji adalah Hayabusa2 milik badan antariksa Jepang (JAXA) yang menyasar asteroid Ryugu pada periode 2014–2020. Eriko menjelaskan bahwa misi tersebut hanya melakukan pengambilan sampel dalam hitungan detik, sebuah gambaran nyata betapa rumit dan mahalnya operasi di luar orbit Bumi.
Melihat keseluruhan perkembangan ini, eksplorasi Bulan tetap menjadi pilihan paling rasional dan strategis dalam peta besar misi antariksa global saat ini. Dengan sumber daya yang tersedia dan teknologi yang semakin matang, Bulan bukan lagi sekadar objek pengamatan, melainkan batu loncatan nyata menuju ambisi manusia menjelajahi tata surya.
||| Sumber: BRIN ||| Editor: Fadly Ibrahim





